Sistem Islam Melindungi Anak dari Pedofil


TintaSiyasi.com-- Bebas dari penjara Lapas Cipinang, penyanyi dangdut Saipul Jamil  langsung dijemput dengan naik mobil Porsche. Penyambutan Saiful Jamil terlihat sangat luar biasa. Selain naik mobil mewah, Saiful Jamil juga mendapatkan kalungan bunga. Setelah itu, Safiul Jamil pun langsung tampil di stasiun televisi. Hal ini tentunya menjadi sorotan publik, karena mengingat kasus yang dilakukan Saiful Jamil adalah kasus pelecehan kepada anak (kaltara.tribunnews.com, 10/9/2021).

Di sisi lain Psikolog Klinis Forensik, Kasandra Putranto menganggap glorifikasi terhadap mantan narapidana kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, Saiful Jamil berlebihan. Bahkan juga bisa menimbulkan retraumatisasi kepada korban (Republika.co.id, 10/9/2021).

Anehnya ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) justru memperbolehkan eks narapidana Saipul Jamil, untuk memberikan edukasi tentang kejahatan seksual di televisi. Padahal masih banyak publik figur yang bisa memberikan edukasi mengenai kejahatan seksual terhadap anak atau pedofilia dalam siaran televisi, lalu mengapa mesti Saiful Jamil yang dipilih? 

Seharusnya ketua KPI berfikir matang dulu sebelum memutuskan untuk mengundang Saipul Jamil ke televisi sebagai edukator karena yang harus dipertimbangkan banyak sekali termasuk psikis korban dan keluarganya.

Sebenarnya kejahatan seksual bisa terjadi karena dipengaruhi dari cara pandang seseorang untuk memenuhi potensi seksualitas dalam dirinya. Sayangnya, umat manusia saat ini dipengaruhi oleh ide sekularisme dari Barat yang mendewakan kebebasan tanpa mengaitkan kebutuhan tersebut dengan agama.

Barat memandang jika kebutuhan seksual harus dipenuhi saat itu juga, maka yang ada adalah eksploitasi kepuasan kebutuhan biologis dengan berbagai cara seperti berzina, homo atau pedofil. Barat pun memandang tubuh perempuan adalah seni, maka tak heran visualisasi perempuan dengan pakaian minim menjadi tontonan. Bahkan Barat menjadikannya bahan komersial untuk publik. Padahal inilah faktor yang menyebabkan munculnya fantasi seksual. Oleh karena itu, selama cara pandang Barat masih ada dalam masyarakat, maka jangan harap kasus kejahatan seksual seperti pedofilia akan bisa diatasi. 

Hal tersebut berbeda dengan sistem Islam. Islam memandang unsur seksualitas dalam diri laki-laki ataupun perempuan adalah naluri manusia untuk melanjutkan keturunannya. Jalur pernikahan adalah cara Islam untuk menyalurkan hasrat tersebut. Pun tubuh perempuan bukanlah seni untuk dieksploitasi, maka Islam mewajibkan para Muslimahnya untuk menutup aurat secara sempurna dengan jilbab dan khimar. Selain itu, Islam juga mewajibkan negara menutup semua akses konten media yang dapat merangsang syahwat. Ini adalah upaya preventif sebelum kejahatan muncul.


Sistem Islam Solusi Tuntas Atasi Kejahatan Seksual

Apabila kebiadaban pelecehan seksual terjadi, maka berdasarkan sistem sanksi dalam Islam hukuman untuk pelaku pedofilia dijatuhi sesuai rincian fakta perbuatannya. Sehingga haram hukumnya membuat jenis hukuman di luar ketentuan syariah Islam (QS. Al-Ahzab: 36).

Adapun rincian hukumannya sebagai berikut;

Pertama, jika yang dilakukan pelaku pedofilia adalah perbuatan zina, maka hukumannya adalah hukuman untuk pezina yaitu dirajam jika sudah muhshan (menikah) (HR. Bukhari dan Abu Daud). Atau di cambuk 100 kali jika bukan muhshan (QS. An-Nuur: 2).

Kedua, jika yang dilakukan pelaku pedofilia adalah liwath (homoseksual), maka hukumannya adalah hukuman mati bukan yang lain.

Ketiga, jika yang dilakukan adalah pelecehan seksual yang tidak sampai pada perbuatan zina atau homoseksual, maka  hukumannya ta'zir (Imam Syaukani, Nailul Authar hlm. 1480; Abdurrahman Al Maliki, Nizhamul 'Uqubat, hlm. 93).

Hukuman ini sangat efektif dan solutif. Sebab ciri khas dari sanksi Islam adalah sebagai jawabir dan zawajir. Dikatakan sebagai jawabir karena sanksi Islam merupakan penebus dosa pelaku di dunia sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa melakukan pelanggaran batas (hukum Allah) lalu dijatuhi sanksi, maka itu merupakan kafaratnya (penebus dosa)." (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban). Dikatakan zawajir sebab sanksi Islam akan mencegah berulangnya tindakan kriminal tersebut oleh si pelaku dan mencegah orang lain agar tidak terjerumus untuk melakukan perbuatan kriminal yang sama karena tumbuhnya rasa takut setelah menyaksikan pelaksanaan sanksi tersebut.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat An-Nuur ayat 2,

ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِى فَٱجْلِدُوا۟ كُلَّ وَٰحِدٍ مِّنْهُمَا مِا۟ئَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِى دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: "Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman."

Maka, dengan pengembalian sistem sanksi Islam dalam kehidupan masyarakat, kasus kriminal seperti kejahatan seksual akan mudah teratasi dan terselesaikan secara tuntas. Kehidupan masyarakat pun akan terjaga dari berbagai sisinya.

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 179,

وَلَكُمْ فِى ٱلْقِصَاصِ حَيَوٰةٌ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: "Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." []


Oleh: Nabila Zidane
(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar