Menepis Jargon Perempuan Pejuang Keluarga

TintaSiyasi.com-- Hingga kini, pandemi belum juga usai. Meski Pemerintah menurunkan level PPKM, virus Covid-19 sesungguhnya masih mengintai. Berbagai kesulitan hidup pun terus menggerus. Salah satu persoalan berat yang dihadapi masyarakat ditengah pandemi adalah pemenuhan kebutuhan sehari-hari. 

Menurunnya daya beli dan berubahnya prioritas barang konsumsi menyebabkan turunnya permintaan produksi barang dan sektor jasa tertentu. Dampaknya, beberapa sektor industri dan bisnis mengalami kebangkrutan dan berujung pada PHK karyawan. Sektor yang masih bebas beroperasi secara praktis adalah sektor barang-barang kebutuhan dasar seperti energi, pangan, kesehatan ditambah naiknya pamor jasa pasar dan ekspedisi online. 

Masyarakat dianggap cukup mampu mengatasi kondisi perekonomian saat ini. Sejak anjuran ‘tetap berada di rumah saja’ diterapkan, usaha perbaikan ekonomi keluarga dilakukan tidak jauh dari rumah. Dengan memanfaatkan modal, tenaga kerja, keterampilan, dan lokasi di sekitar rumah, masyarakat berusaha untuk tetap menghasilkan barang maupun jasa dan meraih keuntungan. Rumah-rumah penduduk berubah menjadi kantor dagang. Anggota keluarga pun menyesuaikan menjadi tenaga kerja perusahaan rumah tangga. Persekutuan modal-tenaga untuk usaha didapatkan dari dalam rumah tangga sendiri. Usaha makanan termasuk satu hal yang menghadirkan semangat baru pada wajah perekonomian masa pandemi. Usaha ini banyak dikuasai oleh kaum perempuan untuk membantu keluarga. Mereka mampu menjadi harapan baru bagi ekonomi. Maka, perekonomian keluarga pun kini bergeser dari yang tadinya banyak bergantung pada sosok ayah atau laki-laki dalam rumah tangga, kini perekonomian mulai menemukan pahlawan baru, yaitu ibu atau perempuan dalam keluarga. Pundak mereka yang lunak mulai mengeras karena sadar bahwa perempuanlah yang kini memegang kekuatan ekonomi pada keluarga. Tangan mereka tak lagi sekedar mencuci baju, memasak makanan atau sekedar merapikan rumah. Tangan merekalah yang menjadi kekuatan ekonomi keluarga agar bisa survive saat ini.

Pandemi ini mampu memunculkan potensi dan pembuktian. Perempuan menunjukkan bahwa merekalah kekuatan ekonomi di masa sulit. Perempuanlah yang terus menemukan cara baru dalam mengatasi situasi yang serba tidak terkendali. Perempuanlah yang terus memberi cahaya di situasi gelapnya ekonomi. Perempuanlah yang terus memutar roda perekonomian saat ekonomi keluarga hampir berhenti berjalan. Hingga muncul jargon, Perempuan adalah Pejuang Keluarga. Jargon ini sebenarnya sudah disematkan sejak program Pemberdayaan Ekonomi Perempuan (PEP) digulirkan. Tahun 2010 tercatat ada 92 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang dijalankan perempuan. Dan berdasarkan data perkembangan UMKMB di Indonesia tahun 2014-2018, disebutkan bahwa dari total usaha yang berjumlah 64 juta unit usaha, 99,99 persen usaha di Indonesia adalah UMKM, dimana berdasarkan survei dari Bank Dunia pada 2016 bahwa lebih dari 50 persen usaha kecil dimiliki oleh perempuan.

Lantas, benarkah para perempuan itu adalah manusia-manusia pahlawan dan pejuang? Ataukah semata faktor produksi yang potensial untuk menggerakan roda-roda ekonomi bagi sistem Kapitalisme saat ini?


Tulang Rusuk Menjadi Tulang Punggung?

Direktur Utama PT. Permodalan Nasional Madani (PT. PNM), Arief Mulyadi mengatakan bahwa hingga saat ini sudah ada sekitar 7,5 juta perempuan pra sejahtera yang telah dan sedang mendapatkan pendampingan dari PT. PNM dengan didukung oleh Kemen PPPA. Bahkan, selama pandemi Covid-19 sebagian besar perempuan pra sejahtera yang mendapatkan dampingan tersebut menjadi tulang punggung keluarga. Komisaris Independen PT. PNM, Veronica Colondam mengungkapkan bahwa kesejahteraan keluarga akan lebih terlindungi ketika Ibu terlibat dalam pendapatan keluarga dan turut dalam pengambilan keputusan dalam keluarga. Hal tersebut disampaikan dalam peringatan Hari Ibu bersama Kemen PPPA pada Desember tahun 2020 lalu, dalam webinar bertajuk “Perempuan Berdaya, Keluarga Sejahtera.”

Sementara berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perempuan bekerja biasanya akan menyisihkan 90 persen penghasilannya untuk keluarga. Hal ini juga akan berdampak besar pada pemenuhan kesehatan keluarga. Lebih jauh lagi, pengusaha mikro perempuan juga berpeluang untuk membuka jutaan lapangan pekerjaan di sektor informal.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kontribusi UMKM terhadap PDB Indonesia sebesar 61,07 persen atau setara Rp8.573,89 triliun. UMKM pun mampu menyerap 97 persen dari total tenaga kerja yang ada serta dapat menghimpun sampai 60,4 persen dari total investasi. (bisnis.com, 5/5/2021). Sehingga, UMKM diyakini mampu menjadi penyangga sistem perekonomian nasional dalam menghadapi krisis pasca pandemi. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyebut 80 persen pelaku UMKM di Indonesia dikelola perempuan. Dari 30.000 perempuan yang menjadi anggota Iwapi, 96 persennya adalah pelaku UMKM.

Namun, perempuan menemui banyak kendala dalam berwirausaha seperti keterbatasan modal, pemilikan tanggung jawab ganda, keterbatasan mobilitas, kurangnya kepemilikan properti, dan ketergantungannya pada suami. Inilah yang menjadikan PEP sangat penting dan didukung oleh banyak pihak. Dengan alasan itulah, seolah perempuan ditempatkan sebagai kunci suksesnya pembangunan, wajar jika berbagai upaya dilakukan dalam rangka mendorong perempuan untuk bisa berdaya menghasilkan materi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan jika perempuan diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki maka perempuan akan mampu berkontribusi sebesar 26 persen terhadap pertumbuhan ekonomi secara global. Sehingga menurutnya, perempuan memiliki peran penting dalam perekonomian. Hal senada diungkapkan Hillary Clinton, bahwa perempuan adalah kunci pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia. Membiarkan perempuan di rumah, tidak bekerja, sama seperti membiarkan uang tergeletak begitu saja di atas meja. Ia juga mengatakan bahwa, “ada wanita yang membersihkan kamar kecil di gedung tempat saya bekerja. Saya akan mulai menganggapnya sebagai manusia”. 


Membalik Persepsi Tentang Perempuan

Salah satu ciri khas peradaban Barat yang berideologi sekuler kapitalisme, adalah menjadikan manusia sebagai faktor produksi. Sehingga manusia disebut produktif tatkala ia mampu menghasilkan materi. Begitu pun cara pandang kapitalis terhadap perempuan. Kontribusi terbaik yang harus diberikan perempuan adalah menghasilkan produk. Barat tak mampu melihat kontribusi lain, padahal ada banyak kontribusi yang jauh lebih besar dari hanya sekadar menghasilkan materi.

Sehingga, Barat sangat mendorong perempuan untuk menghasilkan materi dan sangat menyalahkan ajaran Islam yang membelenggu perempuan. Mereka menyebut negeri-negeri Muslim sebagai penyumbang kemiskinan global, lantaran perempuannya tak turut bekerja. Padahal yang menciptakan kemiskinan di negeri-negeri Muslim adalah hegemoni korporasi yang diperkuat oleh oligarki kekuasaan. Mereka bekerja sama untuk merampok sumber daya kekayaan negeri. Inilah yang menyebabkan kemiskinan massal yang angkanya terus bertambah dan semakin tak terkendali.

Perempuan dalam kapitalisme harus berjuang banting tulang bahkan harus mengalami kelelahan fisik, psikis bahkan ancaman jiwa untuk mendapatkan haknya berupa nafkah, perlindungan, dan kebahagiaan dalam rumah tangga. Menjadi pejuang keluarga, mungkin bisa mengatasi perekonomian keluarga, namun disharmonisasi keluarga dan masa depan generasi dipertaruhkan. Demi remahan kekayaan, perempuan harus berjuang. Di saat yang sama, sumber daya alam yang melimpah ‘dijual’ oleh penguasa/ negara kepada korporasi.

Di dalam Islam, status fungsi dan peran fitrah perempuan tergambar dalam kaidah “al-ashlu fi al-mar`ati annaha ummun wa rabbatu baitin wa hiya ’irdhun yajibu an yushana”.  Kaidah ini bermakna ’hukum asal perempuan adalah sebagai ibu dan pengatur rumah, dan ia adalah kehormatan yang harus dijaga’. Kaidah ini digali dari sekumpulan nash Al-Qur’an dan hadis.

Maka tugas utama sebagai perempuan dalam Islam adalah menjadi ibu yang melahirkan generasi, mendampingi tumbuh kembang anak, membekali mereka dengan pengajaran hidup dasar dan utama serta melengkapinya dengan skill untuk penyiapan perannya kemudian. Ia juga adalah pengatur rumah tangga yang akan melakukan perlindungan tatalaksana keluarganya, bagaimana melindungi keluarga inti untuk mendapatkan kebutuhan akan ketersediaan makanan yang halal dan thayyib, menata rumahnya agar nyaman ditinggali melalui tangan-tangan terampil dan karakter bijak lembutnya perempuan. Secara fitrah perempuan menyukai bagaimana ia berkreasi dengan rumahnya dari menata kamar tidurnya, ruang tamu, ruang makan, dapur dan seisi rumahnya. Ia juga akan merawat dirinya sehingga senantiasa tampak menyenangkan bagi suaminya. Ia mampu mewujudkan semua hal tersebut dengan jaminan penuh finansial yang disediakan suaminya atau dari walinya bagi yang belum menikah. Perempuan dalam Islam ibarat ratu dunia, dan bila kelak meninggal dengan keshalihan dan ketaatannya akan mengantarkan ia sebagai bidadari surga. Realitas yang terbalik dalam kehidupan kapitalistik.


Penutup

Hidup dalam sistem kapitalisme telah membuat semua orang sibuk dan fokus dengan urusan materi dunia. Tidak hanya kaum perempuan, namun juga laki-laki dan anak-anak. Slogan perempuan pejuang keluarga adalah bagian dari desain program pemberdayaan perempuan kapitalisme yang menjadikan perempuan sebagai bemper ekonomi. Sekalipun keadaan terpaksa menuntut perempuan turun membantu keluarga, status fungsi dan peran fitrahnya haruslah tetap terlaksana. 

Islam telah memposisikan perempuan dalam kedudukan yang mulia. Bahwa perempuan bukanlah pejuang ekonomi, namun ia adalah kehormatan yang wajib dijaga, dan calon bidadari surga. Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Noor Hidayah
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar