Jangan Marah Bunda, Bersikap Bijaklah


TintaSiyasi.com-- Seringkali kita mengalami situasi yang tidak diinginkan yang menimpa anak-anak kita. Katakanlah anak lagi main sepeda dengan temannya pulang-pulang di atas pelipis matanya berdarah dan pipinya terluka yang cukup lumayan, sambil meringis anak tidak mau menceritakan karena merasa bersalah. Ternyata dia bukan memakai sepedanya sendiri, tapi dibonceng teman bermainnya, bertiga di atas sepeda. Menghadapi realitas seperti ini kalau lagi kuat kesabarannya, sang bunda akan berbicara lembut, “Baiklah nak, bila merasa bersalah lain kali lebih hati-hati bersepedanya, tandanya anak laki-laki itu kuat pantang menyerah dan selalu bisa ambil pelajaran dari kekeliruannya”.

Tapi saat bunda lagi banyak pikiran dan kerjaan apa lagi tidak enak hati bisa-bisa bilang begini, “Tuh kan, apa kata umi udah dinasehati jangan main melulu, jangan keluar melulu, di rumah saja kalau umi gak ada di rumah, jangn keluyuran terus, gak nuruti kata umi, rasa kan tuk akibatnya”. Astaghfirullahalazhiim. “Udah jatuh kena damprat pula sama umi, sakitnya tuh disini". (sambil nyunsep di bawah bantal, terisak nangis, padahal pas jatuhnya gak nangis).

Ada pula kejadian saat anak-anak kita diasuh nenek dan kakeknya, di hadapan kita ternyata nenek dan kakek berlaku kasar kepada anak kita, karena tingkah polah anak-anak yang super aktif dan mengacak-acak seisi rumah. Saat dibentak anak tersebut menangis sedih, gak paham dia melakukan salah apa, lalau menghampiri umi sambil laporan bahwa dia baru saja dimarahin nenek kakek. Nih kalau umi lagi emosi bisa menyalahin nenek kakek  di depan anak dan belain anaknya. Soalnya si umi merasa tersinggung karena merasa tertuduh tidak bisa mendidik anaknya. Akhirnya anak dapat perlindungan umi dari bentakan nenek kakek.

Atau kejadian anak dimarahi guru di sekolah karena kenakalannya memprovokasi teman-temannya untuk bolos sekolah, mengingat gurunya galak padahal usianya baru 7 tahun. Datanglah sang guru ke rumah menemui uminya dan marah-marah menceritakan betapa anak kita nakal sampai-sampai berinisiatif mengompori teman-temannya bolos. Kalau uminya rada sensitif nih, bisa-bisa belain anaknya mati-matian dan menyalahkan guru yang tidak bisa mendidik, kan anak di sekolahin itu agar mempunyai akhlak yang baik, lantas apa kerjaan guru di sekolah kalau gak bisa mendidik anak-anak. Ditambah lagi ungkapan ini dilontarkan di hadapan anaknya. Senangnya anak merasa dibelain walaupun salah. Atau bisa juga karena khawatir disalah-salahkan pihak sekolah dan merasa sudah mendidik benar, anaklah yang  dimarah-marahin di depan guru tersebut. Kamu nih ya, udah umi nasehati berkali-kali tetap saja nakal, tidak nurut sama orang tua, sekarang guru pula yang kamu kerjakan. Bisa bayangkan deh betapa bertambah hancur pendidikan yang diberikan kepada anak.

Menghadapi kasus-kasus di atas bisakan kita berlaku bijak bunda, tentunya harus bisa dan ambillah kejadian itu bagian dari pembelajaran yang baik dan efektif buat si buah hati. Ini beberapa hal yang mungkin bisa diambil langkah-langkahnya:

Pertama. Jangan mengasuh dan mendidik anak dalam kondisi marah, karena kemarahan akan menambah rusaknya mental anak, bukannya tambah menurut tapi tambah pembangkangannya. Segeralah setenang mungkin ingat larangan Allah dan rasul-Nya, “Jangan marah“. Kalau toh pun ingin marah ke anak, maka marahlah karena proses pendidikan buat anak, bahwa yang dilakukannya tidak sesuai akhlak Islam dan apapun yang bertentangan dengan syariat Allah wajib ditinggalkan.

Kedua. Kenali potensi anak-anak kita dan kecenderungan dia, apakah kenakalannya emang mengarah kepada kriminal ataukah hanya kenakalan anak-anak biasa yang sebenarnya berpotensi untuk menjadi pemimpin masa depan. Anak yang susah diatur dan sukanya punya ide-ide yang tidak dipikirkan oleh yang lainnya, berarti anak itu sesungguhnya sangat cerdas, disini butuh motivasi aqidah dan mengarahkan jiwa kepemimpinan ke arah yang islami, seperti kasus memprovokasi temannya untuk membolos sekolah, berarti anak punya kemampuan untuk memimpin. Nah bagaimana potensi ini biar bisa melejit ke arah kepemimpinan yang benar, coba dipikirkan bunda.

Ketiga. Selalu ingat bahwa tujuan kita dalam mendidik anak adalah membentuk kepribadian Islam, ya, membentuk kepribadian Islam. Karenanya pola pikir dan pola prilaku anak harus senantiasa diasah menjadi pola yang islami, selalu berproses kepada terbentuknya kepribadian yang tangguh. Jangan terburu buru anak segera berubah instan, yang penting langsung dikerjakan anak tanpa proses yang memadai yaitu proses pembentukan pemahaman yang kokoh yang dilandasi akidah. Misalkan saat anak punya kebiasaan suka meludahi temannya, maka tempuhlah proses pembentukan pemahamannya sehingga pemahaman itu yang mendorongnya untuk berubah bukan karena takut dimarahi uminya.

Keempat. Bila anak berada dalam lingkungan yang tidak sepenuhnya arus kebiasaan islami, misalkan di sekolahkan ke sekolah sekuler, maka melatih anak untuk terbiasa amar makruf nahyi munkar harus lebih diperhatikan, agar dia memposisikan sebagai pengamban dakwah kecil yang selalu ingin membenahi perkara-perkara yang salah dari teman-temannya. Dalam kondisi ini kepekaan rasa dakwah anak harus lebih selalu dilatih.

Kelima. Dalam situasi apapun baik anak dalam keadaan benar atau salah, jadikan itu pembelajaran bagi anak, jangan lewatkan momen tersebut begitu saja, tapi harus bisa menjadi bagian bahan ajar yang efektif untuk membentuk kepribadian anak. Bila anak dihadapkan pada kesalahan dirinya maka proporsionallah melihat keadaan, jangan membela anak ketika dia salah dan jangan menyalahkan saat dia sebenarnya benar dan tidak sengaja berbuat kesalahan.

Pada dasarnya dalam menghadapi setiap anak itu artinya umi berhadapan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluriah anak. Kuasailah itu dan cermat mengamati, jangan sampai salah dalam pemenuhan. Misalkan anak nangis sebenarnya kebutuhannya tidur tapi dipaksa makan atau kebutuhannya makan dipaksa tidur. Sebenarnya yang dia butuhkan adalah pemenuhan naluri nau’ dengan kasih sayang yang membuat dia nyaman, tapi kita berikan kebutuhan naluri baqa’ dengan memarahinya yang sesungguhnya saat itu tidak dia butuhkan. Anak butuh pemenuhan naluri tadayun kita berikan pemenuhan kebutuhan fisik, nyuruh dia tidur. Nah jadi berantakan kan? []


Oleh: Ustazah Yanti Tanjung
(Pakar Parenting Islam)

Posting Komentar

0 Komentar