Filolog: Sumpah Pemuda Tidak Lepas dari Polemik Antara Kaum Islamis dan Sekularis


TintaSiyasi.com -- Menggali sejarah Sumpah Pemuda, Filolog Salman Iskandar mengatakan, dalam uraian sejarah sumpah pemuda tidak terlepas dari polemik di antara pemuda Islamis dengan pemuda sekularis. 

"Kalau dalam uraian sejarah itu, tidak terlepas dari polemik di antara kaum Islamis dan juga kaum sekularis, ya. Di antara para pemuda Islam dengan para pemuda yang sudah tersekulerkan atau sudah terbaratkan oleh Kolonial Hindia Belanda," ujarnya di Youtube Ngaji Shubuh; Sumpah Pemuda 28 Oktober, Diantara Islamis vs Sekularis, Jumat (22/10/2021). 

Ia menelaah lebih lanjut, berkenaan dengan para pemuda Islam melawan pemuda sekularis yaitu sejak munculnya ide Pan Islamism melawan Ide Nasional Movement yang kemudian mengemuka di Nusantara khususnya di Jawa Dwipa. 

"Jadi, memang iya, polarisasi di antara kaum muda atau para pemuda Islam melawan para pemuda sekuler itu sejak awal mula munculnya ide-ide yang dikembangkan oleh para pemikir, cendekiawan, kalangan terdidik di antara Bumiputera," katanya. 

Ia menerangkan bahwa masing-masing berkubu kepada ide yang di perjuangkan. 

"Kalau para pemuda Islam itu, mengikuti  apa yang kemudian bergema di dunia Islam pada waktu itu berkenaan dengan konsepsi Pan Islamism, atau yang kita kenal dengan Ittihadi Islami atau Persatuan Islam  atau ada yang mengindikasikannya dengan Jam'iyah Islamiyah ataupun bagaimana persaudaraan dunia Islam," terangnya. 

Ia melanjutkan, bahwa ide tersebut diemban oleh tokoh-tokoh Islam dan tanpa terkecuali juga komponen diantara para pemudanya. Mereka pun kemudian mengusung yaitu ide yang dikenal sebagai Pan Islamism. 

"Nah, sedangkan Nasional Movement atau pergerakan nasional atau gerakan kebangsaan yang kemudian netral agama bahkan anti terhadap dogma, doktrin agama. Bahkan dalam konteks ini kemudian tidak peduli terkait dengan syariat agama khususnya dalam konteks ini adalah Islam," bebernya. 

Ia menjelaskan, gerakan kebangsaan sedari awal kemunculannya sudah memiliki pemahaman sekuler. Sudah memiliki pemahaman yang anti terhadap keyakinan keagamaan yang mengatur hajat hidup masyarakat dan bagaimana kemudian syariat agama khususnya syariat Islam menjalankan kepemimpinan, kekuasaan, ketatanegaraan dan berpemerintahan. 

"Makanya kemudian, sedari awal ide Nasional Movement atau gerakan kebangsaan ini sudah diposisikan sebagai lawan bagi tokoh-tokoh Islam ataupun para pemuda Islam," jelasnya. 

Ia mengungkapkan, telah terjadi polarisasi di antara dua kubu yaitu diantara Pan Islamism dan Nasional Movement, antara para pemuda Islam dengan para pemuda sekuler, antara tokoh-tokoh Islam dengan tokoh-tokoh sekuler. 

"Itu kemudian mengemuka di Nusantara semenjak ide dari awalnya tadi sudah mengemuka dan itu bermunculan semenjak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20," pungkasnya.[] Nabila Zidane

Posting Komentar

0 Komentar