Sindikat Mafia Narkoba, Islam Memiliki Paradigma Penyelesaiannya

TintaSiyasi.com-- Badan Reserse Kriminal Polri sedang menindak lanjuti  terkait adanya aliran dana Rp 120 triliun diduga berasal dari transaksi sindikat narkoba dengan melakukan investigasi bersama lembaga intelijen keuangan tersebut.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas (Karopenmas Divhumas) Polri, Brigjen Rusdi Hartono mengatakan melalui Direktorat Tindak Pidana Narkoba telah melakukan koordinasi dengan Pusat Pelaporan Aset dan Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menindaklanjuti temuan rekening  jumbo sindikat narkoba tersebut (republika.co.id, 7/10/2021).

Sindikat mafia dan aliran dana rekening Rp120 triliun ini tidak cuma melibatkan dalam negeri saja. Ada juga sindikat luar negeri yang terlibat, karena pada dasarnya aktivitas sindikat narkoba memang tidak terbatas di dalam negeri saja. Semua jaringan global harus dilihat dan semua transaksi yang ada. 

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Krisno H Siregar menyebut, pihaknya akan segera menindaklanjuti temuan dari PPATK ini. Dia pun meminta PPATK agar segera memberikan informasi lengkap soal rekening ini kepada Polri (idntimes.com, 7/10/2021).


Demokrasi Kapitalisme Menghamba pada Keuntungan Materi

Kebebasan yang disuguhkan telah membuka pintu kerancuan atas kebijakan yang diberlakukan. Sindikat mafia narkoba yang terungkap harusnya mampu membuka tabir bahwa perkara ini tidak hanya berkaitan siapa yang mengedarkan atau menjadi pelaku atas komplotan mafia ini.

Perlu kita tahu permainan ini tidak lepas dari adanya pengaruh politik yang terbangun dalam negara tersebut, terungkap juga bahwa mafia narkoba ini tidak hanya sindikat dalam negeri namun luar negeri juga. Artinya banyak hal yang mempengaruhi atas kejadian yang sudah berlangsung lama ini. Karena ribuan orang dengan beragam latar belakang terlibat atas kasus ini. 

Terungkapnya dana yang masuk ke dalam rekening mafia bukan hanya membedah hanya untuk mengambil hak atas pajak agenda tersebut. Kejahatan ini tidak perlu lagi diberikan ruang bahkan lebih baik diberantas untuk mengakhiri kasus ini. Bukan melihat dari segi keuntungan belaka, bahaya narkoba terlebih bagi para pemuda tentu akan menambah kemrosotan berfikir dan sikap karna efek kecanduan yang merusak akal dan jiwa. 

Sehingga jaringan atas kejahatan mafia narkoba ini tidak bisa dipandang baik  meski mendatangkan keuntungan atas kegiatan yang berlangsung diatasnya. Sudah cukup kerusakan yag ditimbulkan. Namun sayangnya ini tidak bisa dihentikan ketika sistem pemerintahan dan landasannya masih sama. 

Demokrasi berasaskan kebebasan tentu sejalan dengan ideologi kapitalisme mengusung kebebasan dan manfaat yang didapatkan. Kapitalisme memang mengakui Pencipta namun tidak mau diatur dengan aturan Pencipta dalam kehidupannya, inilah kerancuan ketika kehidupan dipisahkan dengan agama. Orang-orang akan berlaku sebagai penguasa atas dirinya. 

Termasuk semua kegiatan dan kebijakan yang berlaku dalam negaranya, ketika itu mendatangkan manfaat akan tetap diberikan ruang meksi menimbulkan kerusakan. Apalagi negara dengan landasan liberalisme tidak memiliki upaya selain mendapatkan pemasukan uang negara dari pajak dan utang. Untuk itu setiap kegiatan yang mampu memenuhi dari keduanya akan mendapatkan keringanan meski banyak kerusakan dan kecaman. 

Dalam buku Virus Fikrah Melemahkan Akidah Umat, penulis menjelaskan bahwa agenda kapitalisme dalam pemerintahan demokrasi hari ini tentunya, memiliki beberapa gerakan yang terus menyasar melemahkan generasi pemuda dari ketaatan kepada pencipta menjadi menghamba kepada kehidupan dan budaya barat. Gerakan imperialisme dengan tujuan invansi pemikiran dan budaya bagi kaum muslim mereka terus menyuguhkan agenda hanya untuk menyebarkan dekandasi moral.

Salah satunya menciptakan kerusakan lingkungan dengan mengaburkan peran masing-masing dari fitrahnya. Mereka akan memperkuat serangan hanya untuk mengelabuhi pemikiran yang merusak keimanan. Mulai dari menjerat dengan hiburan hingga menyebarluaskan narkotika, miras bahkan pergaulan bebas. Mereka memahami betul bahwa pemuda adalah aset terbesar kekuatan terlebih dalam negeri mayoritas Muslim.

Sangat serius sekali mereka hanya untuk melemahkan umat, jika tidak sadar politik atau hanya mengangap dari segi keuntungan kemudian ini menjadi pembiaran maka sama saja merusak pemuda lebih lama dan lebih terencana. 

Perlu dicatat sejarawan telah mengungkap bahwa kaum imperialis berperan penting dalam penyelundupan barang-barang haram dan mereka para pelakunya juga dilindungi oleh negara-negara adidaya yang mendapatkan cipratan keuntungan karena mereka juga yang akan menerima dan memakan hasil dari keuntungan tersebut. 

Gerakan mereka dengan para pendukungnya memiliki agenda yang banyak hanya untuk menjerumuskan kaum Muslim dan pemudanya dalam kehinaan. Maka ketika negara di mayoritas Muslim tidak independen dengan idealisme politiknya memberikan ruang kebebasan hanya atas nama hak asasi manusia, dan dengan mudah membuka akses serta lengah terhadap permainan politik luar negeri maka sama saja mereka membiarkan kerusakan semakin merajalela dan umat tidak mengetahui lagi hakikat kehidupan yang sebenarnya. 


Negara dan Peradaban dengan Ideologi Islam Mampu Menjaga Martabat dan Kehormatan Umat

Islam memiliki landasan utuh dan tetap meski waktu dan tempatnya berubah atau kehidupan berubah. Islam dan hukum yang dibawa dalam risalahnya akan tetap konsisten dalam mengatur dan menyelesaikan masalah kehidupan manusia. 
Islam mengatur bagaimana kehidupan harus beriringan dengan agama. Artinya agama didalam islam bukan ritual belaka. Agama dan kekuasaan harus menjadi satu paket sehingga agama akan berperan dalam proses jalannya kehidupan bernegara. 

Islam memiliki pengaturan dari syariat bagaimana kehidupan bernegara dilengkapi dengan undang-undang Islam serta landasan negara berdasarkan akidah, akan membawa pengaruh ke dalam kehidupan bahwa tidak ada yang dicari dan tidak ada yang dilakukan kecuali berdasarkan pengaturan Pencipta, tidak mengedepankan keuntungan saja namun bagaimana umat terjaga dalam pengaturannya. 

Dalam buku Fikr al Islam penulis menjelaskan bahwa umat harus bersama kesadaran politik dalma kehidupannya. Kesadaran politik  bukan hanya memahami situasi atau peristiwa politik saja, namun lebih jauh lagi artinya memiliki pandangan yang khas yaitu dengan ideologi Islam. Memahami kebijakan dan tindakan penguasa elit atau kasus yang terjadi harus dilihat dari sudut pandang hukum Islam atau syariat. 

Sehingga tidak terbawa hanya dengan pandangan menguntungkan atau bahkan tidak peduli pada peristiwa hanya menganggap bahwa itu urusan penguasanya. Tidak bisa karna akan semakin jumud ketika hidup hanya sekedar mengatur urusan akhirat namun melupakan bahwa memiliki peran di dunia yaitu tentang amar makruf nahi mungkar dalam kehidupannya. 

Politik didalam Islam memiliki pandangan yang khas yaitu tentang mengatur dan menyelesaikan urusan umat di bawah wewenang penguasa Islam. Namun hal ini memang belum terwujud sehingga bekal kita saat ini haruslah memiliki sadar politik bahwa kasus ini juga tidak akan selesai hanya dengan membongkar sindikat saja karna rantai mereka pasti sudah banyak dan kuat apalagi ada pelindungnya dari negara pendukung dan pengedarnya. 

Tanpa kesadaran politik atas permainan ini, semakin lama akan membahayakan pengaturan uusan umat yang harusnya bersumber kepada hukum Islam. Sehingga harus ada kelompok yang shahih dan berjuang dengan Islam untuk menyuarakan solusi praktis dna solutif berdasarkan Islam dalam setiap permasalahan kehidupan manusia. 

Terjaganya kehidupan kaum Muslim adalah dengan penerapan hukum Islam dalam negara sehingga wajib menumbuhkan kesadaran politik dan berjuang untuk mewujudkan penerapannya, menjaga genarasi pemuda dari kerusakan para tangan-tangan kaum kuffar. Penjagaan dan perjuangan itu harus secara jama’i karna kaum kuffar juga tidak berjalan sendiri, mereka memiliki gerakan-gerakan yang mendukung di belakangnya. []


Oleh: Nadia Fransiska Lutfiani, S.P
(Aktivis Muslimah, Pegiat Literasi dan Media)

Posting Komentar

0 Komentar