Ada Apa di Balik Isu Bendera HTI?



TintaSiyasi.com-- Lagi-lagi pihak tertentu menggoreng isu bendera HTI. Kali ini dikaitkan dengan KPK dengan menyebut, "Ada bendera HTI di KPK", sebelumnya oknum ormas tertentu membakar rayah dengan alasan itu bendera HTI. Seorang tentara junior dipermasalahkan karena membawa liwa dengan alasan terpapar HTI. Sebenarnya ada apa sih di balik isu bendera HTI?

Sebelum menjawab itu, ada baiknya kita ulas lagi istilah liwa dan rayah. Liwa (bendera putih bertuliskan hitam) dan rayah (bendera hitam bertuliskan putih), tulisannya berupa lafaz Lâ Ilâha illalLâh Muhammad RasûluLlâh merupakan bendera Islam, bendera yang dianjurkan (disunahkan) Nabi Muhammad SAW untuk dikibarkan kaum Muslim. 

Makanya, di masa Rasulullah SAW menjadi kepala negara Islam pertama di Madinah, maupun shahabat Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhum ketika menjadi kepala negara (khalifah) Khilafah Rasyidah, negara Islam penerus Rasulullah SAW, mengibarkan pula liwa dan rayah.

Sejak pemahaman kaum Muslim diracuni nasionalisme oleh kafir penjajah sehingga akhirnya kaum Muslim terpecah belah lebih dari 57 negara bangsa, maka bermunculanlah berbagai bendera aneka warna dan simbol yang tanpa didasari dalil sama sekali. Sekadar hadis dhaif pun enggak. Anehnya, itu tidak dipermasalahkan, tetapi liwa dan rayah dipermasalahkan dengan berbagai tuduhan.

Mungkin hanya Arab Saudi yang masih memakai bendera bertuliskan Lâ Ilâha illalLâh Muhammad RasûluLlâh, hanya saja sudah tidak bisa dinamai liwa atau rayah karena warnanya sudah bukan putih dan hitam lagi. 

Kalau meminjam istilah saudara kita yang sangat pro kepada rezim Arab Saudi itu, bolehlah dikatakan bahwa bendera tuannya itu merupakan bendera yang bid'ah. Kenapa jadi hijau dan ada gambar pedang di bawahnya? Dalilnya kan hitam dan putih tanpa ada gambar pedang. Benar enggak?

Per Agustus 2021, Taliban mendeklarasikan liwa sebagai bendera resmi negaranya. Benderanya itu benar dan bisa disebut sebagai liwa. Dan tentu saja itu bendera bukan hanya milik Afghanistan saja, tetapi tetap milik seluruh kaum Muslim sedunia, kaum Muslim di mana pun berhak mengibarkan bendera itu tanpa diasosiasikan sama sekali dengan Taliban atau Imarah Islam Afghanistan. Mengapa? Karena itu memang bendera milik seluruh kaum Muslim sedunia, bukan hanya Muslim Afghanistan. 

Nah, mereka yang menyatakan bahwa liwa dan rayah itu bendera HTI mungkin karena mereka kerap melihat dalam berbagai kegiatannya, ormas Islam yang mendakwahkan kewajiban menerapkan syariat Islam dalam naungan khilafah tersebut mengibarkan liwa dan rayah. 

Saya termasuk orang yang beruntung karena dapat bertanya langsung dengan para aktivis HTI terkait masalah itu. Menurut mereka, dalam berbagai kesempatan, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mendakwahkan Islam dari A sampai Z, salah satu kontennya adalah ya liwa dan rayah tersebut. 

Dari sejak saya berjumpa dengan aktivis Hizbut Tahrir pada 1999 hingga Badan Hukum Perkumpulan (BHP) HTI dicabut semena-mena oleh diktator zalim mereka selalu saja mengatakan liwa dan rayah tersebut merupakan bendera Nabi SAW, bendera seluruh kaum Muslim sedunia. Tak pernah sekalipun mengatakan itu benderanya Hizbut Tahrir atau HTI. 

Mereka mengusung bendera Islam tersebut karena memang mereka mendakwahkan Islam, mengajak kaum Muslim menerapkan syariat Islam secara kaffah. Begitu saja.

Kemudian mereka membacakan hadits, di antaranya, yang terjemahannya seperti ini:

“Rayah Rasulullah SAW berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih” (HR Imam Tirmidzi dan Imam Ibn Majah dari Ibn Abbas).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menuturkan, "Rayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam dan liwa’ beliau berwarna putih; tertulis di situ la ilaha illa Allah Muhammad RasululLah (HR Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlaq an-Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Lantas, mengapa berulang kali muncul stigma bahwa liwa dan rayah itu bendera HTI, bahkan saat ini ruang publik diramaikan lagi dengan isu bendera HTI di KPK? 

Sejatinya, mereka yang terus menggoreng liwa dan rayah sebagai bendera HTI itu memang alergi dengan Islam. Alergi dengan kesadaran akan bendera kaum Muslim yang sama sedunia yakni liwa dan rayah. 

Agar publik tidak jatuh hati dengan bendera Islam, maka distigmakanlah bahwa itu bendera HTI, tentu dengan memonsterisasi HTI terlebih dahulu sebagai sesuatu yang mengerikan. Padahal secara faktual, HTI hanya mendakwahkan Islam saja, tidak melakukan berbagai hal yang difitnahkan rezim maupun para pendengung rezim.

Lebih jauh lagi, siapa saja yang terlihat baik, jujur dan tidak mau diajak kerja sama dalam kemaksiatan, maka akan distigma terpapar HTI. Tujuannya agar publik memberi legitimasi agar orang baik-baik tersebut dipersekusi dan dikriminalisasi. Sebagaimana sebelumnya rezim ini telah dan sedang mempersekusi dan mengkriminalisasi HTI. 

Menurutku, itulah yang terjadi di balik isu bendera HTI yang sejak pembakaran rayah di Garut hingga adanya bendera Nabi SAW di KPK saat ini. Menurut teman-teman bagaimana?[]

Oleh: Joko Prasetyo 
Jurnalis

Posting Komentar

0 Komentar