L96T Berlenggang, Negara Tampak Membiarkan, Prestasi atau Musibah?

TintaSiyasi.com-- Miss Queen Indonesia 2021 yang merupakan kontes kecantikan bagi para transgender telah terselenggarakan di Bali. Dimana Millen Cyrus dengan nama asli Muhammad Millendaru Prakasa yang juga merupakan keponakan dari Ashanty itu berhasil memenangkan kontes tersebut. Ia kemudian berhak ikut Miss Internasional Queen 2021 di Thailand (Terkini, 2/10/2021).

Kampanye LGBT ini nampak semakin semarak dan bahkan dinampakkan semakin berkelas. Di sisi lain pergerakan ini selalu mendapatkan angin segar dengan hadirnya berbagai dukungan dan apresiasi dari berbagai pihak. Begitu pun negara nampak membiarkan. Bahkan tak tanggung-tanggung ajang kampanye ini  akan dibawa ke tingkat global sebagai ajang bergengsi. Yaitu menuju ajang Internasional bernama Miss International Queen. Miss International Queen sendiri kontes kecantikan prestisius bagi para transgender dunia. Ajang itu pertama kali digelar di Kota Pattaya, Thailand sejak 2004.

Ajang kampanye LGBT ini dulu masih sangat dihinakan selain dianggap perbuatan yang tidak lazim juga melanggar nilai-nilai agama. Sebagaimana yang diketahui ini merupakan perbuatan kaum Nabi Luth yang dilaknat oleh Allah SWT.  Namun, karena masifnya kampanye yang dilakukan dengan payung HAM perilaku menyimpang ini semakin mendapat ruang. 

Merebaknya perilaku menyimpang ini tentu bukanlah tanpa sebab. Melainkan sistem kapitalisme sekulerlah biang keroknya. Kesenangan duniawi semata yang menjadi tujuan sedang agama dibuang dari kehidupan jadilah lahir kebebasan yang dituhankan (liberalisme). 

Mengejar kesenangan duniawi semata menjadikan manusia buta akan kehidupan yang sesungguhnya. Inilah manusia-manusia kapitalis yang menjadi budak-budak dunia. Maka tiadalah berguna aktivitas mereka kecuali hanya melakukan kerusakan demi kerusakan semata. Seperti halnya LGBT ini, yang akan memusnahkan keturunan, memunculkan penyakit sosial, fisik maupun psikis serta berbagai tindakan kriminal lainnya.

Bagaimana kita teringat kasus Raynhard Sinaga seorang terpelajar dan terpandang mensodomi 160 korbannya secara berantai. kemudian pada tahun 1996 Si Robot Gedek menyodomi 12 anak dan membunuhnya. Begitupun dengan perceraian.  Setidaknya di setiap tahun 500 ribu pasangan suami istri di Indonesia memutuskan biduk rumah tangganya karena puluhan kasus berawal karena ternyata suaminya gay atau istrinya yang lesbian.

Selanjutnya para pemuja dunia inipun bisa melakukan apa saja untuk kepuasan duniawinya, seperti korupsi, pembunuhan demi kekuasaan dan kekayaan, free sex, melakukan kecurangan, manipulasi bahkan perilaku tak lazim lainnya seperti pesugihan dan pertumbalan. 

Begitupun dengan sekularisme yang menjadi asas kapitalisme mewajibkan agama dibuang jauh-jauh dari tatanan kehidupan. Agama tidak boleh lagi masuk dalam aturan kehidupan. Jadilah lahir manusia-manusia anti agama (islamophobia) dan bahkan segala yang berbau agama akan distigma negatif. 

Lihat saja bagaimana umat Muslim hari ini yang dituduh dengan berbagai fitnah seperti terorisme, ekstrimisme, radikalisme dan diskriminasi. Umat Muslim jadi bual-bualan, dibunuh, disiksa, diusir, dan dilecehkan. Jadi tidak heran jika para ulama pun mendapat banyak diskriminasi yang tidak ada keadilan hukum di sana. 

Begitupun dengan berbagai ajaran agama Islam yang juga ditentang dan bahkan dikecam. Dianggapnya sebagai hukum yang tidak adil, seperti hukum waris, kepemimpinan dan kemuliaan seorang Muslimah di mata agama. Yang semua itu dijadikan bahan fitnah mereka tanpa ilmu. Jadi tidak heran jika banyak terjadi penghapusan undang-undang yang berasal atau berbau syariat di negeri ini. Yang kemudian diganti dengan undang-undang sesuai yang mereka kehendaki.

Begitu pula dengan liberalisme (kebebasan) sebagai anak kandung kapitalisme menjadikan semua perilaku manusia di atas kebebasan. Kebebasan dijamin dengan payung hukum HAM (hak asasi manusia). Atas dasar inilah semua perilaku manusia dapat dijamin kebebasannya tentu selain dari agama.

Sebenarnya jika mau jujur kebebasan yang digaung-gaungkan ini adalah kebebasan utopis. Sebab, meski di atas kebebasan (HAM) jangan harap umat Muslim dapat dengan mudah pula melakukan ketaatan totalitas kepada Tuhannya. Jadi, kebebasan yang mereka buat itu tiada lain adalah kebebasan diatas standar yang mereka buat dan untuk kepentingan mereka bukan untuk perlindungan kebebasan manusia sendiri.

Ini berarti kebebasan itu tidak akan pernah ada dalam kehidupan, sebab secara fitrahnya manusia itu butuh aturan. Yang ada hanyalah peperangan antara kebenaran dan kebatilan. Bagaimanapun cara berperang itu, baik dengan fisik maupun pemikiran. Jika kebenaran yang unggul maka akan mengalahkan kebatilan begitupun sebaliknya jika kebatilan unggul maka akan menghalangi kebenaran, sebagaimana halnya yang terjadi hari ini. 

Tentu semua ini akan berbeda bagaimana Islam memandang perbuatan manusia. Umat Muslim akan memahami bahwasanya kehidupan dunia ini bukanlah kehidupan yang dicari melainkan hanya tempat bersinggah. Karena akan ada kehidupan yang abadi, akhirat. Sedang dunia adalah tempat menanam atau beribadah yang semua perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. 

Sedang di sisi lain manusia adalah makhluk yang lemah dan terbatas, sehingga ia butuh aturan dan bimbingan dalam menjalani kehidupan di dunia.  Di sinilah fitrah manusia bahwa mereka membutuhkan sesuatu yang lebih kuat, untuk pengayom, pelindung, sandaran, dan pemberi petunjuk yang jauh lebih kuat darinya manusia tentunya, yaitu Penciptanya. Inilah gharizah tadayun (naluri beragama).  

Naluri beragama adalah fitrah manusia untuk hidup sesuai aturan, perintah dan larangan Allah. Di sinilah manusia akan menjalani kehidupan sesuai petunjuk, mana yang bisa membawa kemaslahatan dan mana yang bisa membawa kemudharatan. Jadilah manusia tidak serampangan dalam beraktivitas. 

Dengan petunjuk manusia akan lebih produktif dan membawa kepada kemajuan. Sebagaimana sejarah islam mencatatnya. Berbagai pintu-pintu kemaksiatan akan ditutup, seperti halnya LGBT yang akan dihukum mati. 

LGBT adalah penyakit kejiwaan, maka sejak awal harus dipandang sebagai penyakit yang harus disembuhkan. Bukan difasilitasi dengan kemudahan-kemudahan. Maka sejak dulu Islam akan mencegah lahirnya sikap LGBT dalam diri seseorang. Yakni memposisikan laki-laki sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan.

Islam mengatur kehidupan sosial dengan sempurna. Melarang wanita berpakain pria dan pria berpakaian wanita. Serta melarang kampanye LGBT dalam ruang publik baik di TV atau di film. Dengan itu akan menjadi pencegah bagi lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Dengan demikian manusia akan terhindar dari perilaku menyimpang dan  berbondong-bondong kepada kemaslahatan, berlomba-lomba dalam kebaikan yaitu ibadah dan menuntut ilmu. Wallahu a'lam. []


Oleh: Ulianafia
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar