Refleksi Tragedi 11/9, Taji Mustafa: Tiga Poin yang Terus Terngiang di Dunia Islam


TintaSiyasi.com-- Menyikapi refleksi tragedi ledakan 11 September 2001 di gedung World Trade Center (WTC), Aktivis Muslim Inggris Taji Mustofa mengungkapkan tiga poin yang terus terngiang di dunia Islam.

"Menurut saya, poin pertama yang masih terus tergiang di dunia Islam adalah bahwa kekuatan Barat bukanlah kekuatan berbasis massa," ujarnya dalam Diskusi Virtual: Reflections on 9/11-Impact on Afghanistan and The Muslim World di kanal YouTube Salaamedia, Rabu (08/11/2021).

Taji beberkan, dalam war on terrorism yang lancarkan Barat, kekuatan Barat mengatakan ini adalah perang melawan Islam, tetapi tidak menggunakan kalimat tersebut. "Namun, hal ini menjadi sangat jelas bagi umat Islam seluruh dunia bahwa pengamalan dan keinginan umat untuk menegakkan Islam secara sistematis dan komprehensif, serta rasa kepedulian terhadap sesama saudara seiman, kini disebut sebagai sesuatu yang melampaui batas," bebernya.

Sehingga dengan sebutan melampaui batas itulah menurut Taji yang membuat Amerika Serikat (AS) menyerang umat Islam di berbagai dunia seperti di Yaman, Somalia juga Afrika Utara. "Atau di mana pun yang telah berada di bawah bendera perang melawan terorisme," katanya.

Ia mngungkapkan bahwa banyak negara lain seperti China, juga mendukung Amerika Serikat (AS) dalam perang melawan teroris yang ditujukan kepada umat Islam. Sebab, China mengaku bahwa mereka juga punya masalah dengan kaum Muslim.

"Di sisi lain seperti rezim China, juga menyatakan, pertarungan Amerika dalam perang terhadap teroris, pertarungan terhadap umat Islam itu baik. Dan China mengakui bahwa mereka memiliki suatu permasalahan dengan umat Islam. Artinya, Islam dan kaum Muslim berada di bawah serangan perang," ungkapnya.

Selain itu, dia menyebutkan bahwa selama dua puluh tahun, AS dibantu oleh beberapa pihak yang memberikan dukungan demi mencapai targetnya di dunia Islam. Karena tanpa dukungan dan bantuan tersebut, lanjutnya, AS sangatlah terbatas. "Seperti contoh di Afghanistan saja, AS membutuhkan dukungan dari aparat kemanan yang profesional di Pakistan. Sehingga dengan dukungan dan bantuan tersebut, kendali ada di tangan AS untuk membuat kebijakan yang berujung pada invasi dengan bom, pembunuhan, dan juga korban luka-luka," jelasnya. 

Ia menegaskan bahwa rezim di negeri-negeri Muslim memiliki hubungan dengan dengan semua hal itu dalam tanda kutip. "Seperti sebuah catatan yang pernah diungkapkan oleh mantan agen Central Intelligence Agency (CIA) selama perang melawan teroris, bahwa jika ingin menghilangkan seseorang, membuat seseorang bicara, atau menyiksa seseorang, maka tempat mengirimnya adalah Mesir, Yordania, dan Suriah," bebernya. 

Dia mengatakan, AS dan juga pemerintah Inggris telah membuat kesepakatan umum dalam pertarungan melawan Islam untuk membuat negeri Muslim terpecah belah. Karena mereka khawatir, jika seluruh umat Islam bersatu dalam dalam sebuah negara. Sehingga menurutnya, bahwa perang terhadap terorisme oleh AS adalah untuk menghadang kesatuan itu.

"Kedua, saat tragedi itu saya memberikan perhatian dan hampir kita semua memberikan perhatian terhadap tragedi yang terjadi dan kemudian kita menjadi punya alasan yang banyak untuk takut karena menyaksikan terjadinya perang dengan brutal, penyerangan, dan betapa banyak pesta pernikahan yang hancur dan menyebabkan para lelaki terbunuh, perempuan, juga anak-anak di Irak, dan di Afghanistan," katanya.

Dia menyatakan bahwa AS sebagai negara super power bisa melakukan apapun yang diinginkannya. "Dalam waktu dua puluh tahun terakhir proyek perang terhadap terorisme telah memperlihatkan wajah asli kapitalisme. Karena hanya segelintir kelompok yang mendapat keuntungan," katanya.

Selain itu, pembukaan Guantanamo menurut Taji Mustafa telah menambah kerugian bagian bagi AS di Irak juga Afghanistan. Sehingga menurutnya, umat Islam telah memahami betul kegagalan Barat dalam kepemimpinan global yang nyata terlihat dari kebijakan luar negerinya di Iraq dan Afghanistan. Ditambah dengan wabah Korea yang semakin membuat AS gagal finansial.

Poin ketiga kata Taji Mustafa adalah perang melawan terorisme yang telah berjalan selama dua puluh tahun, justru menunjukkan kekuatan umat Islam yang sesungguhnya yaitu ada pada keyakinannya (akidah Islam). 

"Warga Muslim Afghanistan didukung dengan keimanan yang telah mampu menghadapi super power dalam satu peperangan. Inilah saat dimana kita sebagai umat Islam menginginkan kembalinya Islam dan kita harus bersatu. Kita punya kekuatan untuk menantang satu Superpower," sebut dia. 

Ia mengingatkan kepada umat Islam juga masih harus menghadapi banyak tantangan. Kerusakan yang terjadi di seluruh wilayah kaum Muslim seperti chaos-nya Irak dan Afghanistan dan sebagainya. Hanya saja, menurutnya, momen itu justru menghadirkan suatu peluang yang menantang, untuk umat Islam menata ulang masa depannya. 

Taji Mustafa juga menekankan bahwa perang terhadap terorisme belum berakhir. Sebab, Amerika masih terus mengatasnamakan hak asasi untuk menculik orang, membunuh, meledakkan pemukiman, di bawah satu bendera yang disebut perang terhadap terorisme.

"Terakhir, perang terhadap terorisme belum sepenuhnya berakhir. Dan kita masih di sini. AS masih akan terus mengatasnamakan hak asasi untuk menculik, membunuh, dan meledakkan pemukiman di bawah satu bendera yaitu orang melawan terorisme. Dan kita tahu, perang ini memiliki pendukung di negeri-negeri Islam. Hanya saja, ke depan, AS tidak akan bisa melakukannya tanpa ada hambatan. Karena dunia telah berubah. Dan hal ini harusnya jadi bahan diskusi ke depan. Sekalipun kita ada tantangan berat, tetapi kita juga masih punya peluang," tandasnya.[] M. Siregar

Posting Komentar

0 Komentar