Marak Jeratan Pinjol, Ustazah Dedeh: Dampak Penerapan Sekularisme dan Kapitalisme


TintaSiyasi.com-- Maraknya jeratan pinjaman online (pinjol) dinilai Konsultan dan Trainer Keluarga Sakinah Hj. Ir. Dedeh Wahidah Achmad, sebagai akibat dari penerapan sekularisme dan kapitalisme yang sudah menggurita. 

"Ini diakibatkan dampak sekularisme yang semakin kuat dan kapitalisme yang sudah sangat menggurita, maka orang tidak menilai lagi halal-haram," ujarnya dalam diskusi Jerat Pinjol di Era Fintech, Apa Solusinya? di Kanal YouTube Muslimah Media Center (MMC), Sabtu (23/10/2021). 

Ia menuturkan, riba yang jelas-jelas diharamkan Allah SWT ternyata semakin marak. "Ketika yang diharamkan atau yang maksiat semakin banyak, ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah makin jauh dari kita. Ini yang membuat saya ngeri," mirisnya. 

Ia mengatakan, sekarang yang sedang diupayakan untuk legalisasi nampaknya pinjaman online ilegal. Artinya, kalau dilegalkan berarti boleh, sekalipun tidak berbeda dari sisi berbahayanya maupun mencekiknya. 

"Berarti negara akan melegalkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat Allah. Jadi ke depannya semakin miris lagi, sehingga kehidupan kita dilingkupi dengan berbagai macam kemaksiatan yang dilegalisasi oleh negara," imbuhnya. 

Menurutnya, ada beberapa faktor legalisasi, setidaknya ada empat faktor. Pertama, kalau pun masyarakat memahami bahwa riba itu haram, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 275:

وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ 

"Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." 

"Namun pengetahuan itu hanya sebatas pengetahuan tidak sampai menjadi standar perbuatannya," ujarnya. 

Ia mengatakan, itu adalah dampak sekularisme yang semakin kuat. Yakni, orang memahami agama hanya sebagai teori tidak merasa penting untuk diterapkan. 

"Kedua, saya melihat tidak sedikit juga kaum Muslim tidak memahami dengan benar konsep riba. Ada yang menganggap kalau ribanya sedikit tidak berlipat ganda atau ribanya stabil, misal tiap bulan hanya 10 persen, dan bulan depan 10 persen, itu dianggap tidak haram," paparnya. 

Ia mengartikan, ada faktor kelemahan pengetahuan hukum Islam. Hal itu, tidak terlepas dari pengaruh sistem pendidikan yang ada hari ini. 

"Sistem pendidikan kita orientasinya bukan bagaimana menjadikan Islam sebagai standar kehidupan, sebagai penilai benar-salah, tapi orientasinya lebih hanya sekadar akademis. Ini juga dampak dari kapitalisme-sekularisme," tegasnya. 

Ketiga, yang berbahaya adalah negara ikut berperan melegalkan yang haram, melegalkan pelanggaran syariat Islam. Itulah yang menunjukkan bahwa rezim yang berkuasa adalah rezim kapitalis-sekuler. 

Keempat, dampak kapitalisme sudah sangat menggurita, tekanan hidup semakin sulit. "Ketika kemiskinan, kefakiran semakin mencekam, maka orang tidak menilai lagi halal-haram. Ini menunjukkan pada kita dampak kapitalisme tidak menyejahterakan, namun justru menjerumuskan orang untuk melakukan pelanggaran," terangnya. 

Solusi

Selain itu, Ustazah Dedeh Wahidah juga menawarkan solusi Islam, tentang bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi hal tersebut. Ada tiga solusi yang dibeberkan agar seorang individu Islam terbebas dari jerat pinjol. 

"Pertama, seorang Muslim harus memahami Islam dengan benar. Bahwa Islam bukan hanya sekadar pengetahuan dan harus ditanamkan dalam hati baik secara aqidah. Bahwa akidahlah yang akan menyelamatkan dia. Dengan apa Islam menyelamatkan dia? Dengan aturan Islam yang diterapkan," tuturnya.  

Kedua, umat Islam harus paham bahwa riba banyak jenisnya. Ia berharap, jangan sampai pengetahuan umat terbatas dan dianggap itu bukan riba. Artinya, yang harus dilakukan individu adalah memahami riba, baik fakta maupun syariatnya. 

"Di satu sisi kita harus semakin menguatkan akidah bahwa Allah SWT tidak mungkin memberikan rezeki dengan cara yang haram. Rezeki itu ada dua, ada yang halal dan yang haram. Allah SWT memberikan kemampuan kepada kita untuk memilih yang halal," jelasnya. 

Ia mengutip di surah At-Talaq ayat 2 sampai 4, bahwa Allah SWT telah memberikan jaminan kepada kita, bahwa barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dari malapetaka di dunia dan di akhirat. 

"Ketiga, kita memahami masalahnya adalah sistem. Kita sebagai individu Muslim tentu tidak hanya berpangku tangan. Ketika kita memahami bahwa yang paling memberikan kontribusi maraknya riba baik yang legal maupun ilegal adalah sistem sekuler-kapitalis, maka kita ikut bertanggung jawab," tukasnya. 

Lanjut dikatakan, jika umat diam terhadap kemaksiatan yang sistemis, maka akan terkena peringatan dari Rasulullah SAW, yakni doanya orang yang paling shalih pun tidak akan didengar oleh Allah SWT. 

"Berarti ada upaya yang dilakukan supaya Islam semakin dipahami oleh masyarakat sehingga Islam bukan hanya diyakini tapi dijadikan sistem kehidupan sehingga nanti akan ada perubahan dari sekularisme-kapitalisme menjadi sistem Islam," pungkasnya.[] Lanhy Hafa

Posting Komentar

0 Komentar