Moderasi Beragama Menyasar Generasi Milenial

TintaSiyasi.com-- Moderasi beragama terus digencarkan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil. Harapannya agar seluruh masyarakat Indonesia terutama umat Islam menjalankan agamanya secara moderat, tidak ke kiri-kirian (komunisme) dan tidak ke kanan-kananan (Islam kaffah). 

Maka untuk menyukseskan dan mempromosikan moderasi beragama di kalangan generasi millenial ditunjuklah duta moderasi beragama, Cinta Laura. Ia diundang dalam acara Malam Peluncuran Aksi Moderasi Beragama (22/09/2021) yang dihadiri oleh Yaqut Cholil, Nadiem Makarim dan sejumlah tokoh lainnya untuk berpidato tentang "Moderasi Beragama Generasi Millenials".

Dalam pidatonya Cinta mengajak generasi millenial agar tidak mempermasalahkan perbedaan. Tidak pula terjebak dengan pemahaman yang terbatas hingga memanusiakan Tuhan dan berujung menjadi radikal. Serta menerapkan cara berpikir kritis dan mempelajari semua hal dari berbagai sudut pandang agar tidak mudah dipengaruhi dan dijajah pikirannya. Kemudian menyebarkan nilai-nilai toleransi melalui media.¹

Lalu bagaimana sikap kita sebagai generasi millenial dan generasi Z dalam menjawab ajakan untuk mengimplementasikan moderasi beragama?

Nampak nyata bahwa program moderasi beragama merupakan cerminan akidah kapitalisme yaitu sekularisme, dengan kata lain agama hanya boleh diterapkan dalam ranah pribadi bukan dalam ranah masyarakat dan negara. Bahkan bisa dikatakan bahwa moderasi beragama merupakan program kelanjutan dari kampanye global "Islamofobia" yang digencarkan oleh musuh Islam dan antek-anteknya.

Bagaimana tidak? Moderasi beragama terus digodok dan disajikan kepada umat Islam agar Islam dijalankan oleh kaum Muslim secara moderat (parsial), tidak mengakar atau totalitas (radikal atau kaffah). Berbagai cara dilakukan untuk melancarkan proyek moderasi agar umat Islam menjadi jahil (bodoh) bahkan fobia (takut) terhadap agamanya.

Salah satunya menyihir kaum Muslim dengan pemikiran moderat kemudian muncul perkataan dan ajakan yang seolah menarik dan sesuai dengan ajaran Islam padahal menyalahi syariat Islam. Ibarat racun yang dibalut dengan madu. 

Semisal perkataan, "Biasa-biasa ajalah dalam beragama, jangan radikal (kaffah), yang penting shalat, puasa, birrul walidain, haji itu sudah cukup, tak perlu neko-neko mau mengatur masyarakat dan negara pakai agama!". Atau pemikiran agar kaum Muslim hanya sekedar lurus akidahnya dan baik akhlaknya, tetapi tidak memperhatikan standar dalam berfikir dan bertindak yang juga harus sesuai dengan Islam. 

Padahal konsekuensi syahadat bukan sekadar kita mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya. Tetapi kita juga harus terikat dengan hukum syara' (syariat Islam) dalam pemikiran atau cara pandang, perkataan, perbuatan, mencari solusi, dan segala aspek kehidupan.

Maka dari itu, penting bagi kita umat Islam untuk menerapkan cara berpikir kritis berstandar Islam, bukan mengambil semua cara pandang yang akhirnya menyebabkan kerancuan berpikir. Agar kita juga tidak mudah terjajah dengan pemikiran yang selain dari Islam yang mengakibatkan kita mengambil dan terpincut dengan sesuatu yang seolah menarik tanpa mencari tahu terlebih dahulu bagaimana Islam memandang dan hukumnya dalam Islam. 

Seperti menerima begitu saja isu moderasi beragama karena tujuannya dianggap baik yaitu menghargai kemajemukan agama lain sebab Islam mengajarkan toleransi dan menjadi Muslim moderat yang bisa disesuaikan dengan zaman bukan Muslim radikal atau fundamental, tanpa mengkajianya terlebih dahulu. Padahal di balik isu moderasi ada racun agar umat Islam tidak memperhatikan agamanya dan mengakui kebenaran agama lain (pluralisme) serta mau berkompromi dengan orang-orang kafir Barat termasuk mengadopsi, menjalankan, dan menyebarkan paham-paham Barat.

Oleh karena itu penting bagi kita, generasi Z dan millenial Muslim berislam secara kaffah, bukan sekadar mengandalkan iman saja atau mencukupkan diri baik secara ibadah mahdah dan akhlak tetapi tidak mau mengakaji Islam secara kaffah dan tidak memperhatikan apakah pemikiran kita sudah sesuai dengan Islam atau justru bertentangan dengan Islam.

Perlu untuk kita ketahui bahwa musuh-musuh Islam tidak henti-hentinya membuat berbagai narasi menarik yang dapat menggoyahkan keimanan kaum Muslim dan menjauhkan dari syariat Allah. Kita pun tidak akan pernah bisa membedakan mana narasi yang haq dan yang bathil jika kita tidak mengkaji Islam secara kaffah yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunah. 

Allah SWT juga menyuruh kita agar berislam kaffah dan memperingatkan agar kita tidak mengikuti langkah-langkah syaitan dan sekutunya! Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kalian turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian." (QS. Al-Baqarah ayat 208).

As-Samarqandi (w. 373 H) menjelaskan maknanya, “…Masuklah kalian ke dalam semua syariah Islam dan jangan kalian mengikuti langkah-langkah setan…” (As-Samarqandi, Bahru al-‘Ulûm, 1/173).

Al-Hafizh Ibnu Katsir juga menjelaskan, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan Rasul-Nya agar masuk ke semua simpul dan syariah Islam serta mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangannya semampu mereka.

Jadi dalam berislam, kita diperintahkan untuk mengambil Islam dan syariahnya secara keseluruhan. Kita tidak boleh berislam model prasmanan. Yang menarik diambil, yang enak diikuti dan yang mudah dijalankan. Sebaliknya, yang tidak menarik tidak diambil, yang tidak mengenakkan tidak diikuti dan yang sulit tidak dijalankan.² Hadanallahu wa iyyakum jami'an. []


Oleh: Wahidah N.H.
(Sahabat TintaSiyasi)

Sumber:
¹ https://m.republika.co.id/amp/qzv4eh366?utm_source=dable
² https://telegra.ph/Edisi-213--Islam-Ya-Islam-Tanpa-Embel-Embel-10-08

Posting Komentar

0 Komentar