'Kaum Pelangi' Semakin Berani


TintaSiyasi.com-- Saat ini negeri kita tengah dilanda wabah Covid-19 dan wabah ini pula telah menjangkiti dunia. Namun ada wabah juga di negeri ini yang tidak ditanggulangi serius yang menginfeksi generasi manusia yaitu LGBT. Baru-baru ini ada sebuah kontes kecantikan yang diselenggarakan di Bali pesertanya adalah kaum pelangi ini. Sepak terjang mereka kian hari semakin berani karena ada celah dan ruang pembiaran yang diberikan secara leluasa. Seolah dianggap bukan virus yang berbahaya sehingga dengan mudahnya mereka mendapatkan pengakuan secara perlahan-lahan. Bisa dibayangkan ke depannya jika gerakan dan kampanye mereka untuk diakui di tengah masyarakat dibiarkan maka akan mematikan generasi manusia. 

Mengapa mereka leluasa melakukan aktivitasnya? Tentu ini semua dilakukan atas dasar pertimbangan kemanusiaan yaitu HAM yang lahir dari rahim sekularisme.  Dan yang pasti atas nama kebebasan mereka kembali menjujung tinggi hak asasinya. Mereka mengganggap dirinya sebagai kaum yang terjebak dengan situasi yang sulit dan keadaan yang membuat mereka harus menentukan kenyamanan identitas mereka.

Bahkan lebih parahnya mereka sudah diberikan panggung di tengah publik untuk berbicara dan mengkampanyekan identitas mereka yang tidak salah. Kondisi ini tak bisa dibiarkan karena perlahan sebenarnya mereka akan mencari komunitas lebih besar lagi. Apa yang mereka lakukan di bawah kebebasan sistem sekuler hari ini membuat mereka leluasa melakukan apa saja. Dengan dukungan lembaga tertentu dan bahkan abainya negara akan perilaku mereka serta tidak dianggapnya sebagai sebuah bahaya maka lambat laun bisa menjadi kerusakan di tengah masyarakat.  

Kaum pelangi harus dihentikan dengan cara mengopinikan mereka sebagai sebuah penyakit di masyarakat. Dan menyampaikan ke pada umat dengan bersyukur atas kodrat dari Ilahi atas identitas sejak kecil yang sudah ditentukan apakah laki-laki ataupun perempuan. 

Islam sebagai agama yang haq telah menjaga jiwa manusia agar bersyukur dan fokus menunaikan kewajibannya sebagai seorang manusia baik dia laki-laki ataupun perempuan. Serta menutup celah untuk menyerupai laki-laki ataupun perempuan. Karena aturan Islam itu jelas bukan samar dalam mengatur manusia yang berjenis kelamin laki-laki ataupun perempuan. 

Islam mengatur hubungan interaksi laki-laki dan perempuan dengan aturan yang jelas dan tegas. Seperti dalam berpakaian seorang laki-laki dan perempuan diperintahkan menutup auratnya. Dan ada perbedaan tentunya bagi kaum perempuan yaitu mereka di perintahkan mengenakan jilbab (QS al-Ahzab : 59) dan dipadukan dengan kerudung (QS an-Nur : 31). Mengatur batasan aurat sesama laki-laki dan batasan aurat sesama perempuan. Selain itu Islam juga mengatur pemisahan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan. Dalam hal pendidikan juga Islam membangun nya atas dasar keimanan bukan jinsiyah atau naluri seksual sehingga akan terbentuk generasi yang takut kepada Allah senantiasa mengawasi mereka. Dalam perkara jual beli Islam juga menutup celah terjadinya interaksi yang menyimpang yang dibangun adalah hubungan jual beli antara penjual dan pembeli untuk meraih ridha Allah berupa keberkahan.

Dan yang terakhir suasana Islami akan dibangun di ruang publik termasuk iklan yang dipajang di jalanan ataupun media sosial dan televisi adalah membangun nuansa Iman. Serta menutup celah konten pornografi dan pornoaksi sehingga penyakit masyarakat seperti LGBT ini tidak mewabah karena Allah sangat murka akan hal ini.

"Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yakni orang-orang zalim itu karena kezalimannya, mereka pasti mendapat siksa yang demikian. Adapula sebagian mufassir mengartikan bahwa negeri kaum Luth yang dibinasakan itu tidak jauh dari negeri Mekah." (QS Huud : 82-83). []


Oleh: Susanti Widhi Astuti, S.Pd
(Guru)

Posting Komentar

0 Komentar