Peran Penting Islam untuk Masalah L96T

TintaSiyasi.com-- Semakin hari kampanye LGBT semakin marak di Indonesia. Dari sini terlihat masyarakat semakin open minded akan ide dan perilaku LGBT inj. Seperti halnya kemenangan Millen Cyrus di ajang Miss Queen Indonesia 2021, yang merupakan kontes kecantikan bagi para transgender. Dalam wawancaranya, Millen juga menyampaikan bahwa saat ini masih banyak diskriminasi yang terjadi pada transgender di Indonesia (suarabatam.id, 05/10/2021). 

Bahkan yang semakin membuat dada sesak adalah adanya survey yang dilakukan pada tahun 2016-2017 menyatakan bahwa mayoritas dari rakyat Indonesia memandang bahwa mereka pelaku LGBT memiliki hak hidup dan harus dilindungi keamanannya (bbc.com, 25/01/2021). 

Seringkali para LGBT berdalih atas apa yang dilakukan adalah hak asasi mereka untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat atas perilakunya. HAM dijadikan tameng untuk melindungi aktivitas salah ini. Karena HAM sendiri menjamin akan kebebasan seseorang untuk bertingkah laku di tengah-tengah masyarakat. Di dalam pandangan HAM sendiri setiap orang bebas untuk bertingkah laku dan berbuat apa saja selama hal itu tidak mengganggu kebebasan orang lain. 

Terlihat argumen ini tidak salah, tapi ketika di telaah maka argumen ini jelas salah. Dan inilah bukti ketika kebenaran hanya didasarkan akal manusia yang terbatas bukan didasarkan pada hukum Allah. Kita bisa melihat, Islam sudah jelas membeberkan mana yang salah dan mana yang benar. Salah satunya dalam masalah LGBT ini. Karena Islam sudah jelas menjelaskan hukum untuk kaum Nabi Luth ini. Di dalam syariat Islam homoseksual merupakan perbuatan yang tercela. Dan aktivitas ini diposisikan sebagai keharaman dan pelakunya pasti berdosa, sehingga akan dihisab oleh Allah SWT.

Dalam Islam menikah sesama jenis tentu haram, kriminal dan pelakunya mendapat dosa besar serta hukuman tegas. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang kalian mendapati melakukan perbuatan kaum Luth (liwath), maka bunuhlah fa’il (pelaku) dan maf’ul bih (pasangannya)." (HR. Abu Dawud dari Ibnu Abbas). 

Ketika hukuman keras ini diterapkan maka tindakan kriminal ini bisa dicegah dan dibasmi. Ini hanya bisa diwujudkan ketika Islam diterapkan secara kaffah dengan hadirnya seorang penguasa. Sebagaimana perkataan Utsman bin Affan ra, “Sesungguhnya Allah SWT memberikan wewenang kepada penguasa untuk menghilangkan sesuatu yang tidak bisa dihilangkan oleh Al-Qur'an". Wallahu a'lam. []


Oleh: Vivi Fadhilah, S.Tr.Kes.
(Praktisi Kesehatan)

Posting Komentar

0 Komentar