Hari Santri, Upaya Pengaburan Sejarah untuk Kepentingan Penjajah?


TintaSiyasi.com -- Kalau mau jujur, tanggal 22 Oktober itu lebih tepat disebut sebagai Hari Resolusi Jihad bukan Hari Santri. Karena pada tanggal tersebut di tahun 1945, KH Hasyim Asy'ari menyerukan jihad untuk mengantisipasi kedatangan pasukan Sekutu (yang dipimpin Inggris) dan Belanda.

Sehingga ketika para kafir penjajah tersebut kembali datang, rakyat yang dipimpin ulama dan santri langsung menyambutnya dengan pekikkan takbir dan acungan senjata. Dan pecah perang besarlah antara kaum Muslim versus penjajah yang puncaknya terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya.

Itulah alasannya mengapa pada 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Mengapa ada Hari Pahlawan? Karena ada jihad melawan kafir penjajah. Mengapa ada jihad melawan kafir penjajah? Karena ada Resolusi Jihad 22 Oktober. 

Spesifik dan sangat nyambung dengan Hari Pahlawan kan? Sedangkan Hari Santri itu terlalu umum, meskipun yang menjadi tulang punggung memobilisasi massa untuk berjihad adalah para santri.

Kalau mau keukeuh dengan istilah Hari Santri, ya semestinya 10 November juga disebut sebagai Hari Santri dong jangan sebagai Hari Pahlawan. Benar enggak? Karena memang tulang punggung dalam memobilisasi Resolusi Jihad (22 Oktober) dan Perang Surabaya (10 November) adalah para santri. Mengapa 10 November dijadikan Hari Pahlawan bukan Hari Santri juga? Hayoh.

Sejatinya kaum Muslim yang sami'na wa atha'na atas seruan jihad ulama tersebut untuk melawan kafir penjajah bukan saja sebagai pahalawan (orang yang berpahala banyak), lebih dari itu mereka adalah para syuhada yang langsung dijamin masuk surga tanpa hisab. Aamiin.

Refleksi untuk kita di masa sekarang, maka jadikanlah spirit Resolusi Jihad ini untuk semakin semangat melawan penjajahan masa kini yang dilakukan secara non militer oleh Amerika Serikat dan Negara Cina. Bukan malah menjadi anteknya agar disebut sebagai moderat dan tidak radikal. 

Sayangnya, Hari Santri yang dirayakan hari ini tidak dikaitkan sama sekali dengan semangat melawan penjajahan. Apalagi sejak sebelum Hari Santri ditetapkan, upaya memoderasi santri untuk lunak pada penjajahan telah intensif diupayakan. 

Lebih celakanya lagi, upaya melunakan para santri kepada kafir penjajah dilakukan semakin sistematis dan struktural melalui UU Pesantren 2019. Walhasil, merayakan Hari Santri saat ini spiritnya bertentangan 180 derajat dengan Resolusi Jihad. 

Dari gejala yang ada, tampak sekali ada upaya pengaburan sejarah seruan jihad dengan istilah Hari Santri untuk kemudian dibelokkan ke makna yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan semangat jihad melawan penjajahan. Sehingga patut dicurigai, Hari Santri merupakan upaya pengaburan sejarah untuk melindungi kepentingan penjajah.[] 


Depok, 15 Rabiul Awal 1443 H | 22 Oktober 2021 M


Joko Prasetyo
Jurnalis

Posting Komentar

0 Komentar