Bahasan Radikal, Digoreng Lagi


TintaSiyasi.com -- Kata radikal memasuki trending di twitter, walau saat kamis sore (07/10) tidak memasuki posisi teratas namun perbincangan kata radikal kerap kali dibahas oleh netizen. Hal ini dipacu oleh headline media geloranews yang mengangkat bahwa dari hasil riset banyak aparatur negara yang terindikasi radikal dan intoleran. (Gelora.co 7/10/2021)

Ada yang menanggapi hal tersebut dengan bijak yaitu agar diselaraskan atau disamakan makna radikal di seluruh elemen masyarakat, bahkan dengan tajam salah satu netizen tersebut mengatakan jika kata radikal menjurus pada sebuah kelompok, tunjukkan dengan jelas kriterianya. Atau ada juga yang menanggapi terkait indikasi pada isi berita tersebut. 

Namun tanggapan salah satu netizen jika radikal dikaitkan dengan diajari mengaji maka ia akan mengajari anak-anaknya juga radikal. Karena sejatinya radikal belum memiliki makna yang jelas ditengah masyarakat dan hanya memunculkan kecurigaan satu sama lain. Hal ini yang membuat masyarakat juga bosan dengan bahasan "radikal-radikul" karena ada bahasan yang lebih penting dibandingkan mencurigai atau membuat perpecahan di tengah-tengah ummat. 

Dilansir dari media indonesia.go.id, media yang diluncurkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), November 2018. Website yang memuat semua tentang Indonesia kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. (katadata.co.id 10/12/2018), ternyata kata radikal sudah dibahas dilaman etimologi yang berjudul "Istilah Radikal Harus Diganti?", dikatakan bahwa diakhir bahasan ada tiga kelompok yang dimaksud yaitu notabene bermaksud mengganti Pancasila dan UUD 1945 dengan sistem lain, yaitu Sistem Khilafah, aktivitas politik kelompok tertentu yang bersifat ekstrem, yang bukan saja tak segan menggunakan cara-cara kekerasan, memaksakan kehendak, melainkan lebih jauh bahkan tak jarang juga melakukan praktik terorisme serta kelompok yang sebenarnya memiliki sikap dan nilai-nilai antidemokrasi. ( indonesia.go.id 07/11/2019)

Adapun penulis pahami bahwa definisi radikal sesuai dengan bahasan di laman tersebut, namun kiranya terlalu tendensius dan menggebu-gebu ketika dikaitkan dengan salah satu agama yang menjadi agama mayoritas dunia. Seolah-olah agama tersebut yang menjadi akar permasalahan, padahal bukanlah demikian. 

Agama menjadikan seseorang ada dalam kebaikan, tentu dengan ajaran agama ia mendapatkan arah dalam hidup. Terutama dalam agama Islam, Islam tidak mengajarkan kekerasan atau memaksakan kehendak ataupun hal-hal yang disebutkan diatas. 

Makna radikal memang berada posisi netral bisa menjadi ke arah baik ataupun buruk. Tetapi radikal dalam beragama tentu bukan hal yang pantas dicurigai dan bukan hal yang selayaknya ada ditengah-tengah ummat yang seharusnya harmonis dalam sikap kemanusiaan. 

Maka, tanggapan penulis dengan bahasan radikal seharusnya sudah tidak perlu dibuat skenario yang panjang. Tidak pantas juga jika sebuah negara memerangi agama.

Teladan ummat manusia, teladan terbaik Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam dengan segala sikapnya tetap mengajarkan berbuat baik, terhadap muslim maupun non-muslim. Islam juga memaknai keragaman sebagai hal yang sudah menjadi kealamian penciptaan dan untuk saling kenal mengenal, hanya oknum-oknum yang sakit serta tidak memahami ajaran Islam yang membenci Islam atau mencurigai Islam sebagai hal yang radikal.

Maka sudah saatnya kita memahami Islam secara menyeluruh, tidak tendensius membandingkan yang berasal dari Pencipta dan aktivitas kita sebagai hamba. Karena sejatinya kita hanya diminta untuk taat atas aturan pencipta bukan makhluk Nya. Karena kita akan kembali pada Ilahi dan mempertanggungjawabkan hidup kita dari mulai berkeluarga hingga bernegara. 

Wallahu'alam bishawab.

Oleh: Yauma Bunga Yusyananda
(Member Ksatria Aksara Kota Bandung)

Posting Komentar

0 Komentar