Kampanye L687 Lewat Ajang Kecantikan, Negara Miskin Proteksi


TintaSiyasi.com -- Ajang kecantikan bagi para transgender kini kian marak terjadi, baru-baru ini telah diselenggarakan di Bali. Millen Cyrus terpilih sebagai Miss Queen Indonesia 2021. Miss Queen Indonesia 2021 adalah kontes kecantikan bagi kaum transgender di Bali.

Dalam kemenangan Millen Cyrus pada ajang ini, ia berhak mengikuti Miss International Queen 2021 di Thailand. Millen Cyrus melaporkan di Insertlive atas banyaknya ejekan atas keterlibatannya. Komentar negatif pun dilontarkan kepada keponakan Ashanty ini. Acara ini pun memiliki pro dan kontra. Makassar.terkini.id (02/10/2021).

Lagi-lagi dunia maya digemparkan dengan adanya ajang kecantikan bagi para transgender. Ajang ini pun diberi dukungan oleh warganet untuk sang pemenang yang tampil di ajang sejenis di tingkat global.

Kampanye ini sangat diramaikan oleh pegiat LGBT dimana hal ini semakin bebas dan masyarakat semakin ‘toleran’ terhadap kerusakan ini. Kita perlu waspada, karena negara melakukan pembiaran dan tidak menutup semua pintu penyebaran ide juga perilaku LGBT karena adopsi kebebasan dan HAM liberal ini.

Sebagai seorang muslim, kita wajib melihat masalah LGBT ini dengan menggunakan kacamata Islam. Agar kita tahu lebih mendasar terkait penyebabnya, juga agar mendapatkan solusi tuntas dalam perspektif islamnya. Kita perlu hati-hati agar tidak terjebak dalam opini dari para pendukung LGBT ini, dimana mereka menghalalkan segala caranya, juga mereka memberikan alasan yang tidak logis untuk membela perilaku seperti halnya kaum Luth kala itu. 

Banyak hal yang dapat kita lakukan agar dapat kembali ke jalan yang benar yakni dimulai dengan sadar akan LGBT itu telah menyalahi syariah, juga tidak sesuai dengan fitrahnya manusia, dan pastinya akan ada permasalahan baru yang akan datang. Perilaku yang menyukai sesama jenis dimana hal ini berorientasi pada seksual, seperti lesbi itu salah satu dari maksiat. Sebagaimana Allah SWT. berfirman

“(Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya, kamu melampiaskan syahwatmu kepada sesama lakilaki, bukan kepada perempuan. Kamu benarbenar kaum yang melampaui batas’.” (TQS. al-A’raf:  80-81)

Telah diingatkan oleh Nabi Muhammad SAW. perihal hal transgender ini yakni terdapat pada hadits berikut ini, 
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melaknat kaum laki-laki yang menyerupai wanita dan melaknat pula kaum wnaita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari)  

Jika kita sudah mengetahui bahwa perbuatan ini termasuk dalam maksiat, pasti akan mendatangkan permasalahan ataupun musibah yang akan Allah SWT. turunkan. Karena dengan adanya perintah untuk kita tidak boleh mendekati maksiat, itu sudah jelas bahwa untuk mendekatinya saja kita tidak boleh, apalagi melakukannya. Allah SWT. tidak pernah bercanda dengan perintahnya, bisa kita lihat dari kejadian yang menimpa kaumnya nabi Luth karena telah melakukan penyimpangan. Allah SWT. menimpakan azab yang sangat besar dan dahsyat, dengan membalikan tanah tempat tinggal mereka, dan diakhiri hujanan batu yang membumihanguskan mereka, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Hijr ayat 74.

Yang terkena azab bukan hanya pelaku LGBT melainkan seluruh ummat. Kemudian jikalau kita sudah mengetahui akan dahsyatnya azab Allah SWT. kita tidak boleh berdiam diri, karena seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, ini bukan perihal mengganggu urusan pribadi melainkan rasa kepedulian untuk kebaikan kita bersama. 

Oleh karena itu kita tidak boleh berdiam diri, apalagi berhenti menyuarakan penolakan LGBT ini, jika kita berdiam diri sama halnya kita mendukung LGBT serta para aktivis LGBT semakin gencar menyebarkan opini yang menyesatkan. 

Bagi pengemban dakwah harus lantang menyuarakan kebenaran, kita bisa menguatkan diri dengan Rasulullah SAW.:  “Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan yang melanggarnya adalah seperti kaum yang menumpang kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu mereka berkata: ‘Andai saja kami lubangi (kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan menyakiti orang-orang yang berada di atas kami’. Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas (padahal mereka tidak menghendaki), akan binasalah seluruhnya. Dan jika dikehendaki dari tangan mereka keselamatan,  maka akan selamatlah semuanya”.  (HR. Bukhari)

Kemudian jikalau sudah terlanjur banyak yang mendukung perilaku LGBT ini, harus ada tindakan yang tegas dalam mengatasinya. Di sinilah peran negara sangat dibutuhkan untuk membina keimanan, serta menanamkan ketakwaan pada masyarakat.

Dengan adanya peran negara yang bersikap tergas terhadap perilaku LGBT sangat mungkin sekali rakyat tidak akan terjerumus dalam lembah hitam.

Peranan negara sangat dibutuhkan seperti membuat aturan dengan memfilter tayangan yang akan diberikan kepada masyarakat. Memblokir situs-situs pornografi yang menjadi salah satu pemicu LGBT.

Sebagai seorang muslim, segala aktivitas kita telah diatur dalam Al-Qur’an. Terkait perilaku LGBT terdapat hukumam yakni berupa siksaan ataupun deraan yang sifatnya dapat menyembuhkan, menghilangkan homoseksual, juga memutuskan siklus ini dari konsumsi masyarakat. Bagaimana caranya? Yakni dengan menerapkan hukuman mati bagi para pelaku sodomi baik subyek ataupun obyeknya. Sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda: 

“Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku (yang menyodomi) dan pasangannya (yang disodomi).” 
(HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi).

Dengan adanya hukuman yang tegas perilaku LGBT bisa dihilangkan sehingga tercipta rasa keamanan, keseimbang di dalam masyarakat. Semua itu hanya bisa didapatkan jika Syariah Islam diterapkan secara total di bawah naungan institusi Khilafah. 

Lantas bagaimana agar pelaku LGBT ini bisa kembali pada jalan yang benar? Kita bisa memulai kebaikan dengan mengkaji Islam, dimana kita harus kenal Islam secara kaffah serta bagaimana peranan islam dalam mengatur kehidupan sehari-hari kita. Karena jikalau kita tidak mengkaji Islam secara kaffah, lantas mau mulai kapan? Toh tidak ada jaminan terkait kematian kita esok hari kelak. Untuk itu kita hanya bisa memaksimalkan amalan kebaikan dimulai dari hari ini dan sampai esok hari kita menjumpai dengan ajal.
Wallahu’alam bishawwab.

Oleh: Sanyya Ahfa
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar