JKDN 2 itu Nyata! UIY: Mereka Itulah yang Ahistoris



TintaSiyasi.com-- Membedah fakta di film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara II (JKDN 2), Cendekiawan Muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menilai, yang mengatakan bahwa perjuangan khilafah di Nusantara ahistoris, sebenarnya mereka itulah yang ahistoris.

"Kalau ada yang mengatakan bahwa perjuangan khilafah di Nusantara ini ahistoris merekalah yang mengatakan itu yang ahistoris. Ahistoris tuh kan artinya tidak punya basis historis, tidak punya dasar historis,” beber UIY dalam Bedah Film Jejak Khilafah di Nusantara II (JKDN 2), Ahad (24/10/2021) di YouTube Media Umat.

Ia menegaskan, secara faktual bahwa jejak khilafah di Nusantara itu nyata ada. Jadi, cara menunjukkan sejarah itu dengan bukti tidak ada cara lain. "Bahwa kalau di JKDN I itu bukti-bukti itu mungkin bisa diinterpretasi lain. Misalnya ada makam dari keturunan Khalifah Abbasiyah di Aceh. Mungkin orang akan mengatakan tidak defined (ditentukan) atau indikatif, lantas ada hubungan politik mungkin orang bisa mengatakan begitu," bebernya.

Ia memaparkan, JKDN 2 memiliki bukti-bukti yang kuat. “Tapi kalau JKDN II tidak bisa diartikan lain karena relasi antara para Sultan dengan para khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani itu wujudnya adalah sebuah korespondensi baik itu dalam bentuk surat maupun dalam bentuk pengiriman utusan langsung,” terangnya.

Menurutnya, korespondensi itu bukan korespondensi biasa. Tapi, korespondensi politik yang terjadi di antara dua institusi politik yang bukan setara. Ia menegaskan, hal itu menunjukkan korespondensi politik antara yang dipimpin dengan yang memimpin, antara cabang dan pusat.

“Bahkan sampai-sampai detik terakhir ketika khilafah runtuh. Reaksi umat melalui tokoh-tokohnya dari berbagai organisasi yang ada pada waktu itu Sarekat Islam, Muhammadiyah, kemudian Tasyu’ul Afkar, Al Irsyad dan yang hadir itu adalah tokoh-tokoh puncaknya,” ujarnya. 

“Dari Sarekat Islam itu hadir Kiai Haji Agus Salim, dari Muhamadiyah HOS Cokro Aminoto, Haji Fachrudin dari Muhammad Syukarti itu menunjukkan korelasi itu telah memberikan impact psikologis yang sangat dalam. Buktinya mereka langsung bereaksi, kan tidak mungkin tidak ada reaksi jikalau tidak ada relasi yang dalam,” bebernya.

Ia menerangkan, mereka menyelenggarakan pertemuan besar yang disebut Kongres Al-Islam Hindia Belanda II. Menurutnya, pertemuan itu tidak lain adalah memberikan respons terhadap di abolisinya Kekhalifahan Utsmani oleh Kemal Pasha dan reaksi itu itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat ingat pada tahun 1924. 

“Jadi ini semua menunjukkan peristiwa reaksi umat, ini juga hampir-hampir hilang dari peredaran. Saya kira sangat sedikit, kalau tidak boleh kita katakan. Tidak ada umat Islam sekarang yang mengetahui sejarah ini, karena kan ini hampir-hampir tidak tertulis oleh buku-buku sejarah. Jangan lagi sejarahnya, wong materi ajarannya aja sudah dihapus dari buku iya toh,” tambahnya.

Ia menegaskan, jika pun sejarahnya masih ada itu bukan secara indikatif. Sementara ia melihat, sejarah yang sangat indikatif dan ini berumur satu abad. “Jadi kita mau bilang apa lagi kalau sudah begitu faktanya atau buktinya. Karena itu kalau pakai istilah anak muda JKDN II ini 'telak' menunjukkan bahwa jejak khilafah di Nusantara itu memang sangat nyata,” pungkasnya.[] Sri Nova Sagita

Posting Komentar

0 Komentar