Bersinarnya Dominasi Militer Kesultanan Aceh, JKDN2: Instrukturnya Seratus Orang dari Turki



TintaSiyasi.com-- Bersinarnya dominasi militer Kesultanan Aceh, Ketua Majelis Adat Aceh Prof. Farid Wajdi, M.A. mengungkapkan, instrukturnya seratus orang dari Turki, tepatnya, Kekhilafahan Turki Utsmani.

"Akademi Militer di Banda Aceh di mana-mana, ada kan itu disebuah negara, tapi yang luar biasanya adalah instrukturnya 100 orang, yang saya lihat dalam catatan itu semua dari Turki," ungkapnya dalam film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara II (JKDN2), Rabu (20/10/21).

Diterangkan dalam film tersebut, Banda Aceh ada namanya Kampung Bitay. Bitay itu dulu kepada orang asing disebut Beta kemudian berubah Bitay. "Di situ ada nama Baik sebut Baitul Maqdis ada sebut Baital Maqdis, itu nama institusi lembaga Akmilnya, Akademi Militernya," ungkapnya.

Dalam film JKDN dijelaskan, pendidikan agama dan militer yang diberikan khilafah Ustmani di Gampong Bitay terbuka untuk kaum Muslim dan Muslimah. Hasilnya, tunas-tunas unggul, digembleng oleh tenaga-tenaga unggul yang dikirim dari negara terunggul pimpinan Sang Khalifah. 

Tidak mengherankan, jika kemudian dari Akademi Militer Baytul Maqdis di Gampong Bitay, muncul pahlawan Mujahidah yang harum namanya: Laksamana Malahayati, Muslimah tangguh yang menjadi ajudan Sultan Aceh.

"Malahayati menjadi Panglima Pasukan laut itu, ada yang tulis 2000, ada yang tulis 3000 tetapi semua perempuan. Namanya Inong Bale, bahasa Aceh itu Inong Bale itu janda. Inong Bale itu, Bale itu Balai. Jadi disebutlah janda itu dia pimpin," jelasnya dalam tayangan tadi.

JKDN 2 memaparkan, armada kesultanan Aceh digdaya yang melibatkan semua elemen rakyat mulai dari ulama, orang kaya, pedagang, sampai kaum Muslimahnya, telah membawa Aceh menjadi negara maju.

Mulai dari dunia militer, ekonomi, politik sampai semesta keilmuan, budaya, dan semua aspek diungkap JKdN II ada di bawah payung syariat Islam, yang mencapai puncak kegemilangannya di era Sultan Iskandar Muda.

"Islam itu sendiri, itu sudah mendarah daging bagi Aceh sendiri siapapun orangnya, kan itu sudah bagian dari kehidupan. Saya tidak tahu bagaimana memisahkan daging, mana sistem pemerintah, mana adat. Nah, itu kan sudah menyatu sendiri, sehingga itu sudah jadi bagian dari sistem pemerintahan, kita sebut begitu," tandasnya. [] Isty da'iyah

Posting Komentar

0 Komentar