Buang Jauh Sistem Selain Islam

TintaSiyasi.com-- Sampai saat ini, derita yang dialami oleh kaum Muslim tak kunjung usai. Lagi dan lagi, silih berganti peristiwa mewarnainya. Penindasan, penyiksaan, pelarangan, bahkan pembunuhan menjadi sesuatu yang terus terjadi. Dan semuanya menimpa pada umat mayoritas, yaitu Muslim. Suriah, Palestina, Rohingya, Kashmir, Uighur, Yaman, dan negeri-negeri muslim lainnya telah merasakannya. Bahkan fakta terbaru, Muslim Uighur dituduh sebagai teroris yang kemudian berakibat pada reeducation camp.  
 
Kaum Muslim diperbolehkan untuk belajar (mengkaji) sistem pemerintahan di luar Islam. Misalnya bentuk negara dan sistem pemerintahan republik, presidensial, dan yang lainnya. Akan tetapi lain halnya ketika kaum Muslim mengkaji sistem pemerintahan Islam. Pelarangan secara nyata tampak adanya, seperti adanya kejadian kriminalisasi pada orang yang mengkajinya. Kemudian monsterisasi akan seluruh ajaran Islam. Padahal, layaknya sebagai seorang Muslim maka menjadi suatu kewajiban untuk mengkaji secara menyeluruh akan ajaran dan sistem Islam. Karena hal tersebut sebagai panggilan akidah yang seharusnya wajib kita penuhi seruannya.  
 
Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Ketua LBH Pelita Umat Chandra Purna Irawan, S.H., M.H. Beliau menyampaikan bahwa agenda International Muslim Lawyer Conference (IMLC) ini bertujuan mencari solusi perlindungan hukum terhadap kaum Muslim dan ajaran-ajaran Islam. Berikut juga dari potensi kriminalisasi dan monsterisasi terhadap ajaran Islam seperti niqab, hijab, jihad, dan sistem pemerintahan Islam seperti khilafah, IMLC ini menghadirkan berbagai pengacara dan pakar hukum dari berbagai negara untuk membahas problematika yang kini dihadapi oleh umat Islam. Di antaranya adalah penjajahan, pengusiran, dan pembunuhan, seperti yang terjadi di Kashmir, Palestina, Rohingya, Suriah, Uighur, Yaman, dan negeri-negeri Muslim lainnya. Ketua LBH Pelita Umat mengajak para lawyer, praktisi dan akademisi hukum serta siapa pun yang bergelar sarjana hukum untuk melakukan pembelaan terhadap Islam dan kaum Muslim. Tentunya dengan landasan atau dasar atas dorongan akidah, bukan yang lainnya (mediaumat, 3/10/2021).
 
Lawyer asal Yaman Ramzi Naseer menyatakan tidak ada dalam kamus umat Islam bahwa umat Islam memiliki masalah sendiri-sendiri. Ia mengatakan, masalah kaum muslim di Myanmar, Kashmir, Afghanistan, dan di seluruh dunia adalah masalah bagi umat Islam sedunia. Karena sejatinya persoalan atau permasalahan yang ada dilihat dari kaca mata akidah yang akan melahirkan solusi yang pastinya sesuai dengan syariat Islam. Cara pandang nasionalisme yang sekarang bukanlah cara pandang Islam. Hal tersebut yang menyebabkan saat ini umat Islam menjadi terpecah belah. Salah satu contohnya masalah Palestina. Kaum Muslim memandang bahwa persoalan tersebut adalah masalah bersama, namun akhirnya kian sempit seolah hal tersebut menjadi persoalan bangsa Arab saja hingga akhirnya menjadi urusan dari bangsa Palestina.  
 
Layaknya yang terjadi di Yaman, nasionalisme akhirnya membawa pada negeri tersebut menjadi perebutan antara Inggris dan Amerika. Adu domba mewarnai situasi di sana, sehingga kezaliman benar-benar nyata adanya. Solusi atas kezaliman itu tak lain adalah dengan mewujudkan Khilafah Islamiyah. Tentunya agar mampu memenuhi hak manusia dan menghilangkan kezaliman (mediaumat, 05/10/2021).
 
Sedih bercampur iba jika kita melihat penderitaan yang di alami oleh saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia. Betapa tidak, nyawa manusia dengan mudahnya mereka hilangkan. Rasa iba serta belas kasih sudah tidak ada lagi dalam benak mereka. Lantas bagaimana seharusnya? Kemana orang-orang penggiat HAM? Mungkin pertanyaan tersebut yang akhirnya muncul dalam pikiran kita. Lalu, bagaimana dalam Islam?  
 
Islam adalah agamanya yang sempurna dan paripurna. Tak hanya mengatur masalah hubungan manusia dengan Rabb-nya saja yang terlihat dari aktivitas ibadah. Namun lebih lengkap dari itu, Islam pun mengatur hubungan yang lainnya. Hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan dirinya sendiri. Semua itu ada rambu-rambunya secara jelas terpampang dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW. Begitu pula dengan lini kehidupan manusia, semua ada aturannya baik dalam hal pendidikan, sosial, ekonomi, dan yang lainnya. 
 
Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (TQS. An-Nisa: 93).
 
Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (TQS. Al-Maidah: 32). 
 
Kemudian Sabda Rasulullah SAW, “Bagi Allah, Hancurnya bumi beserta isinya adalah lebih ringan dibanding terbunuhnya seorang muslim”.
 
Begitu amat mulia serta berharganya nyawa seorang Muslim, sampai-sampai Allah sendiri memberikan azab yang sangat pedih ketika ada orang yang dengan sengaja membunuh seorang Muslim. Bahkan dalam hadis dikatakan hancurnya dunia ini lebih ringan ketimbang terbunuhnya seorang Muslim. Subhanallah, begitu luar biasanya penjagaan Islam terhadap nyawa seorang Muslim. 
 
Penulis sangat setuju dengan apa yang telah disampaikan oleh kedua pembicara pada agenda IMLC. Saat ini nyawa seorang Muslim tak ada harganya. Kita ditindas, dilecehkan, bahkan sampai dibunuh sesuai dengan kehendak mereka (orang-orang kafir). Tak ada pelindung dan pengayoman terbaik. Hanya Islam sajalah yang mampu benar-benar menjadi pelindung dari seluruh kaum Muslim di dunia tanpa kecuali. Sehingga kita perlu menegakkan sebuah institusi yang mampu menerapkan Islam secara menyeluruh dan sempurna. Tak lain, institusi tersebut adalah Khilafah Islamiyah. Khilafah akan menjaga diri-diri Muslim serta ajaran Islam. Termasuk akan mencetak pemimpin yang akan amanah terhadap tanggung jawab yang ada di pundaknya. 

Mari melangkah bersama, satukan tujuan serta berjuang bersama untuk dapat mewujudkannya agar kehormatan dan nyawa kaum Muslim dapat terjaga. Buang jauh sistem selain Islam, agar kejadian genosida tidak akan pernah terulang kembali. Wallahu a’lam. []


Oleh: Mulyaningsih 
(Pemerhati Masalah Anak, Remaja, dan Keluarga)

Posting Komentar

0 Komentar