Ahli Fiqih Islam: Rekontekstualisasi Tidak Memenuhi Kriteria Ijtihad


TintaSiyasi.com-- Ahli Fiqih Islam K.H. Shiddiq Al Jawi menilai bahwa rekontekstualisasi tidak memenuhi kriteria ijtihad.

"Jadi, saya melihat apa yang sekarang itu dilakukan, yang disebut dengan rekontekstualisasi atau reaktualisasi itu tidak memenuhi kriteria ijtihad," ungkapnya dalam Fokus Live: Kontekstualisasi Fiqih, Adakah? di YouTube UIY Official, Ahad (31/10/21).

Ia menjelaskan, tidak boleh ada ijtihad kalau ada nash. Kemudian ia membacakan kaidah fiqih, "Laa ijtihada fimauridinnash."

Ia menerangkan, jika diterapkan pada pemahaman Pak Munawir Sjadzali sekitar tahun 1980-an, sebenarnya pembagian warisan antara laki-laki dan perempuan sudah diterangkan di dalam Al-Qur'an untuk laki-laki bagiannya dua kali daripada perempuan.

"Itu sudah ada nashnya lo, kok, kenapa melakukan ijtihad?" tanyanya.

Ia melanjutkan, kemudian 'hasil ijtihad' yang awalnya dua berbanding satu berubah menjadi satu berbanding satu dengan alasan perempuan sekarang sudah bekerja dan berbagai alasan lainnya.

"Sekarang pertanyaannya, apakah itu memenuhi kriteria ijtihad? Jawabannya tidak. Karena ijtihadnya itu berada pada ranah yang sebenarnya sudah ada nashnya," lanjutnya.

Ia mencontohkan, Menteri Agama yang mengatakan bahwa khilafah itu adalah sumber bencana.

"Kalau, misalkan itu ijtihad baru. Itu berarti ijtihad yang menolak wajibnya khilafah," katanya.

Ia menerangkan, kewajiban adanya khilafah sudah ada di dalam nash Al-Qur'an, dari hadis kemudian i'jma sahabat dan juga kaidah-kaidah syar'iyah yang menerangkan wajibnya khilafah.

"Kok ini ada 'ijtihad', sementara nasnya itu ada? Ini ijtihad model apa?," pungkasnya.[] Isty da'iyah

Posting Komentar

0 Komentar