Mental Illness, Tanda Lemah Iman?

TintaSiyasi.com-- Mental illness adalah gangguan kesehatan mental yang mengacu pada berbagai kondisi yang mempengaruhi pemikiran, perasaan, suasana hati, dan pola perilaku seseorang.

Tak jarang orang yang mengalami mental illness dikatakan sebagai tanda orang tersebut sedang lemah iman. Dalam hal ini sebagian orang berpendapat bahwa kondisi mental seseorang bergantung pada kondisi keimanannya. Benarkah demikian?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu kita ketahui apa saja faktor yang mendorong seseorang mengalami mental illness tersebut. Di antaranya adalah:

Pertama. Faktor individu. Faktor ini didorong oleh beberapa hal yang berasal dari individu. Contohnya, orang yang susah tidur di malam hari atau insomnia dan orang yang memiliki trauma masa kecil. Beberapa contoh di atas adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang hingga mengalami depresi.

Kedua. Faktor masyarakat. Faktor ini disebabkan oleh masyarakat yang tidak memiliki pemahaman tentang penyakit mental, atau menganggap sepele penyakit mental. Hal ini dapat menciptakan stigma buruk di tengah-tengah masyarakat yang akan menimbulkan berbagai masalah yang semakin parah. Contohnya, ada seseorang yang mengalami mental illness kemudian mendatangi psikolog untuk mengadakan konseling. Namun, sebagian masyarakat akan memberi label sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa. Akhirnya tindakan masyarakat seperti ini akan memperburuk keadaan orang yang mengalami penyakit mental.

Ketiga. Faktor sistem negara. Sistem negara juga sangat mempengaruhi pola pikir dan pola perilaku seseorang. Misalnya saja ketika negara yang menerapkan sistem sekuler kapitalis mengadakan promosi besar-besaran tentang gaya hidup bebas. Kemudian mempromosikan untuk mengejar materi dan menjadikan materi sebagai tolak ukur kesuksesan.

Dengan sekulernya sistem ini mengakibatkan ketiadaan Allah dalam berbagai aspek kehidupan. Tentu hal  ini akan menimbulkan berbagai macam masalah. Di dalam sistem ini seseorang akan melakukan segala sesuatu karena terpaksa oleh aturan. Seseorang harus melakukan apapun demi materi meskipun harus keluar dari fitrahnya sebagai manusia. 

Pendapat yang mengatakan bahwa penyakit mental adalah tanda lemah iman adalah bentuk dari banyaknya spekulasi yang subjektif atau hanya sabatas sudut pandang kebanyakan orang. Penyebabnya karena label mental illness yang diberikan oleh para dokter psikologis Barat yang melakukan penelitian secara mendalam tentang orang-orang yang mengalami kondisi mental. Sehingga kemungkinan ini menjadi alasan bagi orang-orang yang mengatakan mental illness adalah tanda lemah iman.

Mungkin dalam Islam tidak ditemukan istilah mental illness. Namun, Rasulullah SAW telah mengajarkan doa yaitu, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706).

Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah mengakui adanya penyakit mental atau mental illness, yaitu isi doa di antaranya disebutkan memohon perlindungan dari rasa malas dan rasa takut yang merupakan bentuk dari faktor penyebab penyakit mental.

Allah juga berfirman di dalam firman-Nya, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?” (TQS. al-Ankabut: 2).

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan menguji setiap hamba-Nya. Tujuannya karena Allah ingin menguatkan mental manusia dalam menghadapi kehidupan. Ini berarti bahwa mental illness dalam Islam bukan berarti suatu yang buruk, namun justru orang yang diuji adalah orang yang dimuliakan di hadapan Allah.

Dapat disimpulkan bahwa tidak benar mental illness adalah tanda dari lemahnya iman. Karena tidak ada satu orang pun yang dapat mengukur keimanannya sendiri apa lagi mengukur keimanan orang lain. Hanya Allah lah yang dapat mengukur keimanan hamba-Nya. Allah juga menyampaikan dalam surat al-Ankabut bahwa Allah telah menguji orang-orang terdahulu dan Allah mengetahui siapakah orang yang berada pada kebenaran dan siapakah orang-orang yang berdusta. Allahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Annisa Alawiyah
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar