Ketika Pernikahan Dini Kian Menjamur

TintaSiyasi.com-- Bak jamur yang tumbuh di musim hujan, kasus pernikahan dini masih terus meningkat. Istilah pernikahan dini muncul sebagai respon terhadap fenomena pernikahan pasangan usia muda (sebelum delapan belas tahun) yang mayoritas disebabkan salah pergaulan. Tidak hanya tumbuh subur di kota-kota besar, pergaulan bebas antara muda-mudi pun kian marak di kota-kota kecil.

Magelangekspres.com (8/10/2021) melansir, Kasus pernikahan dini di Kabupaten Temanggung mengalami kenaikan hingga 300 persen. 50 persen dari kasus tersebut disebabkan karena hamil di luar nikah. 

“Tahun ini kasus penikahan dini sangat tinggi, yang sudah masuk ke kami ada 300 kasus,” ujar Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Temanggung Totok Cahyo Nugroho, saat menyampaikan sosialisasi anti perundungan dan kekerasan anak di SMP Negeri 3 Kedu, Kamis (7/10).

Ia menyebutkan, dari kasus tersebut 50 persen di antaranya karena memang hamil di luar nikah dan 50 persen lainnya karena minimnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat terhadap tingkat kerawanan pernikahan dini.

Menurutnya, pernikahan dini di Kabupaten Temanggung sebagian besar terjadi di daerah-daerah pinggiran. Sumber daya manusia (SDM) di daerah tersebut sangat mempengaruhi tingginya kasus pernikahan dini.

Sementara itu, KPAI Temanggung menegaskan bahwa pergaulan bebas yang berimbas pada hamil di luar nikah menjadi salah satu faktor menjamurnya pernikahan dini di Kabupaten Temanggung.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, terus melakukan sosialiasi antiperundungan dan kekerasan terhadap anak di sekolah-sekolah.
"Sasaran tidak hanya siswa sekolah, kami juga menyasar target lainnya agar ke depan masyarakat Temanggung bisa semakin memahami bahaya perundungan, pernikahan dini, narkotika, dan lainnya," kata Ketua KPAI Kabupaten Temanggung Totok Nurgiyanto di Temanggung, Kamis. Ia menyampaikan hal tersebut usai sosialisasi antiperundungan dan kekerasan terhadap anak di SMP Negeri 3 Kedu, Kabupaten Temanggung. Totok mengatakan pergaulan bebas yang terjadi di kalangan anak usia sekolah saat ini juga harus semakin ditekan, karena dengan pergaulan bebas bisa menjadi salah satu pemicu adanya pernikahan dini (jateng.antaranews.com, 8/10/2021).


Kapitalisme Tumbuh Suburkan Pergaulan Bebas

Kapitalisme yang asasnya sekularisme merupakan sistem hidup yang berorientasi pada kesenangan duniawi (materi). Tak ayal, segala perbuatan yang menurut seseorang bisa menghantarkan pada kesenangan duniawi akan dilakukan. Kapitalisme tak mengenal istilah wajib; sunah; haram; makruh. Sebab negara yang menganut kapitalisme-sekularisme tidak menjadikan aturan Ilahi sebagai rujukan atau sumber dalam menetapkan undang-undang.

Perkara pergaulan misalnya, hubungan antara laki-laki dan perempuan dipandang sebagai hubungan seksualitas (kelelakian dan keperempuanan). Sehingga aktivitas seperti pacaran dan semacamnya, bahkan prostitusi nampak sebagai gaya hidup. Mirisnya, generasi muda disibukkan dalam perkara asmara yang melenakan. Energi positif masa mudanya menguap, teralihkan dengan persoalan virus merah jambu.

Naluri manusia yang salah satunya adalah naluri melestarikan jenis akan nampak atau terasa kuat apabila terdapat faktor-faktor yang merangsang pikiran manusia. Jika tak ada faktor perangsang, maka dorongannya biasa saja. Akan tetapi, faktor-faktor yang merangsang munculnya dorongan seksualitas dalam sistem kapitalisme ini sangat banyak dan bertebaran. Media massa menyajikan tayangan yang serba mempertontonkan aurat dan campur baur antara laki-laki dan perempuan. Tayangan-tayangan tersebut cukup berpengaruh besar terhadap mafhum (persepsi) masyarakat terkait tatacara pergaulan antara laki-laki dan perempuan.


Pernikahan dalam Sudut Pandang Islam

Manusia adalah makhluk yang dianugerahi akal; naluri; dan kebutuhan jasmani oleh Sang Khaliq. Salah satu naluri yang diberikan Allah pada manusia adalah naluri melestarikan jenis/keturunan, yang penampakannya adalah adanya dorongan seksualitas. Hanya saja, Allah sebagai Al Khaliq dan Al Mudabbir tak membiarkan manusia begitu saja dalam pemenuhan naluri maupun kebutuhan jasmaninya. Allah SWT telah menurunkan seperangkat panduan/aturan kepada manusia dalam hal pemenuhan naluri maupun kebutuhan jasmani.

Perkara naluri melestarikan jenis misalnya. Pemenuhan naluri melestarikan jenis diatur oleh Allah SWT melalui pernikahan. Sebagaimana firman Allah dalam Surat An Nur ayat 32 berikut ini:

وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Lagi Maha Mengetahui."

Pernikahan dalam Islam tak mengenal istilah "Pernikahan Dini". Menikah adalah aktivitas ibadah yang mengharuskan suami dan istri memahami hak dan kewajiban masing-masing. Pernikahan dalam sudut pandang Islam tidak dibatasi oleh umur mempelai, apakah masih di bawah delapan belas atau tidak. Islam menetapkan syarat dan rukun pernikahan dengan rinci namun tidak memberatkan kedua belah pihak. Pernikahan bukan ajang melampiaskan hawa nafsu semata, melainkan sebagai cara untuk melestarikan jenis manusia sesuai dengan fitrah penciptaannya.

Selain itu, hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam adalah hubungan tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Pergaulan antara laki-laki dan perempuan bukan mahram diatur sedemikian rupa. Tidak ada senda gurau atau campur baur antara laki-laki dan perempuan bukan mahram. Allah SWT sangat paham karakteristik dari makhluk-Nya. Oleh karena itu, pencampakan aturan Allah dalam kehidupan sehari-hari terbukti menyebabkan terjadinya berbagai kerusakan dan kemaksiatan. 

Walhasil, bukankah kita rindu dengan kehidupan yang diterapkan hukum-hukum Allah secara menyeluruh di dalam negeri maupun luar negerinya? Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Happy Ummu Syakila
(Aktivis Dakwah Islam)

Posting Komentar

0 Komentar