Seni Mengemas Dakwah Menggugah, Founder The Art of Dakwah: Bicara Bukan Asal Bicara


TintaSiyasi.com -- Membahas seni mengemas dakwah menggugah, Founder The Art of Dakwah Ustaz Asep Supriatna mengatakan, bicara bukan asal bicara. "Bicara yang bukan asal bicara, berbicaralah berdasarkan ilmu berbicara, tentunya berbicara yang bernilai dakwah, siapa pun kita." ujar Kang Asep, sapaan akrabnya dalam Public Class The Art of Dakwah: Seni Mengemas Dakwah yang Menggugah, Jumat (17/9/2021) di YouTube The Art of Dakwah.

Menurut Kang Asep, apa pun profesinya akan jadi luar biasa, jika yang disampaikan adalah dakwah. "Mau kan profesi kita apa pun itu menjadi profesi yang sangat luar biasa di mata manusia terlebih lagi di mata Allah SWT ketika apa? Ketika kita menyampaikan, kita bicara (tentang dakwah)," jelasnya.

Ia mengungkapkan, bisa jadi dakwah ditolak bukan karena apa yang disampaikan tapi siapa dan bagaimana cara menyampaikannya.

"Ketika dakwah ditolak, kita bilang, 'Allahu Rabbi ini dasar ya mereka itu gimana sih, mudahan mereka diberikan hidayah deh, susah amat mereka tuh.' Kita sering menyalahkan mereka. Padahal, bisa jadi orang menolak dakwah bukan karena apa yang disampaikan, tetapi siapa yang menyampaikannya, gimana menyampaikannya. Karena buktinya, 'kok orang lain yang menyampaikan diterima ya? kok saya enggak?'" ungkapnya.

Ia pun melanjutkan, ada yang kurang jika dakwah ditolak. "Maka, ada yang kurang ketika kita berbicara, ketika kita berdakwah," lanjutnya.

Kang Asep mengatakan, ada empat hal yang perlu diperhatikan ketika berbicara atau berdakwah.

"Di program The Art of Dakwah, ada empat hal yang harus dikemas, yang harus diolah, harus diatur sedemikian rupa, harus ditata benar-benar. Pertama, menata hati. Kedua, menata diri. Ketiga, menata materi. Keempat, menata delivery," ujarnya.

Ia menjelaskan, tanda-tanda hati yang belum tertata. "Tanda-tanda hati yang belum tertata: Ketakutan yang berlebihan, terlalu PD (percaya diri) dengan kemampuan diri sendiri," katanya.

"Kecewa saat yang datang sedikit, kecewa ketika audience tidak paham-paham, bangga ketika dipuji, sakit hati ketika dikritik, iri/hasad saat orang lain tampil lebih baik, merasa diri lebih pantas berbicara, merasa diri lebih baik dari audience," imbuhnya.

Ia pun melanjutkan, agar menjaga ketulusan hati, seni menata hati lebih rinci sampai menata delivery ada di program Private Class The Art of Dakwah.

"Yuk jaga ketulusan hati. Malam hari ini belajar semata-mata karena Allah. Itu seni menata hati. Apa saja dan seperti apa? Masih banyak yang bisa didiskusikan, insyaallah di Private Class The Art of Dakwah. Termasuk juga bagaimana menata diri, menata materi dan menata delivery-nya," lanjutnya.

Kang Asep mengatakan, garis besar terkait Private Class The Art of Dakwah Batch 9. "Private Class ini adalah kelas khusus yang saya adakan untuk mendampingi dalam meningkatkan kualitas berbicara. Ada beberapa sesi nanti yang bisa diikuti oleh siapa pun," bebernya.

Ia mengatakan, pemimpin perusahaan, business owner, pengemban dakwah, guru, dosen, ustaz, ustazah yang menginginkan bagaimana memiliki seni dalam berdakwah dan berbicaranya punya pengaruh, ia ajak untuk ikut acara private class tersebut.

"Kenapa private class? Karena dibatasi pesertanya dan insyaallah dalam waktu sekitar 6 pertemuan plus-plus, saya mendampingi dari menata hatinya, menata dirinya, menata materi sampai punya materi andalan sendiri, dipastikan satu persatu saya dampingi, sehingga punya materi yang terstruktur dan rapih, lalu bagaimana meningkatkan kualitas delivery-nya," pungkasnya.[] Jesiati

Posting Komentar

0 Komentar