Menyoalkan Urgensitas Pembangunan Ibu Kota Baru

TintaSiyasi.com-- September lalu, Bapak Presiden mengingatkan terkait keberlanjutan pembangunan ibu kota baru di Kalimantan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan proses pembangunan ibu kota negara yang baru di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur akan tetap berjalan. Meskipurn saat ini Indonesia masih harus menghadapai pandemi Covid-19 (Tribunnews.com, 27 Sepetember 2021). Akhir-akhir ini pun berita terkait ibu kota baru turut mewarnai laman-laman berita.

Tenttu saja hal ini menuai pro dan kontra. Merasa ini adalah keputuasan yang tepat sebagai langkah awal menuju Indonesia yang lebih baik lagi. Disisi lain menyoalkan terkait urgensitas pembangunan ibu kota baru. Ditengah problematika rakyat yang tak kunjung selesai, apakah pembangunan ibu kota baru dirasa lebih urgen? Apalagi, sekarang Indonesia tengah diselimuti pandemi Covid-19.

Hampir genap 2 tahun, Covid-19 menetap di bumi. Terpantau hingga sekarang, belum ada negera yang bisa bener-benar terbebas dari virus ini. Pola grafik naik turun masih saja terus terjadi. Tak terkecuali Indonesia. Akhir-akhir ini perbincangan seputar Covid-19 memang sudah tak seramai dulu. Vaksinasi masal yang ramai diikuti masyarakat. Berbagai fasilitas publik sudah bisa dikunjungi kembali dengan syarat kartu vaksin. Jalan-jalan kembali padat merayap. Pusat kota kembali ramai dengan hiruk pikuk kehidupan. Segelintir orang kemudian bertanya, “Apakah Covid-19 sudah benar-benar hilang?” “Apakah pandemi ini sudah berakhir?”

Pandemi masih belum berakhir. Satu kalimat yang perlu diingat bersama. Rasa was-was, khawatir akan adanya gelombang ketiga masih terus menghantui. Sempat ramai isu klaster sekolah setelah beberapa kali dilakukan PTM. 

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, ada 2,77 persen sekolah yang menimbulkan klaster baru Covid-19 selama pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dilakukan. Angka ini berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) per 23 September 2021 (Kompas.com, 23 September 2021).

Papua yang kini tengah menikmati kemeriahan PON XX Papua, dikabarkan beberapa atlitnya terpapar Covid-19. Berbagai berita mengabarkan bahwa PON XX Papua sudah berada pada pengawasan ketat satgas Covid-19. Tapi faktanya hal itu tidak menutup kemungkinan masih terjadi penyebaran virus. Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wilayah Papua Silwanus Sumule mengatakan, saat ini, ada 57 kasus Covid-19 yang terindentifikasi dalam penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua (Kompas.com, 8 Oktober 2021).

Baru-baru ini pun, laman berita dihiasi dengan kabar bahwa masih ada orang yang positif Covid-19 tapi tetap keluyuran ke luar rumah. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut masih ada 9.855 warga terkonfirmasi positif virus corona (Covid-19) yang masih berkeliaran di sejumlah tempat publik yang bergerak di sektor perdagangan, transportasi, pariwisata, perkantoran, keagamaan, pendidikan, olahraga, dan lainnya. Hal itu menurutnya diketahui dari hasil pemantauan aplikasi PeduliLindungi (CNNIndonesia.com, 3 Oktober 2021).

Beberapa kabar di negeri ini yang membuktikan bahwa pandemi ini masih belum berakhir. Perang melawan Covid-19 masih harus dilanjutkan. Dengan segala persediaan logistik dan tenaga yang tersisa, kewaspadaan harus tetap hadir. Ketika menengok kondisi rumah sakit, tenaga kesehatan akan ditemui fakta bahwa penanganan Covid-19 di negeri ini masih jauh dari kata mumpuni. Masih butuh perbaikan dan sokongan dari berbagai sudut. Sistem kesehatan yang bisa saja kolaps kapan pun masih terus menghantui hingga saat ini. 

Pandemi yang juga memberikan dampak yang cukup signifikan pada sektor lainnya. Sektor ekonomi dan pendidikan yang terus dihampiri berbagai masalah baru, terhitung dari awal pandemi. Siapa yang tidak bisa bertahan, dia akan tumbang. Kalimat yang mewakili keadaan persaiangan ekonomi sekarang. Pandemi ini juga menjadikan angka pengangguran dan kemiskinan meningkat.

Dengan sedikit lebih membuka mata, maka akan ditemukan fakta bahwa masih banyak hal yang lebih urgen diurus dari pada pembangunan ibu kota baru. Entahlah, dalam sudut pandang siapakah pembangunan ibu kota ini menjadi urgen? Ketika rakyat berjuang untuk bertahan hidup dimasa-masa krisis ini, pihak berwenang justu sibuk membenahi infrastuktur yang mampu menjadikannya lebih nyaman berada pada posisi yang ada sekarang. Dengan begitu, penambahan masa jabatan akan menjadi isu yang siap diramaikan selanjutnya.
Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Nahida Ilma
(Mahasiswa Kesehatan)

Posting Komentar

0 Komentar