Pendemi Berkelanjutan, Generasi Intelektual Terancam


TintaSiyasi.com -- Pendidikan adalah hak segala bangsa, begitu katanya. Tak hanya bidang kesehatan dan ekonomi yang dirundung duka akibat pandemik yang berkelanjutan ini, bidang pendidikan pun juga merasakan imbasnya. Per-September 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebutkan angka putus kuliah di masa pandemi meningkat hampir mencapai 50 persen, khususnya pada mahasiswa di perguruan tinggi swasta (PTS) (Kompas.com/ 24/08/21). 

Di kesempatan lain, Sri  juga mengatakan sepanjang tahun lalu angka putus kuliah di Indonesia mencapai 602.208 orang. Sri mengatakan pada tahun sebelumnya angka putus kuliah sekitar 18 persen. Kemudian di masa pandemi ini naik mencapai 50 persen. 

Salah satunya, Vini Lili Natalia, Mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina Angkatan 2018, membagikan ceritanya tentang bagaimana ia hampir kehilangan kesempatan menuntaskan kuliah akibat pandemi. “Ketika orang tua bilang usahanya merugi dan hampir gulung tikar akibat pandemi, saya sempat putus asa. Bagaimana akan melanjutkan pendidikan, padahal saya sudah berada di tingkat akhir,” ungkapnya dalam wawancara daring, Jumat (30/4). Untungnya, dalam kasus Vini ini, ia mendapat info mengenai beasiswa membuatnya tetap dapat berkuliah.

Hadirnya lembaga-lembaga penyedia beasiswa memang bagai sumber air ditengah gurun diteriknya panas. Tapi sayangnya, nasib sebagian besar dari 50 persen angka putus kuliah di PTS tak seberuntung Vini. Kenyataan pahit untuk putus kuliah mesti mereka tanggung. Gelombang PKH yang terjadi pada orang tua mereka, membuatnya harus mengubur angan-angan manisnya dunia pendidikan.

Tentunya, hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Pandemi yang berkelanjutan, tak boleh membuat habitat lahirnya intelektual digadaikan. Upaya yang dilakukan lembaga pasti membunyai batasan. Mulai dari terbatasnya dana, informasi mengenai pihak yang mebutuhkan, dan bagaimana distribusi dari pendanaan itu.

Negara lah yang mestinya menjadi pihak di garda terdepan, sebagai pihak yang katanya menjamin pendidikan, yang katanya ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, nyata-nyatanya hanya menutup mata dengan data mahasiswa yang putus kuliah. Pihak swasta yang menjadi pembantu pendidikan di negeri, tak bisa berbuat lebih, mereka juga butuh dana untuk membiayai operasional kampus.

Begini lah resikonya, ketika negara berlepas diri dari kondisi dunia pendidikan tinggi. Menyerahkan kepada pihak kampus swasta yang bebas menetapkan harga setinggi-tingginya,tanpa pedulia nasib mahasiswanya, toh para kapitalis yang ingin ambil jatah, yah selamat datang spp dua digit. 

Kondisi ini, tentu jauh berbeda  halnya dengan sistem pendidikan di dalam Islam. Islam menempatkan pendidikan sebagai salah satu pilar peradaban.

Esensinya sedemikian penting, hingga negara diberi tanggung jawab penuh memastikan pendidikan terselenggara dalam format paling ideal. Mulai penyelenggaraan pendidikan di level keluarga, masyarakat, maupun yang secara langsung menjadi kewajiban negara.

Negara dalam Islam, wajib memastikan tujuan pendidikan di semua ranah itu tak melenceng dari ikhtiar mencetak SDM berkepribadian Islam. Yakni SDM yang siap mengemban amanah memakmurkan bumi dan menebar risalah Islam sebagai bentuk penghambaan.

Maka, sudah menjadi kewajiban negara hadir untuk mewujudkan fasilitas terbaik, pengajar terbaik, system terbaik, lembaga-lembaga riset terbaik dan menjangkau semua ummat yang ingin menuntut ilmu. Dan semua fasilitas tersebut dapat dijangkau oleh semua kalangan dan digratiskan.

Jelaslah, tanpa atau pun dengan adanya pandemik persoalan putus kuliah dikarena ekonomi tak pernah dielakkan. Karena memang, dunia pendidikan sangat butuh peran serta negara. Tak hanya menghadirkan lembaga swasta tapi hanya dijangkau sebagian kalangan.

Sistem Islam, yang mampu menjamin lahirnya para intelektual tanpa atau dengan pandemi. Sebuah ekosistem pendidikan yang tak hanya menjadikan pendidikan sebagai komponen negara, tetapi memang menjadi salah satu tujuan sistem.
Wallahu a’lam..

Oleh: Alya Amaliah
(Sahaba TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar