Rakyat Minta Dibantu Penguasa Malah Ditangkap: Kepada Siapa Lagi Mengadu dan Berharap?

TintaSiyasi.com-- Seorang pria membawa selembar poster bertuliskan 'Pak Jokowi bantu peternak beli jagung dengan harga wajar'. Pria tersebut merupakan peternak ayam di Blitar. Dia membentangkan poster itu sambil berdiri di pinggir jalan saat mobil Jokowi melaju. Insiden itu terjadi sesaat setelah mobil rombongan Presiden Jokowi bergeser atau keluar dari dari Pusat Informasi Pariwisata dan Perdagangan (PIPP) Kota Blitar pada Selasa (7/9). Peternak tersebut akhirnya diamankan dan langsung digelandang dan dimasukkan ke mobil polisi.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Paguyuban Peternak rakyat Nusantara (PPRN) Alvino Antonio mengatakan, sikap polisi terlalu berlebihan kepada peternak ayam tersebut. Menurutnya, poster yang dipasang tak menimbulkan ungkapan penghinaan ataupun sikap anarkis. Dia mengatakan, duduk perkara adanya aspirasi tersebut karena kondisi jagung saat ini di peternak sangat sulit untuk didapatkan. Selain karena mahal, kata dia, ada dugaan monopoli pasar terjadi.

Pihaknya pun menyayangkan sikap aparat kepada kalangan peternak. "Dia minta tolong, sebagai rakyat ke siapa lagi minta tolong kalau bukan ke pemerintah. Di saat rakyat minta tolong ke pemerintah, pemerintah sikapnya seperti itu ya mau jadi apa negeri ini," tandasnya.

Dalam Islam rakyat minta tolong kepada penguasa adalah haknya. Kewajiban penguasa mengatur urusan mereka. Rasulullah SAW bersabda:

فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُمْ

"Pemimpin yang memimpin rakyat adalah pengurus dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus." (HR al-Bukhari).

Peternak adalah bagian dari rakyat sehingga penguasa juga bertanggung jawab atas urusan mereka karena termasuk yang harus dia urus. Tanggung jawab itu tidak hanya menyelesaikan urusannya di dunia, tetapi siapa saja yang memegang amanah kepemimpinan atau kekuasaan juga akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat nanti.

Penguasa tentu butuh diingatkan oleh rakyat dalam menjalankan kewajiban tersebut. Hal yang wajar ketika penguasa minta diingatkan oleh rakyatnya. Sungguh hal yang luar biasa jika ada penguasa yang rindu didemo oleh rakyatnya, seandainya itu bukan hanya retorika belaka. 

Umar bin Khattab dalam pidatonya meminta masyarakat Makkah tak ragu untuk menegurnya dalam beberapa hal kalau dia salah. Bahkan Umar meminta rakyat tak ragu menuntutnya jika rakyat tak terhindar dari bencana, pasukan terperangkap ke tangan musuh. "Bantulah saya dalam tugas saya menjalankan amar makruf nahi mungkar dan bekalilah saya dengan nasihat-nasihat saudara-saudara sehubungan dengan tugas yang dipercayakan Allah kepada saya demi kepentingan saudara-saudara sekalian," kata Umar menutup pidatonya.

Pidato Umar bukan retorika belaka sebagai bentuk pencitraan di depan rakyatnya. Beliau sebagai khalifah sangat memperhatikan keadilan untuk rakyat kecil dan begitu tegas kepada pejabat yang bertindak sewenang-wenang sebagaimana kisah seorang Yahudi tua yang mengadukan kesusahannya kepada Khalifah Umar karena ulah Gubernur Mesir.

Dikisahkan dari buku yang berjudul ‘The Great of Two Umars’ bahwa sejak menjadi Gubernur Mesir, Amr ibn al-Ash menempati sebuah istana megah yang di depannya terhampar sebidang tanah kosong dan terdapat  gubuk reyot yang hampir roboh milik seorang Yahudi tua. Selaku gubernur, Amr menginginkan agar di atas tanah itu didirikan sebuah masjid yang indah dan megah, seimbang dengan istananya. Ia merasa tidak nyaman dengan adanya gubuk Yahudi tersebut. Oleh karenanya, si Yahudi tua pemilik tanah dan gubuk itu dipanggil ke istana.

Amr mengatakan rencananya tersebut kepada orang Yahudi itu dan meminta menjual tanah beserta gubuknya. Namun orang Yahudi itu menolaknya dengan tegas. Bahkan ketika Amr menawarkannya dengan bayaran tiga kali lipat, Yahudi itu tetap tak goyah. Amr terus memaksa dengan berkata, “Jika kubayar lima kali lipat, apakah kau akan melepasnya?” Yahudi itu menjawab, “Tidak, tuan! Aku tetap tak akan menjualnya, karena itulah satu-satunya yang kumiliki.” Kemudian Amr mengancamnya, “Apakah kau tak akan menyesal?” “Tidak,” jawab Yahudi dengan mantap.

Sepeninggalan Yahudi tua itu, Amr menetapkan kebijakan untuk membongkar gubuk reyot tersebut. Dia minta supaya didirikan masjid besar di atas tanah itu, dengan alasan demi kepentingan bersama dan memperindah pemandangan. Si Yahudi pemilik tanah dan gubuk reyot itu tidak bisa berbuat banyak atas kebijakan sang Gubernur. Dia hanya menangis dan menangis. Namun, dia tidak putus asa, dan bertekad hendak mengadukan sang Gubernur, Amr kepada atasannya, Khalifah Umar di Madinah.

Setibanya di Madinah, si Yahudi bertanya kepada orang-orang di mana istana sang Khalifah? Usai ditunjukkan, dia kaget bukan kepalang karena sang Khalifah tidak punya istana seperti Gubernur Mesir, Amr ibn al-Ash, yang mewah. Bahkan, dia diterima sang Khalifah di halaman Masjid Nabawi di bawah pohon kurma. “Apa keperluanmu datang jauh-jauh dari Mesir?” tanya Khalifah Umar usai mengetahui tamunya itu berasal dari negeri jauh. Si Yahudi itu pun mengutarakan maksudnya menghadap sang Khalifah. Tak lupa, ia membeberkan peristiwa yang menimpa dirinya serta kesewenag-wenangan Gubernur Mesir atas tanah dan gubuk satu-satunya yang sudah reyot.

Mendengar semua itu Umar marah besar. “Amr ibn al-Ash sangat keterlaluan!” katanya. Beliau kemudian menyuruh si Yahudi itu untuk mengambil sepotong tulang dari tempat sampah yang tak jauh dari tempat mereka. Tentu saja, si Yahudi itu menjadi bingung dan ragu dengan perintah sang Khalifah yang dianggap ganjil dan tak ada hubungannya dengan pengaduannya. Namun, akhirnya dia pun mengambil tulang itu dan diserahkan kepada beliau. Umar menggores huruf alif dari atas ke bawah, lalu memalang di tengah-tengahnya dengan ujung pedang pada tulang tersebut. Kemudian, tulang itu diserahkannya kepada si Yahudi yang masih bengong tak mengerti maksud khalifah.

Sang Khalifah hanya berpesan, “Bawalah tulang ini dan berikan kepada Gubernur Amr ibn al-Ash!” “Maaf Tuan, aku terus terang masih tidak mengerti. Aku datang jauh-jauh ke sini untuk meminta keadilan, bukan tulang tak berharga ini,” protes si Yahudi. Sang Khalifah tersenyum, tidak marah, beliau menegaskan, “Wahai orang yang menuntut keadilan, pada tulang itulah terletak keadilan yang engku inginkan.” Akhirnya, kendati hatinya masih dongkol dan terus mengomel, lelaki itu pun pulang ke Mesir membawa pulang pemberian sang Khalifah. 

Setibanya di Mesir, dia menyerahkan tulang tersebut kepada sang Gubernur. Begitu Amr menerima tulang itu, mendadak tubuhnya menggigil dan wajahnya pucat ketakutan. Dan, lagi-lagi si Yahudi itu tak mengerti dibuatnya. Sejurus kemudian, sang Gubernur memerintahkan pada bawahannya untuk membongkar masjid yang baru siap itu, dan supaya dibangun kembali gubuk lelaki Yahudi tersebut. Beberapa saat sebelum masjid baru dirobohkan, si Yahudi berkata, “Maaf Tuan, jangan dulu bongkar masjid itu. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu?” “Silahkan, ada perlu apa lagi?” tanya Amr. “Mengapa Tuan sangat ketakutan dan langsung menyuruh membongkar masjid baru itu, begitu Tuan menerima sepotong tulang dari Khalifah Umar?” “Wahai orang Yahudi,” jelas Amr, “ketahuilah, tulang itu hanya tulang biasa. Namun, karena dikirimkan oleh Khalifah, tulang itu menjadi peringatan keras bagiku.” “Maksudnya?” potong Yahudi tidak mengerti. “Ya, tulang itu berisi ancaman Khalifah. Seolah-olah beliau berkata, ‘Hai Amr ibn al-Ash! Ingatlah, siapa pun kamu sekarang dan betapa tinggi pangkat dan kekuasaanmu, suatu saat nanti kamu pasti berubah menjadi tulang yang busuk, karena itu bertindaklah adil seperti huruf alif yang lurus, adil ke atas dan adil ke bawah. Sebab jika kamu tidak bertindak demikian pedangku yang akan bertindak dan memenggal lehermu!”

Si Yahudi itu tertunduk dan begitu terharu mendengar penuturan sang Gubernur. Dia kagum atas sikap khalifah yang tegas dan adil, serta sikap Gubernur yang patuh dan taat kepada atasannya, hanya dengan menerima sepotong tulang kering. Sungguh mulia dan mengagumkan. Akhirnya si Yahudi itu menyatakan memeluk Islam, lalu menyerahkan tanah dan gubuknya sebagai wakaf.

Demikianlah teladan Umar bin Khattab. Rakyat yang minta dibantu bukan ditangkap, justru diberikan solusi. Umar juga bertindak tegas kepada pihak yang mempersulit rakyatnya meskipun dia seorang pejabat.

Kita tentu merindukan sosok pemimpin seperti itu. Sosok yang ketika peternak minta dibantu menyelesaikan masalah harga jagung akan sigap memberikan solusi bukan malah membiarkan aparat mengamankan dan memasukannya ke mobil polisi. Sosok yang akan menindak tegas pejabat yang bertanggung jawab atas mahalnya harga jagung dan pihak yang diduga membuat monopoli pasar terjadi.

Sosok yang akan takut jika rakyatnya bertanya: "Kepada siapa lagi kami mengadu dan berharap?" lalu mereka mengadu kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

أَيُّمَا رَاعٍ اسْتُرْعِيَ رَعِيَّةً، فَغَشَّهَا، فَهُوَ فِي النَّارِ

"Penguasa mana saja yang diserahi tugas mengurus rakyat, lalu mengkhianati mereka, dia masuk neraka." (HR Ahmad).

Rasulullah SAW pun bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

"Tidaklah seorang hamba —yang diserahi oleh Allah tugas untuk mengurus rakyat— mati pada hari kematiannya, sementara ia mengkhianati rakyatnya, Allah mengharamkan surga bagi dirinya." (HR Muslim). []


Oleh: Tri Widodo, S.Pt.
(Praktisi Bisnis Peternakan, Direktur Ulwan Learning Center)


Referensi:

- "Bertindaklah Adil Seperti Huruf Alif yang Lurus." Dalam www.republika.co.id diakses pada 9 September 2021.
- "[Buletin Kaffah] Merindukan Penguasa yang Adil, Amanah dan Tidak Korup." Dalam www.mediaumat.news diakses pada 9 September 2021.
- "Peternak Ayam Minta Tolong Jokowi Kok Malah Ditangkap?" Dalam www.finance.detik.com diakses pada 9 September 2021.
- "3 Pesan Umar bin Khattab di Pidato Pertama Jadi Khalifah." Dalam www.news.detik.com diakses pada 9 September 2021.

Posting Komentar

0 Komentar