UFW Ungkap Empat Strategi yang Wajib Dimiliki Analis Politik


TintaSiyasi.com-- Pemimpin Redaksi Tabloid Media Umat Ustaz Farid Wadjdi (UFW) memaparkan empat strategi yang wajib dimiliki oleh seorang analis politik, khususnya politik luar negeri. 

"Kalau berbicara analisis politik khususnya politik luar negeri, ini yang wajib kita miliki," tuturnya dalam acara Tinta Intens ke-6: The Power of Journalist, Ahad (29/8/2021) di YouTube TintaSiyasi Channel.

Menurutnya, pertama, maklumatun siyasiyatun atau informasi politik tentang cara mengetahui mana negara nomor satu di dunia, mana negara besar, mana negara satelit dan mana negara pengekor.

“Nah itu yang namanya maklumatun siyasiyatun. Jadi menguasai informasi-informasi politik yang mendasar. Dari sana kita akan mendapat maklumat-maklumat dasar terkait dengan politik, fiqrah, thariqah, qithah, uslub, konstelasi internasional, konferensi internasional, faktor masalah besar dunia, persaingan antar negara, sebab-sebab penderitaan dunia, dan sebagainya,” bebernya.

Kedua, memonitor berita dan peristiwa di dunia atau disebut dengan tatabuk. “Tatabuk yang terkait dengan apa, yang pertama waqa'i (fakta-faktanya), kemudian peristiwa-peristiwanya, kabar-kabarnya, nah itu harus dimonitor, memonitor itu penting,” jelasnya.

Ia mengatakan, seorang analis akan sulit melakukan analisis tentang Taliban atau Afghanistan. Misalkan, ketika tidak memonitor perkembangan detik-perdetik, karena perkembangan berita terjadi seperti itu.

“Misalkan sebelumnya Rusia itu mengatakan di bawah Taliban, Afghanistan aman, Cina juga mengatakan begitu. Nah, sekarang berubah lagi mereka itu. Ada apa di balik itu, nah jadi itu hal yang harus dipahami,” katanya.

Ketiga, mengkonfirmasi dan menelaah ulang setiap berita dan peristiwa secara sempurna. “Jadi tidak boleh kita terjebak pada berita-berita yang ternyata hoaks. Karena itu dalam menganalisis itu juga, kesabaran dalam memastikan berita itu penting, jangan reaktif,” tegasnya.

“Klo kita reaktif itu bisa keliru. Jadi harus sabar, dua hari, tiga hari menunggu perkembangannya. Nah baru kita bisa melakukan analisis itu,” lanjutnya.

Keempat, menghindari generalisasi. “Jadi tidak boleh digeneralisasi, segala hal. Karena setiap politik itu ada konteksnya,” jelasnya. 

Ia juga mengingatkan, seorang analis politik harus menjauhkan diri dari subjektivitas pribadi, kelompok atau golongannya. Karena hal itu menurutnya, sering menyebabkan kesalahan dalam menilai sesuatu. "Jadi secinta-cintanya kita kepada perjuangan Islam, tidak boleh juga akhirnya menjadikan kita terjebak pada berita-berita hoaks, saking semangatnya," imbuhnya.

“Misalkan, Joe Biden masuk Islam. Saking semangatnya itu langsung di-share, karena kecintaan kita, oh senang banget. Misalkan itu ya contoh saja. Nah jadi itu harus dihindari, sikap emosional seperti itu,” tuturnya.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa dalam menganalisis politik luar negeri, juga tidak boleh menjadikan opini umum dan kecenderungan masyarakat sebagai pertimbangan. 

“Artinya, jangan melihat arus masyarakat, namun kita harus menganalisis secara mendalam,” jelasnya.

Sebagai contoh, ia menerangkan, peristiwa bersejarah di Mesir, ketika Gamal Abdul Nasser yang dianggap pahlawan oleh orang-orang Mesir, oleh orang Arab, ketika menumbangkan Raja Farouk yang merupakan agen Inggris.

"Gamal Abdul Nasser ini dianggap pahlawan besar karena dia menumbangkan Raja Farouk yang dikenal diktator," ujarnya.

Tapi pada waktu itu, ia menjelaskan, Hizbut Tahrir salah satu kelompok politik Islam yang mengatakan Gamal Abdul Nasser ini adalah antek Amerika. "Nah, pada waktu itu banyak yang tidak percaya karena arus umum masyarakat waktu itu mengelu-elukan dia sebagai pahlawan," ujarnya.

Apalagi, Gamal mengusung sosialisme, ia mengatakan, logikanya enggak mungkin orang yang mengusung sosialisme di belakangnya Amerika. "Tapi ternyata, setelah Raja Farouk ditumbangkan, benar bahwa Gamal Abdul Nasser ini adalah agen Amerika dan saat itu Mesir dikuasai oleh Amerika. Sampai ke Anwar Saddat, Husni Mubarak, sampai pada sisi sekarang ini," terang Ustaz Farid.

“Nah itu merupakan contoh bahwa kita tidak boleh mengikuti selera masyarakat ketika kita menganalisis,” sambungnya.

Menurutnya, yang pengkhianat harus dikatakan pengkhianat, yang agen dikatakan agen, "meskipun mungkin secara individu orangnya baik, pintar baca Qur'an, shalatnya rajin, tetapi sebenarnya dia menjalankan kebijakan dari negara-negara imperialis."

“Jadi kita enggak boleh terjebak di sana, jangan melihat kebaikan individunya. Karena kalau kita menganalisis politik negeri, kita bukan menganalisis pribadi, tapi menganalisis kebijakan-kebijakan politik luar negeri secara tajam ” pungkasnya.[] Liza Burhan

Posting Komentar

0 Komentar