Melawan Poligami, Menentang Syariat

TintaSiyasi.com-- Sehari saja program Solidaritas Tiga Pihak yang digagas oleh sebuah partai Islam berlaku. Tanggal 30 September ditandatangani oleh ketua umumnya, keesokan harinya sudah dicabut. Bukan main sambutan aktivis gender yang mengatasnamakan perempuan. Program dalam rangka menyelesaikan masalah para janda dan anak yatim ini, di mata para aktivis gender adalah bentuk pelecehan kepada perempuan. Menurut mereka, pandangan menikahi janda adalah membantunya, sama saja menghambat kesetaraan gender yang tengah diperjuangkan. Apalagi dinikahi dalam pernikahan poligami, yang tidak akan mewujudkan kebahagiaan ala mereka.


Poligami adalah Syariat

Berbincang masalah poligami di masyarakat, pasti tak akan ada habis pro kontra tentangnya. Semakin kesini, kaum sekular semakin melawannya, dengan melabelinya sebagai akibat budaya patriarki. Mereka tidak menyadari bahwa syariat yang diturunkan oleh Allah SWT adalah solusi untuk permasalahan hidup manusia, dan Maha Suci Allah dari sifat menzalimi makhluk-Nya, termasuk perempuan. Maka, surat An Nisa' ayat 3 diturunkan oleh Allah untuk mengatur pernikahan poligami. 

Dalam kitab Nizamul Ijtimaiy yang ditulis oleh seorang mujtahid mutlaq, Taqiyuddin an Nabhani, kebolehan menikah dua, tiga, dan empat bersifat mutlak. Tidak ada illat (pembangkit hukum)yang menyertai, yang menjadikan alasan poligami boleh dilakukan. Dan ketentuan harus adil di ayat yang sama, adalah kewajiban yang harus dilakukan ketika seorang suami berpoligami. Karena kalimat perintah menikahi 2,3, atau 4 perempuan di ayat tersebut adalah kalimat sempurna, bukan kalimat majemuk. 

Praktik berpoligami yang dituding sebagai penyebab beberapa masalah sangat bersifat kasuistik. Di masa lalu, keluarga yang melakukan praktik poligami yang sesuai syariat, terlihat sebagai keluarga yang seru. Memiliki banyak keturunan, hubungan silaturahmi yang berjalan dengan baik, berbuah suasana harmonis dalam kehidupan keluarga mereka, juga di masyarakatnya.

Poligami, faktanya bisa dijadikan sebagai jalan keluar untuk beberapa masalah yang menimpa keluarga, juga pada perempuan. Rasulullah mencontohkan, beliau berpoligami, menikahi para janda sahabat beliau yang syahid untuk menjaga kehormatan mereka. Meskipun tidak bisa dipungkiri, seperti hukum syara' yang lain, kemudahan pelaksanaan poligami butuh penerapan syariah secara kaffah, butuh penerapan sistem politik Islam, sistem pendidikan Islam, dan sistem ekonomi Islam, tetapi hukum poligami tetap, tidak berubah.


Akar Masalah Perempuan

Akar masalah kesejahteraan yang melanda perempuan bukan karena diterapkannya syariat Islam di tengah-tengah mereka. Sistem ekonomi kapitalisme lah yang menjadikan bukan hanya perempuan yang merasakan kesulitan hidup, tetapi juga kaum pria. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin yang ditunjukkan oleh semakin tingginya rasio gini menegaskan kepada kita bahwa si kaya semakin berpeluang menumpuk hartanya, sedangkan masyarakat dari kalangan menengah ke bawah hanya berpeluang mengais harta sisa-sisa.

Jadi, bukan dengan memaksa perempuan untuk ikut bekerja keras atas nama kesetaraan yang akan menjadikan perempuan sejahtera. Segala kebutuhannya terpenuhi, dia tidak pula harus bekerja keras ikut berandil dalam hitungan pendapatan perkapita negara. Tidak perlu. Dia hanya fokus pada kewajibannya mendidik anak-anakmya dan menjadi istri. Masalah pemenuhan ekonomi? Tenang saja. Syariat sudah mengatur, para perempuan adalah tanggungan walinya. Bilapun dia menjadi janda, maka ayah, paman, dan saudara laki-lakinya akan bertanggung jawab atasnya. Bila dia tidak memiliki wali, maka negaralah yang akan bertanggung jawab atas kehidupannya, begitu pun atas anak-anaknya.

Jangan dibayangkan semua itu terjadi di masa sekarang. Semua itu bisa terjadi di tengah-tengah penerapan syariah kaffah. Sistem ekonomi Islam yang dijalankan, adalah satu-satunya sistem ekonomi yang memperhatikan aspek distribusi. Memastikan setiap individu bisa memperoleh kebutuhannya, bukan hanya bagi perempuan. []


Oleh: Khamsiyatil Fajriyah
(Sahabat TintaSiyasi)3

Posting Komentar

0 Komentar