Ulama Tak Dihormati dalam Sistem Demokrasi

TintaSiyasi.com-- Ulama tak dihormati dalam sistem demokrasi. Bahkan dianiaya, dirampas hartanya dan disakiti raganya secara tragis. Pada September ini saja terjadi penganiayaan terhadap tiga ulama di Nusantara. Uniknya ini terjadi pada waktu yang hampir bersamaan. Tanggal 18, 20, dan 21 September 2021. Dengan lokasi yang berbeda namun memiliki kesamaan untuk menganiaya ulama dengan senjata hingga merenggut nyawa salah satu ulama yaitu ustaz Marwan.

Kronologinya, pada 18 September 2021 sekitar pukul 18.30 wib, Ustaz Marwan menjadi korban penembakan di depan rumahnya yang terletak di kecamatan Pinang, kota Tangerang. Timah panas menembus pinggang kanannya hingga menembus pinggang kirinya sampai akhirnya beliau meninggal dunia.

Disusul kemudian pada tanggal 20 September 2021, penyerangan terhadap Ustaz Chaniago saat sedang berceramah di sebuah masjid di Batam, Chaniago diserang oleh pria tak dikenal. Video penyerangan itu ramai di media sosial YouTube. Dalam video berdurasi 33 detik itu, terlihat seorang pria menggunakan kemeja kotak-kotak hijau tiba-tiba saja menghampiri Chaniago dan bersiap menerjangnya. Beruntung, tokoh agama asal Batam itu berhasil melarikan diri. Pelaku ternyata merupakan ODGJ (orang dengan gangguan jiwa). Jamaah yang ada di lokasi kejadian langsung menangkap dan mengamankan pelaku.

Keesokan harinya yaitu tanggal 21 September 2021 pukul 3 dini hari seorang Ustaz di Mustikajaya, Bekasi menjadi korban pembegalan dan pembacokan. Korban yang diketahui bernama RM Jamiludin menderita luka bacok di pinggang. Sementara itu, motor korban dibawa kabur pelaku. Kejadian berawal ketika korban yang hendak pulang ke rumahnya, dipepet oleh beberapa orang pelaku. Para tersangka meminta korban untuk menyerahkan sepeda motornya, dan mengancam dengan menodongkan celurit. Sempat melakukan perlawanan, korban akhirnya dibacok tersangka hingga melukai bagian pinggangnya. Ketika korban sudah terkapar, tersangka langsung melarikan diri sekaligus membawa sepeda motor korban. Beruntung, korban sempat diselamatkan oleh warga setempat dan dibawa ke rumah sakit. Kasus ini masih ditangani oleh Polres Bantar Gebang dan Polres Metro Bekasi.

Dari serangkaian penganiayaan terhadap ulama di negeri ini, patut dipertanyakan, mungkinkah ini hanya kebetulan atau kesengajaan yang terorganisir?

Banyak opini berkembang liar yang menduga ini adalah pertanda kebangkitan PKI. Karena peristiwa penganiayaan ulama itu terjadi di bulan September. Memang benar bangsa ini harus waspada akan kebangkitan komunisme. Karena komunisme merupakan ideologi yang tak kan pernah mati, sehingga kapan pun dia bisa bangkit kembali.

Namun fakta saat ini bangsa Indonesia berada dalam naungan demokrasi kapitalisme. Bukan demokrasi komunisme. Dalam demokrasi ulama dinegeri ini disakiti, dikriminalisasi, ceramah dibatasi, diawasi bahkan dianiaya hingga berujung mati.

Artinya selain komunisme, yang sudah terbukti dalam sejarah penganiayaan banyaknya ulama di Nusantara. Kapitalisme pun juga saat ini tak henti menzalimi ulama, masjid dan ajaran Islam kaffah.

Tiada patut bagi kaum Muslim untuk bersandar pada kapitalisme dan komunisme sebagai pengatur kehidupan mereka. Selain terbukti keduanya telah menganiaya ulama, mengkriminalisasi ajaran Islam kaffah dan juga stigma buruk akan simbol-simbol Islam. Keduanya bukan berasal dari Islam dan tidak diridhai oleh Allah SWT.

Allah SWT telah memberikan solusi bagi umat manusia agar ulama sebagai orang yang faqih dalam ilmu agama dihormati adalah dengan menggunakan Islam sebagai aturan seluruh urusan kehidupan manusia bukan demokrasi kapitalisme maupun demokrasi sosialisme-komunisme.

Ketika Islam ditegakkan tak hanya jiwa ulama yang dilindungi, bahkan seluruh umat manusia di bawah naungan negara Islam (khilafah). Negara akan menegakkan qishas bagi pelaku pembunuhan. Sehingga orang tidak mudah melakukan penganiayaan atau pembunuhan tanpa alasan yang benar terhadap sesamanya. 

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَا صُ فِى الْقَتْلٰى ۗ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu (melaksanakan) qisas berkenaan dengan orang yang dibunuh."

Sangat berkebalikan dengan fakta saat ini di mana pelaku penganiayaan ulama acapkali dinyatakan sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Heni Trinawati, S.si.
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar