Pro-Kontra Miss Queen, Jelas Haram!


TintaSiyasi.com -- Dilansir dari Terkini.id, Jakarta, Millen Cyrus dengan nama asli Muhammad Millendaru terpilih menjadi Miss Queen Indonesia 2021. Miss Queen Indonesia 2021 merupakan kontes kecantikan bagi para transgender diselenggarakan di Bali.

Terpilihnya Millen Cyrus, ia kemudian berhak ikut Miss Internasional Queen 2021 di Thailand. Dilansir dari Insertlive, Millen Cyrus mendapatkan banyak cibiran atas keikutsertaannya. Komentar negatif ditujukan kepada Millen Cyrus. Merupakan  keponakan Ashanty. Ajang ini pun jadi pro kontra.

Kekuatan Politik Dibalik Gerakan LGBT
Penyebab maraknya pelaku LGBT, karena tidak dianggap sebagai tindakan kriminal, bahkan ada seruan  dari penguasa untuk melarang melakukan perlakuan diskriminatif terhadap mereka atas dasar Hak Asasi Manusia (HAM).

Selain itu, tiadanya sanksi tegas dalam bentuk undang-undang. Lebih jauh Fika Komara dalam bukunya “Muslimah Timur Jauh”, ada kekuatan politik gerakan LGBT di backingi AS dan Barat. Di abad 21 ini kaum pengikut Nabi Luth telah menjelma sebuah kekuatan politik. Karena, diakui secara politis oleh Amerika serikat sebagai “Negara Pertama” dalam konstelasi Internasional dengan memfasilitasi tujuan puncak perjuangan kaum LGBT yakni “pernikahan sejenis”. 

Hak-hak mereka diakui oleh deklarasi PBB tahun 2008. Dan abad ini menjadi puncak kegemilangan mereka. Legalisasi pernikahan sesame jenis tahun 2001 di Belanda. Menyusul Belgia (2003), Spanyol (2005), Afsel (2006), Norwegia-Swedia (2009), Portugal-Islandia-Argentina (2010), Denmark (2012)

LGBT dalam Islam : Haram

Terjadinya pro kontra Miss Queen Indonesia 2021 merupakan kontes kecantikan bagi para transgender diselenggarakan di Bali disebabkan dengan menjadikan manusia sebagai sumber hukum. Tentu berbeda dalam Islam, hubungan sejenis dikategorikan sebagai perbuatan kriminal yang pelakunya mendapatkan dosa besar dan berhak dijatuhkan sanksi (hukuman), Allah  SWT berfirman : 

Dan kami juga telah mengutus Luth kepada kaumnya. Ingatlah tatkala dia berkata kepada mereka : “mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” sesungguhnya kamu mendatangi lelaki itu untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas (TQS al-A’raf[7]:80-81).

Al-Qur'an menyebutkan perbuatan pelaku LGBT (liwath) sebagai “fahisyah” dan pelakunya disebut sebagai kaum yang melampaui batas. Dalam islam pelaku liwath dijatuhi hukuman yang sangat keras dan berat, dalam buku sistem sanksi dan hukum pembuktian dalam islam karya Abdurrahman Al-maliki dan Ahmad Ad-Da’ur menuliskan hukuman bagi pelaku liwath adalah hukuman mati berdasarkan hadits  dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda : 

Barangsiapa yang kalian mendapati melakukan perbuatan kaum Luth (liwath), maka bunuhlah fa’il (pelaku) dan maf’ul bih (pasangannya) (HR. Abu Dawud dari Ibnu Abbas). 

Ketika hukuman keras ini diterapkan maka tindakan kriminal ini bisa dicegah dan dibasmi. ini hanya bisa diwujudkan ketika Islam diterapkan secara kaffah dengan hadirnya seorang penguasa. Sebagaimana perkataan Utsman bin Affan R.A., “Sesungguhnya Allah SWT memberikan wewenang kepada penguasa untuk menghilangkan sesuatu yang tidak bisa dihilangkan oleh Al-Qur'an. Wallahu ‘allam

Oleh: Trisnawaty Amatullah
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar