Advokat: Setiap Orang Sama di Mata Hukum, Tapi Belum Tentu Sama Di Mata Penegak Hukum


TintaSiyasi.com-- Advokat Aziz Yanuar mengatakan, semua orang belum tentu sama di mata penegak hukum. "Sebenarnya memang setiap orang sama di mata hukum, akan tetapi belum tentu sama di mata penegak hukum," ungkapnya dalam acara Bincang Hangat Tak Lelah Melawan Kezaliman, Ahad, 26 September 2021 di YouTube UIY Official.

Walaupun advokat ini melihat diskriminasi hukum atas kliennya, namun Aziz tak lelah melawan kezaliman dengan menempuh cara-cara yang konstitusional dan memang sudah diatur dalam skema perundang-undangan dan penegakan hukum di republik ini.

Saat ditanya Ustaz Ismail Yusanto (UIY) mengenai ketidaksamaan di mata hukum yang dialami kliennya dalam hal ini FPI (Front Pembela Islam). Aziz pun mengungkapkan bahwa FPI tidak membuat pelanggaran hukum. "Dalam perkembangannya FPI itu tidak ada secara fakta, secara organisasi itu membuat pelanggaran hukum. Artinya dari segi asas, tidak ada asas Komunis, Leninisme dan juga Marxisme sebagaimana diatur dalam TAP MPR (Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat) 1966," bebernya.

Dia juga mengatakan bahwa kliennya adalah organisasi yang dilindungi undang-undang. "Front Pembela Islam adalah ormas yang dilindungi oleh undang-undang dasar 1945, pasal 28 yang secara administrasi semua sudah dipenuhi. Artinya secara de facto dan de jure FPI itu adalah ormas yang eksis, dilindungi keberadaannya eksistensinya di negara kesatuan republik Indonesia," bebernya.

Di sinilah kemudian nampak kezaliman dan kesewenang-wenangan penegak hukum tatkala membubarkan FPI melalui Surat Keputusan Bersama Nomor 220/4780 Tahun 2020. "Itu jelas merupakan suatu bentuk kesewenang-wenangan dan kezaliman yang nyata didepan kita. Yang kita tidak berbuat apa-apa gitu lho," tukasnya.

Menurut Aziz, kezaliman yang nyata yang diterima kliennya dikarenakan sepak terjang kliennya menimbulkan kegerahan, sehingga dibubarkan dengan diterbitkan SKB karena tidak melakukan pelanggaran atas undang-undang yang berlaku sebelumnya.

"Hanya karena ini mungkin kami menduga sepak terjangnya tidak disukai karena banyak yang kontra dengan pihak sebrang, atau menimbulkan kegerahan yang tidak bisa dilawan secara riil dengan prosedur yang ada. Akhirnya mereka menerabas sana sini dengan menerbitkan SKB pembubaran FPI," pungkasnya.[] Heni Trinawati

Posting Komentar

0 Komentar