Menjadi Muslimah Negarawan, Ustazah Iffah Beberkan Tantangannya



TintaSiyasi.com-- Membahas peran Muslimah negarawan, Aktivis Muslimah Ustazah Iffah Ainur Rochmah membeberkan tantangannya. “Kalau menjadi negarawan, mestinya semua yang dilakukan berdimensi politik, yakni berdimensi memperhatikan urusan-urusan umat, bagaimana agar bisa membawa kemaslahatan. Nah, makanya ini tantangan,” ujarnya dalam Muslimah Negarawan: Peran Muslimah Negarawan di Tengah Sekularisme Ilmu, di YouTube Peradaban Islam.ID, Senin (27/09/2021).

Menurutnya, tantangan Muslimah negarawan pertama adalah ketika tsaqafah asing mendominasi semesta ilmu pengetahuan, Muslimah hanya tahu Islam, tapi Islam versi Barat. 

“Maka, kita akan melihat bahwa seorang muslimah tersebut tidak beda dengan orang lain yang tidak berakidah Islam.  Sama saja apa yang dia lakukan, apa yang dia pikirkan, kecuali pada aspek-aspek tertentu. Barangkali dan ini pun semakin tergerus yakni pada aspek individual, misalnya ritual ibadahnya,” terangnya. 

Kedua, komersialisasi pendidikan. Ia mengatakan hal itu juga menjadi tantangan cita-cita Muslimah Negarawan. “Misalnya sekolah, kuliah bisa milih banyak sekali bidang keilmuan. Tapi ada komersialisasi pendidikan yakni bahwa kalo pengen dapet banyak ilmu di kampus-kampus misalnya,  harus  keluar dana banyak. Kalau dananya enggak banyak, bisa enggak dapat,” imbuhnya. 

Ia menambahkan, kalau mengambil ilmu-ilmu tertentu yang kaitannya dengan penguasaan tsaqofah Islam belum tentu berkorelasi dengan  peluang kerja. “Misalnya, jurusannya ini, kalau lulus kuliah langsung ditampung oleh intansi, korporasi. Supaya bisa mengembalikan modal,” tuturnya. 

Kemudian, yang ketiga, kaum terpelajar itu cenderung berpikir parsial kebidangan. Menurutnya, hal itu sudah menjadi rahasia umum  bahwa ada penanaman primordialisme ilmu. Orang yang berilmu itu, kadang merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain.  

“Allah memang memberikan status orang yang diberikan ilmu itu, lebih tinggi beberapa derajat dibandingkan orang yang lain. Tapi bukan cuman berilmu, yang pertama dia harus beriman dulu. Jadi, ini enggak terpisah,” ujarnya. 

Ia mencontohkan, kondisi sekarang yang banyak ditanamkan bagi kaum terpelajar adalah orang yang menguasai ilmu tertentu, harus pakar di suatu bidang ilmu dan antar satu ilmu dengan ilmu yang lain. 

“Maka mereka  nggak akan mau bicara kalau bukan bidangnya. Katanya itu bidangnya ekonomi, jangan suruh saya ngomong tentang syariat. Saya bidangnya hukum-hukum positif, jangan suruh ngomong yang lain. Saya bidangnya  administrasi jangan suruh ngomong politik,” imbuhnya. 

“Karena memang mereka didoktrin untuk berfikir parsial kebidangan, apolitis dan bahkan bisa dikatakan mereka ini seringkali bermental pekerja. Cita-cita tertinggi untuk menegakkan kewajiban dan peran pokok sebagai seorang Muslimah negarawan itu hilang,” pungkasnya. [] Sri Nova Sagita

Posting Komentar

0 Komentar