Ustaz Muhibuddin: Penguasa Paling Dibenci Allah Adalah yang Tidak Menerapkan Hukum-Nya


TintaSiyasi.com-- Pengasuh Majelis Halawatul Iman Bogor Ustaz Muhibuddin, S.H.I. mengatakan, tanda penguasa paling dibenci Allah SWT adalah yang tidak menerapkan hukum-Nya.

"Penguasa paling dibenci Allah adalah yang tidak menerapkan hukum-Nya tentu ada, jika digali secara mendalam dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah, mengisyaratkan Allah tidak menyukai penguasa model begini," tuturnya dalam Kajian Tematik: Penguasa-Penguasa yang Dibenci Allah di kanal Peradaban Islam ID, Jum'at (17/09/2021). 

"Dari penguasa yang tidak menerapkan hukum Allah atau menyelisihi hukum-Nya, tentu akan menyeret pada semuanya, seperti tidak diterapkannya hukum-hukum Allah di segala aspek. Makanya, ia ditempatkan yang paling dibenci," ujarnya.

Ia menjelaskan, bagaimana pemimpin tersebut mau disayang Allah, sedangkan ia tidak menerapkan hukum-Nya. Mestinya, tidak banyak terjadi, tapi coba lihat pemimpin negeri, jika ditanya Muslim atau bukan? Ngakunya Muslim, tapi tidak greget untuk menerapkan hukum Allah. Seperti begitulah sosok pemimpin yang dibenci Allah.
 
Ia menukil surat An-Nur ayat 63:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih."

"Nah, penguasa yang tidak menerapkan hukum Allah pasti menyelisihi hukum-Nya, dan risikonya berat, yaitu mereka akan ditimpa bencana atau azab yang pedih. Jangankan urusan yang besar seperti mengurus urusan negara, bahkan seperti menerapkan hukum kisas, hukum ekonomi Islam dan lainnya harusnya sesuai aturan Allah," paparnya.

Ia memberi contoh, Rasulullah SAW pernah menegur seorang laki-laki makan dengan tangan kiri, kemudian Rasul menyuruh makan dengan tangan kanan. Namun, laki-laki itu menjawab, tidak bisa ya Rasul." Lalu Rasulullah bertanya, "Tidak bisa?"

"Padahal, seharusnya mukmin itu ketika mendengar perintah Rasul dia akan sami'na wa atho'na terlebih dahulu. Tapi, ini malah mengemukakan uzur terlebih dulu, padahal seharusnya dicoba dulu, seandainya dia mengangkat tangan kanan mungkin tangannya malah sehat, tapi karena menolak perintah Rasul maka tangannya tidak bisa digerakkan," kisahnya.

Ia mengatakan, itu hanya contoh kecil, apalagi hal besar seperti menolak penerapan hukum Allah, pasti akan menimbulkan kerusakan atau kebinasaan. Maka, orang yang tidak menerapkan hukum Allah, ia berkhianat terhadap Allah. Mestinya penguasa yang punya kewenangan seharusnya menerapkan aturan-Nya.

"Orang-orang yang tidak menerapkan hukum Allah: pertama, disebut kafir, artinya mengingkari hukum Allah; kedua, fasik, yaitu dia beriman kepada Allah tapi mengatakan aturan Allah tidak relevan; ketiga, zalim yaitu bentuk penganiayaan dirinya terhadap Rabb-Nya," urainya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, padahal Allah SWT berfirman, "Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" Mestinya tidak ada pilihan lain bagi orang-orang beriman selain menerapkan hukum Allah," ujarnya.

"Penguasa yang sangat dibenci Allah atau yang menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya, sangat berbahaya dan resikonya terlalu berat, sehingga orang-orang yang hidup di zaman seperti itu, mereka akan ditimpa bencana terus menerus dan kerusakannya ke mana-mana," jelasnya.

Ia beralasan, hal tidak lepas dari diterapkannya sistem kapitalisme, liberalisme yang akan memunculkan musibah dan bencana alam bahkan akan ditarik keberkahannya dari langit dan bumi oleh Allah SWT," sanggahnya.

"Begitulah tabiat dan ciri para penguasa yang paling dibenci Allah, ia akan mengakibatkan kerusakan di mana-mana," pungkasnya.[] Nurmilati

Posting Komentar

0 Komentar