Pendidikan Tinggi Sekadar Alat Industri?

TintaSiyasi.com-- Ketika pendidikan tidak lagi menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya, mengenyampingkan moralitas dan membentuk generasi industri, menjadikan agama sebagai formalitas belaka. Pendidikan tinggi yang mengimplementasikan kampus merdeka membuat program-program untuk membentuk generasi siap kerja yang capaian pembelajarannya makin berorientasi personal dan individual. Tak heran jika generasi yang dicetak jauh dari kesan islam dan hanya berorientasi pada kepentingan individual. Kampus dan intelektual tersandera kooptasi peradaban sekuler.

Salah satu dampak dari sistem pendidikan yang seperti ini adalah menurunnya kualitas dan kuantitas generasinya. Memandang dunia sebagai kesenangan yang harus mereka nikmati, yang harus mereka kejar dan dapatkan, karena begitulah sistem saat ini. Tak heran jika generasi saat  ini menghalalkan segala cara demi memperoleh kesenangan dunia. Seperti kasus penangkapan puluhan mahasiswa saat pesta narkoba di Kampus Universitas Sumatera Utara (USU) oleh petugas Badan Narkotika Nasional (BNN), Minggu (10/10/2021) dini hari. 

Diwartakan sumut.inews.id, “Badan Narkotika Nasional (BNN), menangkap puluhan mahasiswa saat pesta narkoba di Kampus Universitas Sumatera Utara (USU). Penggerebekan dilakukan di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU.” Dari kasus tersebut memperlihatkan bagaimana kampus sampai kecolongan dan tidak menyadari aktifitas mahasiswanya. Serta mahasiswa yang mencari alternatif lain hanya untuk mendapatkan kepuasan sementara tanpa memikirkan baik buruknya.

Terlalu banyak fenomena di dunia generasi saat ini yang mengkhawatirkan. Masa mudanya tersia-siakan dengan aktivitas semu. Ini semua dampak dari sistem pendidikan sekuler yang menekankan hasil yang didapatkan.

Sejatinya pendidikan tinggi hari ini telah dimanipulasi oleh agenda-agenda Barat, pendidikan tingi menjadi pintu masuk penjajahan akademis, hegemoni riset, dan propaganda sekuler. Pendidikan tinggi yang harusnya mencetak sumber daya manusia yang mampu memenuhi kebutuhan umat bukannya memenuhi kebutuhan dunia industri atau pasar.  Pendidikan juga tak harusnya dipisahkan dengan aspek Islam, membatasi Islam hanya pada urusan pribadi.

Keresahan Tom Hodkinson terhadap dunia pendidikan dalam pernyataannya “Pendidikan itu sendiri adalah penangguhan, penundaan. Kita dinasihati agar bekerja keras supaya mendapatkan nilai bagus. Kenapa? Supaya kita bisa mendapatkan pekerjaan bagus. Apa itu pekerjaan yang bagus? Pekerjaan yang bergaji tinggi. Oh, itu saja? Semua penderitaan ini, hanya agar kita mendapatkan banyak uang, yang bahkan jika kita berhasil mendapatkannya pun tidak akan menyelesaikan masalah kita, bukan? Ini adalah ide sempit yang tragis tentang untuk apa hidup ini sesungguhnya.”

Islam memandang pendidikan sebagai penyangga peradaban sekaligus mekanisme untuk memastikan kelangsungan tersedianya kader-kader terbaik dalam jumlah yang besar. Pendidikan dalam Islam, termasuk pendidikan tinggi, diselenggarakan untuk mencetak generasi unggul yang berkontribusi untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi umat. Potensi generasi diarahkan dalam mendukung terwujudnya Islam rahmatan lil ’alamiin. Kesadaran akidah generasi Muslim akan dibangun agar anugerah potensi dan kelebihan yang Allah berikan menjadi amanah yang mendekatkan dirinya pada ridha Allah dan menjauhkan diri dari tujuan yang rendah, seperti sekadar mengejar eksistensi diri dan kebahagiaan dunia.

Dalam Islam, pendidikan adalah kebutuhan asasiyah (mendasar) yang harus diselenggarakan oleh negara, yang para pemimpin akan memberikan layanan terbaik dalam pemenuhannya. Ditambah penerapan sistem ekonomi Islam memungkinkan negara bertanggung jawab secara penuh dalam pengelolaan pendidikan dan layanan masyarakat lain seluruhnya.

Hanya khilafah sajalah negara yang akan menjadikan pengetahuan memenuhi tujuan sebenarnya bagi umat manusia, seperti hujan yang menguntungkan bumi ini dan segala sesuatu di dalamnya (Muslimah news.id).

Perumpamaan apa yang Allah mengutusku dengannya, yakni petunjuk dan ilmu, adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Di antara tanah itu ada yang subur yang dapat menerima air, lalu menumbuhkan rumput dan tumbuh-tumbuhan yang banyak. Dan diantaranya ada pula tanah yang keras dan dapat menahan air (tetapi tidak dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan), maka dengannya Allah memberi kemanfaatan kepada manusia. Mereka bisa minum, memberi minum ternak, dan bertani. Dan air hujan itu mengenai pula tanah yang lain, yaitu tanah keras dan licin, tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Demikian itulah perumpamaan orang yang pandai tentang agama Allah dan bermanfaat baginya apa yang dengannya Allah mengutusku, ia mengetahui dan mengajarkan (kepada orang lain), dan perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepadanya, dan perumpamaan orang yang tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya (ia seperti tanah yang tandus).” (HR Bukhari-Muslim, dari Abu Musa ra).

Wallahu a'lam. []


Oleh: Sri Hasniah Ashara
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar