Rekening Gendut Mafia Narkoba Tersingkap, Apa Kabar Slogan 'Say No to Drugs'?


TintaSiyasi.com -- Masih ingat dengan mencuatnya kasus-kasus rekening gendut beberapa tahun ke belakang? Kali ini kabar mengejutkan datang dari Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas (Karopenmas Divhumas) Polri, Brigjen Rusdi Hartono. Ia mengatakan, Bareskrim Polri sedang menindaklanjuti temuan PPAT terkait adanya aliran dana Rp 120 triliun diduga berasal dari transaksi sindikat narkoba dengan melakukan investigasi bersama lembaga intelijen keuangan tersebut. (www.republika.co.id, 07/10/2021)

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Dian Erdiana Rae menyampaikan bahwa informasi rekening jumbo Rp 120 triliun tersebut merupakan angka konservatif yang ditotalkan dari transaksi selama periode 2016 sampai dengan 2020, ia pun menyebut banyak korporasi dan individu yang terlibat dalam aliran dana rekening jumbo sebesar Rp120 triliun yang ditemukan PPATK. Totalnya, ada 1.339 korporasi dan individu yang masuk hitungan PPATK. Dian juga menjabarkan, aliran dana rekening Rp120 triliun ini tidak cuma melibatkan sindikat narkoba dalam negeri saja.
Ada juga sindikat luar negeri yang terlibat, karena pada dasarnya aktivitas sindikat narkoba memang tidak terbatas di dalam negeri saja. (www.idntimes.com, 06/10/2021)

Tak heran jika beberapa waktu lalu ada seorang mahasiswa USU berinisial Okto Berlin Siahaan (21) yang diamankan petugas BNN usai menjadi pengedar ganja di lingkungan kampus Universitas Sumatera Utara. Penyelidikan lebih lanjut ternyata menunjukkan bahwa pelaku Berlin ini telah menjadi pengedar ganja di lingkungan kampus USU sejak setahun belakang. (Tribun-Medan.com, 09/04/2021)

Mengapa kasus rekening gendut masih terus berulang terjadi di negeri ini? Parahnya lagi kali ini melibatkan sindikat atau mafia narkoba. Jangan-jangan Indonesia telah menjadi pasar menggiurkan bagi transaksi peredaran narkoba? Jawaban atas teka-teki pertanyaan tersebut tentu bisa kita dapatkan dengan mengamati beberapa hal berikut ini:
Pertama, sejauh ini peredaran barang haram narkoba berarti masih menghantui masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dengan masih maraknya kasus peredaran narkoba di tanah air. Jika ditemukan aliran dana jumbo yang melibatkan mafia narkoba, lalu apa kabar slogan "war on drugs" yang selalu digaungkan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN)?

Kedua, kejahatan berlipat telah dilakukan oleh para mafia narkoba. Selain melakukan transaksi barang haram, merekapun diduga kuat melakukan praktek money laundring (pencucian uang) sehingga terbitlah rekening gendut tadi. Sungguh kejahatan luar biasa yang tak bisa dimaafkan begitu saja! 

Ketiga, jika sebuah tindak kriminal masih berulang terus dilakukan, wajar pertanyaan besar muncul, ada apa dengan penegakan hukum di negeri yang katanya negara hukum ini? Apalagi data temuan PPATK terkait rekening gendut narkoba sebesar Rp 120 Trilyun adalah total dana semenjak kurang lebih 5 tahun ke belakang (2016). Artinya selama ini baik pergerakan maupun aliran dana mafia narkoba tersebut nyaris tak tersentuh hukum. Siapa lagi yang ada di belakangnya jika bukan oknum penguasa atau penegak hukum itu sendiri?

Demikianlah kasus rekening gendut mafia narkoba ini telah menambah daftar panjang kekecewaan publik terhadap penguasa khususnya penegak hukum di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa hukum memihak si kaya dan menginjak si miskin. Padahal dalam Islam hukum haruslah memihak hanya pada kebenaran saja.  

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu, bapak, dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (QS. An-Nisa: 135)

Rasulullah SAW bersabda, 
"Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum). Namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya." (HR Bukhari)

Publik tentu berharap pengungkapan data kejahatan ini bukan hanya dilakukan untuk menarik pungutan (pajak) tapi semestinya menjadi pijakan memberantas jaringan narkoba dan menutup semua pintu berkembangnya aktivitas terlarang yang bisa menjerumuskan ribuan anak bangsa dalam kerusakan akal dan otak yang berujung pada hilangnya generasi. 

 "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (QS Al Baqarah: 195)

"Tidak boleh memberikan dampak bahaya, tidak boleh memberikan dampak bahaya." (HR Ibnu Majah)

Sungguh kasus rekening gendut mafia narkoba dan tindak kriminal lainnya akan tumbuh subur di alam kapitalisme sekuler seperti saat ini. Tidak ada jalan lain untuk bisa keluar dari keadaan ini selain menerapkan sistem Islam dalam naungan khilafah yang akan mendatangkan rahmat. Sistem Islam tidak akan membiarkan praktik keharaman dalam bentuk apapun termasuk fenomena rekening gendut apalagi hingga melibatkan mafia narkoba yang merupakan barang haram. Hal ini dapat ditempuh karena sistem Islam akan menegakkan hukum secara adil atas siapapun, dimanapun dan kapanpun. Sanksi yang diberikan atas pelaku kejahatanpun adalah sanksi yang tegas serta memberikan efek jera juga penebus dosa. 

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (TQS. Al-Maidah: 50)
Wallaahu a'lam.

Oleh: Lely Herawati
(Praktisi Pendidikan)

Posting Komentar

0 Komentar