Standar Ganda Toleransi Sekularisme


TintaSiyasi.com-- Polemik GKI Yasmin telah berlangsung selama 15 tahun memasuki babak baru. Wali Kota Bogor Bima Arya menghibahkan lahan untuk relokasi pembangunan GKI Yasmin yang selama ini disegel karena ditolak sebagian warga.
Polemik GKI Yasmin bermula dari penolakan warga Curug Mekar pada tahun 2008. Alasan yang diungkapkan adalah adanya dugaan pemalsuan tanda tangan warga pendukung untuk memperoleh IMB pembangunan GKI Yasmin.

Alasan lain yang diungkap adalah GKI Yasmin tidak memiliki dan tidak memenuhi minimal pengguna sejumlah 40 KK yang berdomisili di wilayah setempat. GKI Yasmin juga tidak mendapat rekomendasi tertulis dari MUI, Dewan Gereja Indonesia (DGI), Parisada Hindu Dharma, MAWI, Walubi, Ulama/Kerohanian. Itulah beberapa alasan mengapa warga menolak IMB GKI Yasmin.
Namun, alasan itu tetap tidak dibenarkan oleh para pegiat HAM dan kebebasan beragama. Penolakan IMB GKI Yasmin dianggap sebagai bentuk intoleransi umat mayoritas terhadap minoritas. Padahal jika mau berkaca pada faktor pemicu penolakan, mestinya mendudukkan persoalan ini secara proporsional. Ada aksi, ada pula reaksi. Sayangnya, banyak pemberitaan media yang menyudutkan umat Islam dalam hal ini. Seolah umat Islam intoleran dan tidak menghargai keberagaman agama di Indonesia.

Polemik 15 tahun GKI Yasmin yang juga menyisakan respons penolakan pengurus GKI Yasmin mengindikasikan bahwa solusi toleransi yang ditawarkan sistem sekuler tidak mampu memberikan kepuasan semua pihak. Dibutuhkan energi besar dan waktu panjang untuk menyelesaikannya. Tidak ada titik temu. Ketika dipilih jalan “kompromi” pun masih menimbulkan reaksi negatif beberapa pihak.

Toleransi yang memicu polemik itu dikarenakan diterapkannya sistem sekuler kapitalistik, yang memandang perbedaan sebagai pemecah di antara manusia khususnya mereka memandang Islam dan Muslim sebagai sumber masalah. Bahkan senantiasa bersikap tidak adil ketika Muslim menginginkan hidup di bawah syariat Islam yang mampu melindungi setiap insan, Muslim atau non-Muslim.

Toleransi yang diterapkan di dalam Islam adalah toleransi yang menghormati perbedaan sebagaimana pluralitas yang diakui di dalam Islam namun tidak mencampurkan hak dan batil. Toleransi dalam Islam termaktub dalam surah Al Baqarah ayat 256 yang artinya, “Tidak ada paksaan dalam (memasuki)  agama (Islam), sesungguhnya telah jelas  (perbedaan) antara jalan yang benar  dengan jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada taghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Toleransi hakiki hanya dapat terwujud ketika sistem Islam kaffah juga terwujud, karena sistem inilah yang benar-benar mampu mewujudkan rahmatan lil 'alamin sebagaimana Islam memandang bahwa perbedaan sebagai rahmat bahkan sebagai masalah bahkan menjadi perselisihan diantara mereka yang berbeda. Islam mampu melindungi warga non-Muslim bahkan melindungi jiwa dan harta mereka. Wallahu a'lam. []


Oleh: Rewpa
(Pemerhati Masalah Sosial)

Posting Komentar

0 Komentar