Toleransi: Kesesatan yang Dimaklumi?


TintaSiyasi.com-- Warga Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat geger. Melansir dari cnnindonesia.com (5/9), sekitar 200 orang meluapkan emosi dan melakukan pengrusakan terhadap rumah ibadah milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Warga marah lantaran pemerintah setempat tidak menghentikan kegiatan jemaah sesat tersebut. Warga menilai Ahmadiyah telah menodai Islam dengan merusak pokok-pokok ajarannya.

Sejumlah ormas Islam bereaksi atas peristiwa ini. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mengecam sikap tegas masyarakat dan meminta aparat keamanan Pemerintah Pusat dan Daerah lebih pro aktif dan tegas dalam menegakkan aturan hukum. "Harus melindungi, dan menjamin keamanan masyarakat dalam melaksanakan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing", ujarnya. Senada dengan PP Muhammadiyah, Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Helmy Faishal Zainy mengharapkan kepada semua pihak untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi. "Mari bangun dialog antar umat beragama atau antar Mazhab, agar kita senantiasa dapat hidup dalam satu ikatan kewarganegaraan sehingga kita dapat menyelesaikan persoalan-persoalan ini dengan baik. Mari terus menjaga kesatuan bangsa dan bergandengan tangan untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik," ujarnya.

Konflik antar warga sudah sering terjadi. Hal ini kadang disebabkan lambatnya aparat keamanan dalam merespon keresahan warga yang merasa terganggu dengan aktivitas ibadah kelompok sesat Ahmadiyah. Patut diketahui, kesesatan Ahmadiyah telah diakui secara internasional oleh OKI (Organisasi Konferensi Islam), juga oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) pada tahun 2005 yang saat itu diketuai oleh KH. Makruf Amin.

Suatu keputusan yang telah disepakati seharusnya secara konsisten dijalankan, terutama oleh pemerintah. Jika pemerintah tidak menggunakan wewenangnya untuk memberantas  aliran sesat, lalu membiarkan kelompok aliran sesat menjalankan aktivitas ibadahnya, sama saja dengan pemerintah mengkhianati kesepakatan bersama. Dan yang dirugikan tentu masyarakat bawah yang berhadapan langsung. Provokasi dari kelompok sesat inilah yang berpotensi menimbulkan konflik.

Dengan terus terjadinya konflik antar warga, menunjukkan negara tidak mampu secara tuntas menangani aliran sesat. Hal ini disebabkan negara mengadopsi nilai liberalisme, HAM, dan anti-diskriminasi. Padahal masyarakat Muslim terlarang memberikan toleransi terhadap segala bentuk kesesatan. Ahmadiyah sesat karena menganggap ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW. Hal ini bertentangan dengan Firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al Ahzab ayat 60, "Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang diantara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".

Sebagai seorang Muslim yang mengakui Islam sebagai petunjuk hidup, harusnya seluruh ormas Islam selektif terhadap nilai-nilai asing di luar Islam seperti, liberalisme, HAM, dan anti-diskriminasi. Pasalnya, dengan berkembangnya nilai-nilai inilah aliran sesat dapat berkembang dengan pesat. Akibatnya, tanpa perlindungan dari negara yang berdasarkan syariat Islam kaffah, mustahil kebenaran ajaran Islam dapat terjaga. Kondisi semacam ini dapat  melemahkan dan mengikis akidah umat Muslim. 

Pemerintah dan aparat penegak hukum harusnya menegaskan kriteria aliran sesat, melarangnya hadir di tengah-tengah masyarakat, sekaligus memberikan edukasi pada publik agar jelas pemikiran dan sikapnya terhadap aliran sesat. Membiarkan dengan meminta toleransi terhadap kelompok sesat bukanlah pilihan bijak. Aliran sesat bukan untuk dimaklumi dan dimaafkan tapi untuk diluruskan. Hal ini adalah tanggung jawab negara.

Nampak jelas, negara yang mengadopsi liberalisme tidak dapat menentukan jalan kebaikan dan jalan kesesatan. Seluruh persoalan didasarkan pada suara mayoritas.  Padahal penentu kebenaran adalah adanya kesesuaian terhadap Syariat Islam. Maka dibutuhkan peran negara untuk melindungi akidah Islam dari segala penistaan dan pelecehan, juga memastikan kerukunan antar umat beragama terjaga. Hanya negara Khilafah lah yang dapat menjaga dan memberi loyalitas kepada Ulumat Islam untuk berkembang menyebarkan rahmat ke seluruh alam. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Liyah Herawati
(Kelompok Penulis Peduli Umat)

Posting Komentar

0 Komentar