JKDN 2: Dominasi Militer Kesultanan Aceh Tak Lepas dari Pendidikan Jihad yang Diberikan Khilafah Utsmaniyyah


TintaSiyasi.com-- Film Jejak Khilafah di Nusantara 2 (JKDN 2) mengatakan, dominasi militer kesultanan Aceh di kawasan tak lepas dari pendidikan jihad dan teknologi yang diberikan Khilafah Utsmaniyyah.

“Bersinarnya dominasi militer Kesultanan Aceh di kawasan tidak bisa dilepaskan dari pendidikan jihad dan teknologi pendukungnya yang diberikan Khilafah Utsmaniyyah terhadap rakyat Aceh,” ujarnya, di Gala Premier Film Jejak Khilafah di Nusantara 2, Rabu (21/10/2021) via daring.

Ia menyampaikan, semenjak menjadi bagian khilafah Utsmaniyyah di masa khalifah Selim II, Kesultanan Aceh berkembang menjadi kekuatan Islam yang sangat diperhitungkan di Asia Tenggara, ditakuti lawan dan disegani kawan.

“Negara-negara Eropa di abad ke 16 dan 17 seperti Inggris, Prancis, Spanyol dan Denmark tidak berani berbuat macam-macam di Nanggroe. Adapun Portugis yang masih menguasi Malaka selalu dibuat cemas, dengan keadaannya yang terkepung oleh dominasi Aceh di Sumatera dan di Semenanjung Melayu,” paparnya.

Ketua Majelis Adat Aceh Prof. Farid Wajdi,. M.A, dalam film tersebut menuturkan, di Banda Aceh ada namanya Gampong Bitay. Bitay dulu oleh orang asing disebut Beta, kemudian berubah menjadi Bitay. Di situ ada namanya Baik disebut Baytul Maqdis dan Baytal Maqdis. Itu adalah nama institusi lembaga Akmil (Akademi Militer) di Banda Aceh. Tapi yang luar biasanya, dalam catatan yang Ia lihat instrukturnya ada 100 orang semuanya dari Turki.
Narator lanjut mengatakan, pendidikan agama dan militer yang diberikan Utsmaniyyah di Gampong Bitay terbuka untuk kaum Muslim dan Muslimah. Tunas-tunas unggul, digembleng oleh tenaga-tenaga yang unggul yang dikirim dari negara terunggul pimpinan Sang Khalifah.

"Tidak mengherankan, jika kemudian Akademi Militer dari Baytul Maqdis di Gampong Bitay muncul Pahlawan Mujahidah yang harum namanya: Laksamana Malahayati, Muslimah tangguh yang menjadi ajudan Sultan Aceh," katanya.

Ia juga mengungkapkan, Armada Kesultanan Aceh yang digdaya melibatkan semua elemen rakyat, mulai dari ulama, orang kaya, pedagang, sampai kaum Muslimahnya telah membawa Aceh menjadi negara maju. Mulai dari militer, ekonomi, politik, sampai semesta keilmuan dan budaya. Semua aspek tersebut ada di bawah payung syariat islam, yang mencapai puncak kegemilangan di Era Sultan Iskandar Muda.

Sultan Iskandar Muda

Direktor Pedir Museum Masykur Syafrudin dalam film tersebut mengungkapkan, abad ke 17 tokoh sentral atau tokoh utama dalam pemerintahan Aceh Darussalam adalah Sultan Iskandar Muda, ataupun Seri Sultan Perkasa Alam Johan Berdaulat. "Anak dari Sultan 'Ala'uddin Sayyid Al-Mukammil," tuturnya.

JKDN 2 mengatakan, Raja Islam yang beroleh martabat, memerintahkan hukum dan adat di negeri Aceh Darussalam.

"Betapa Kuat Sultan Iskandar Muda berpegang teguh pada syariat Islam sampai-sampai Ia tidak segan untuk memberikan segala pelaku penyelewengan hukum Allah dan Rasul-Nya. Bahkan tatkala anaknya sendiri yang bernama Meurah Pupok yang melanggar Syariah, Ayahnya sendiri yang menjatuhkan hukumannya," terangnya.

Prof. Farid, kembali menuturkan, sebagai orang Islam Sultan Iskandar Muda bilang anak-anak Nabi, dikatakan kalau anakku Fatimah mencuri Aku yang potong tangan. Iskandar Muda mau seperti itu. "Apa yang kurang anakku? kamu semua dapat, kenapa kamu lakukan itu? Akhirnya dia bunuh. Coba bayangkan kalau bukan karena Islam, tidak ada di dunia seperti itu," tegasnya.

Selain itu, narator menegaskan, tidak berhenti di Aceh, Islam telah membangkitkan izzah dan kemuliaan para Sultan yang telah mengambil agama ini sebagai pedoman utama kehidupan, mulai dari Banten dan tanah Jawa samapai ke Makassar dan Buton di sebelah timurnya. “Tentu semua itu diberi legitimasinya oleh Khilafah Islamiyah Amirul Mu'minin dunia yang bersinggah sana di Istanbul,” tuntasnya.[] Lanhy Hafa

Posting Komentar

0 Komentar