Miss Queen Berlenggang Menuju Azab Allah


TintaSiyasi.com-- Ajang kecantikan transgender kembali digelar pada 1 Oktober 2021 kemarin di Bali. Muhammad Millendaru Prakasa Samudra yang lebih familiar dengan Millen Cyrus dinobatkan sebagai Miss Quenn Indonesia, mengalahkan 17 kontestan lainnya. Sepupu Aurel Hermansyah ini berhak mewakili Indonesia mengikuti Miss Queen Internasional 2022 di Pattaya, Thailand.

"Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memanusiakan manusia," kata Millen Cyrus di sesi final question 3 besar Miss Queen Indonesia 2021. Millen berharap bahwa masyarakat Indonesia ke depannya bisa lebih menghargai perbedaan khususnya bagi Transpuan.

Pernyataan ini sangat jelas sekali menunjukkan keinginan untuk diakui keberadaannya. Ketidaksesuaian pada fitrahnya ini seharusnya ada tindakan dari pemerintah. Apalagi negara berasaskan Pancasila dan berpenduduk mayoritas beragama Islam. Pancasila seharusnya memang benar-benar menancap di dadaku, bukan hanya sekedar slogan.

Begitupun fatwa  MUI melalui Munas ke-8 tahun 2010  tentang transgender. Seharusnya juga dipatuhi. MUI sebagai lembaga keagamaan saat ini pun akhirnya hanya sebagai institusi yang kurang diakui keberadaannya. Sungguh ironi. 

Kejadian umat Nab Luth juga seharusnya menjadi pelajaran bagi kita pada saat ini. Hingga Allah abadikan dalam Al-Qur'an dan juga bagaimana Allah mengazab kaum Sodom pada saat itu. 

"Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras." (QS. Al-Hijr : 73-74).

"Dan Kami turunkan kepada mereka hujan [batu]; maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu." (QS. Al A'raf : 84).

"Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkannya negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar." (QS. Hud : 82).

Begitu kerasnya Allah menyegerakan azab bagi perilaku maksiat ini sehingga  Rasullullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” [HR Tirmidzi dan yang lainnya, dishahihkan Syaikh Al-Albani].

Sungguh keras ancaman bagi perilaku kemaksiatan ini. Sebagai Muslim, seharusnya kita mengimani dalil-dalil tersebut.  Dengan tidak mendukung acara-acara yang  mengundang azab Allah.

Negara yang seharusnya berperan penuh dalam kepengurusan rakyatnya tidak maksimal saat ini. Jika Indonesia berasaskan pancasila, seharusnya apa yang disampaikan Rasulullah, juga menjadi rujukan dalam bernegara. 

"Imam (khalifah) adalah raa'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Bukhari).

Namun, karena Indonesia menerapkan sistem kapitalisme sekularisme dalam kehidupan bernegara (sistem yang memisahkan kehidupan beragama dari kehidupan sehari-hari), sulit bagi kita untuk bisa mewujudkannya. 

Beda halnya jika kita menerapkan sistem Islam, yang rujukan hukumnya berdasarkan Al-Qur'an dan hadis. Dengan pemikiran berdasarkan akidah Islam, melaksanakan hukum pun bertujuan mengharapkan ridha Allah semata. 

Waktunya kita berubah. Merubah pemikiran umat untuk kembali pada aturan Allah sebagai Al Khaliq, Al Hukm, Al Mudabbir. Bersama membangun Indonesia menuju ridha Allah. Allahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Ima Amalia
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar