Miss Queen dan Matinya Peran Negara


TintaSiyasi.com -- Miss Queen Indonesia 2021 telah selesai digelar. Ajang kecantikan untuk pria setengah wanita atau transgender ini memenangkan Millen Cirrus sebagai pria tercantik. Ngerinya ajang ini di gelar di negara yang mayoritas muslim. Negara sekuler, Indonesia. 

Meski Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar, tapi aturan Islam tidak jadi landasan kehidupan. Akibatnya seluruh sendi kehidupan diatur menggunakan aturan manusia. Aturan lemah dan banyak terjadi pelanggaran terhadap aturan Allah. 

Perilaku yang meniru umat Nabi Luth yang kufur ini harusnya tidak mendapatkan tempat. Nyatanya malah diberi izin untuk mengadakan kontes maksiat. Tampaknya negeri ini enggan belajar dari Kaum Sodom yang kufur. Dalam Al-Qur'an telah dikisahkan bagaimana azab Allah yang dahsyat menimpa mereka. Hingga, tak satu pun dari mereka ada yang hidup. 

Tepatnya kisah diazabnya mereka terdapat dalam surat Al Anbiya: 74-75, Hud: 82-83, dan Al-Qamar: 33-38. Dalam berbagai penelitian yang dilakukan, peristiwa atau lokasi kejadian diazabnya umat Luth as ini adalah di Kota Sodom, di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Laut Mati atau di danau Luth yang terletak di perbatasan antara Israel dan Yordania. 

Allah berfirman:

وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَّطَرًاۗ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِيْنَ

"Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu". (QS. Al A'raf:84)

Sungguh, betapa mengerikannya azab ini. Azab yang akan ditimpakan pada sebuah negeri yang melegalkan aktivitas kaum sodom yang sangat jelas mendurhakai Allah. 

Maka, sebagai negara dengan mayoritas muslim tentunya Indonesia harus segera introspeksi diri. Mencampakkan ideologi sekulerisme yang selama ini bercokol. Ideologi yang mencabut peran Allah sebagai pencipta sekaligus pengatur kehidupan. 

Seharusnya peran negara harus tegas kepada mereka. Yakni, memberikan hukuman mati. Hukum yang diajarkan oleh Rasulullah untuk menghentikan penyakit sosial yang merusak tatanan kehidupan. 

Abdullah bin Abbas berkata, "Dicari bangunan yang paling tinggi di daerah tersebut, lalu pelaku homoseks dilemparkan dari atasnya dalam kondisi terbalik (kepala di bawah dan kaki di atas), sambil dilempari dengan batu." (Riwayat ad-Duri, al-Ajurri, Ibnu Abi Syaibah, dan al-Baihaqi).

Ibnu Abbas mengambil hukuman hadd tersebut dari hukuman Allah SWT kepada kaum Luth. Sahabat ini meriwayatkan dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda: 

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ 

"Barang siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah kedua pelakunya." (HR Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Sayang seribu sayang, negeri ini tak akan mampu mengambil hukum Allah ini. Karena negeri ini adalah negeri sekuler yang enggan menjadikan aturan Allah sebagai aturan kehidupan. 

Hanya khilafah sebagai sebuah sistem pemerintahan Islam yang mampu menerapkan aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Termasuk tidak memberikan tempat atau apapun pada kaum melambai ini. Sehingga, seluruh umat akan selamat dari azab Allah dan mendapatkan keberkahan dari berbagai arah. 

Tinggal satu pertanyaannya, siapkah kita menjadi bagian dari para pejuang tegaknya? Jika siap ayo bersegera. Tanpa tapi. Tanpa nanti.

Oleh: Choirin Fitri
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar