Sejarawan Ungkap Ada Politik Adu domba Belanda terhadap Kesultanan Banjar

TintaSiyasi.com -- Dalam Film Jejak Khilafah di Nusantara 2 (JKDN 2), Sejarawan Banjar dan Penulis Ahmad Barjie, mengungkapkan ada politik adu domba Belanda terhadap Kesultanan Banjar.

Mulailah Belanda memainkan politik adu domba, sehingga sesama sultan Banjar ini berkonflik lah, diantara keluarga bangsawan yang kalah itu adalah pangeran Amir, pangeran Amir ini adalah kakeknya Pangeran Antasari, jadi pangeran antasari ayahnya pangeran Mas’ud, kakeknya pangeran Amir,” ungkapnya di Film Jejak Khilafah di Nusantara 2 (JKDN 2), Rabu (20/10/2021) via daring.

Menurut Ahmad, ketika tahta Kesultanan Banjar oleh sultan Adam al-Watiq Billah namanya. Ia memberlakukan satu undang-undang yang terkenal sampai sekarang namanya Sultan Undang-Undang Adam.

“Itu terdapat beberapa pasal, sekitar 30 pasal yang mengatur syariah Islam, mangatur hukum positif ala Banjar, jadi tidak bertentangan dengan Syariah Islam secara universal,” ujarnya.

Menurutnya, Pangeran Amir adalah orang Banjar pertama yang dibuang ke Srilanka, ia meninggal di sana.

“Terus setelah itu Belanda tetap campur tangan lagi, sampai akhirnya meledaklah perang Banjar yang puncaknya terjadi pada bulan April 1859,” tegasnya.

“Jadi, orang Banjar dengan orang Dayak ini memang bersaudara, saling mendukung dalam perjuangan, bahkan beberapa di antaranya pemimpin Perang Banjar seperti Tumenggung Suropati sama Panglima Wangkang itu orang Dayak dia, Dayak Bakumpai,” ungkapnya.

Semenara itu, menurut Ahmad, Sepanjang peperangan di Nusantara tidak menemukan ada tentara pejuang Nusantara yang berhasil menenggelamkan kapal perang Belanda, kecuali kapal perang Onrust milik Belanda.

“Itu waktu tenggelamnya kapal perang Onrust yang sangat membuat belanda berduka cita. Bahkan kata Sultan kami, Sultan Khairul Saleh, peristiwa itu menjadikanBelanda berkabung secara nasional di negerinya sana, dengan tenggelamnya kapal perang Onrust, karena kapalnya yang tenggelam kurang lebih 90 orang tewas semuanya itu,” pungkasnya.[] Aslan La Asamu

Posting Komentar

0 Komentar