Pisang Goreng Sambal dan Khilafah

TintaSiyasi.com-- Pertama kali saya disuguhi makan pisang pakai sambal itu ketika saya ke Sulteng. "Masa pisang pakai sambal?" ujarku yang langsung jadi sumber perhatian semua pemuda Sulteng yang sedang berkumpul di ruangan yang sama denganku, Desember 2019, di salah satu rumah pemuda yang tinggal di Palu. 

"Coba dicicipi dulu Ustaz eh Om Joy..." ujar salah seorang yang hadir. Yang menyuguhkan dan para pemuda lainnya hanya senyum-senyum saja sembari memperhatikan gerak-gerikku yang kampungan melihat sesuatu yang baru; gegar budaya begitu kalau sosiolog bilang.

Dengan penuh keraguan, kucoba mencicipinya. Aneh terasa. Manis, asam, pedas, gurih itulah informasi yang disampaikan lidah ke otak. “Tet-tet! Makanan tak dikenali: unknown,” begitu otakku merespons. Aneh banget, yang kayak gini kok dimakan. 

"Coba lagi Om..." ujar salah seorang pemuda. Yang lainnya ada yang tertawa dan ada juga yang tampak berbisik satu sama lain. 


+++

Mengenang kejadian hampir dua tahun lalu itu saya mencoba memahami mengapa ada saja orang Islam yang menolak khilafah. Apakah mereka gegar budaya sepertiku ketika disuguhi pisang goreng sambal? Pasalnya, selama aku hidup tak pernah melihat, mendengar apalagi memakan pisang goreng pakai sambal. Terbersit pun tidak. Tapi tiba-tiba saya disuguhi pisang goreng sambal. 

Mereka juga mungkin begitu ketika tiba-tiba didakwahi tentang wajibnya menegakkan syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah. Seumur hidupnya yang dia tahu itu pemerintahan terbaik ya demokrasi, selain demokrasi mesti diktator. Enggak pernah mendengar ada sistem pemerintahan yang tidak demokratis tapi tidak diktator: khilafah. Maka mereka pun bersikap kampungan gegara gegar budaya? 


+++

Oh iya, saya teruskan lagi menceritakan kenangan pertama kalinya memakan pisang goreng sambal khas Sulawesi tersebut ya. 

Karena bolak-balik ditawari untuk mencicipinya lagi, maka kucoba lagi, lagi, lagi dan akhirnya satu piring habis olehku sendiri. Karena setiap dicoba, kadar rasa aneh berkurang sedangkan persepsi nikmat terus bertambah. Untung saja pemuda lainnya perhatian, lalu mengambil piring berisi pisang dan sambal di dekatnya untuk diberikan kepadaku. "Ini masih ada lagi, mau nambah Om?" ujarnya sembari menyodorkan. 

Dengan malu-malu aku bilang, "Enggak, cukup, cukup. Ternyata pisang pakai sambal itu enak juga ya..." 

Semua tertawa. 

"Saya percaya, Om..." ujar salah seorang pemuda sembari melirik piringku yang sudah bersih tak tersisa satu pisang dan sedikit sambal pun.


+++

Kembali ke masalah khilafah. Begitu juga yang gegar budaya terkait kewajiban khilafah, agar enggak kampungan, ada baiknya memang membaca literasi tentang khilafah dari para pejuangnya. Tak usah di-like, comment apalagi share. Cukup: baca, renungkan; baca, renungkan; dan baca, renungkan. 

Kalau sudah sedikit ada gambaran positif tapi malah timbul banyak pertanyaan, ada baiknya bertanya baik-baik dalam kolom komentar. Inboks juga boleh. Siapa tahu habis sepiring juga eh siapa tahu jadi paham akan kewajiban menegakkan khilafah juga. Aamiin. []


Oleh: Joko Prasetyo
(Jurnalis)

Depok, 25 Safar 1443 H | 2 Oktober 2021 M

Posting Komentar

0 Komentar