Radikalisme: Fitnah Keji Barat kepada Islam

TintaSiyasi.com-- Isu Radikalisme tidak henti-hentinya dihembuskan. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Seolah merupakan problem besar yang tidak kunjung usai. Seolah pula hal berbahaya yang harus segera ditiadakan. Padahal banyak sekali masalah nyata dan lebih besar yang dihadapi bangsa ini, yang terang-terangan merugikan negara atau pula yang dengan jelas mempersulit kehidupan rakyat, sebut saja korupsi, utang negara yang terus membengkak sehingga penarikan pajak pun ditambah di sektor tertentu misalnya pendidikan. 

Berbicara radikalisme adalah ancaman dan masalah besar. ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) K.H. Miftachul Akhyar menyatakan bahwa saat ini ada dua paham berbahaya yang menggempur Indonesia, yaitu radikalisme kiri dan radikalisme kanan. Radikalisme kiri bergerak ke arah pemikiran liberalisme, pluralisme, dan sekularisme yang dipersatukan dalam pemikiran agama. Sedangkan radikalisme kanan bergerak ke arah terorisme berkedok agama atau mengatasnamakan agama. Karena itu menurut dia, masyarakat Islam di Indonesia perlu memperkuat pemahaman Islam wasathiyah atau moderat yang akan menjadi benteng kokoh dalam menghadapi ancaman radikalisme yang berpotensi menguat di Indonesia (kompas.tv, 25/8/2021).


Apakah Berbahaya?

Jika kita melihat pernyataan ketua MUI terkait dua kubu radikalisme. Tentu keduanya sangatlah berbahaya. Misalnya kubu kiri yang bergerak ke arah pemikiran liberalisme yang menuhankan kebebasan. Faham liberalisme ini sangatlah merusak manusia. Siapapun dan dari agama manapun. Ketika manusia bebas berbuat semaunya tanpa mengindahkan norma maupun aturan sosial, agama, hukum maka sangatlah merusak. Seseorang misalnya bebas berpakaian apapun, bebas berpindah-pindah agama, bebas berhubungan seksual, bebas dalam segala hal. Bebas tanpa batas yang kebablasan. Maka ini sangatlah fatal dan bertentangan dengan Islam. Islam tidak membolehkan perilaku-perilaku bebas apalagi tanpa batas. Setiap perbuatan manusia diatur oleh Allah. Agar kehidupannya baik dan benar sehingga mendapatkan pahala. 

Kemudian pluralisme yang merupakan faham yang mengajarkan semua manusia untuk menerima semua pendapat dan perbedaan. Faham ini tentu harus dijauhi seluruh manusia. Karena dalam faham pluralisme semua agama dianggap benar dan sama. Karena itu tidak boleh ada yang mengklaim bahwa agamanya benar.

Lalu sekularisme, merupakan pemikiran tentang pemisahan agama dari kehidupan. Ini adalah asas, pondasi, akar dibangunnya peradaban dan ideolagi barat yakni kapitalisme. Pemahaman ini menyatakan bahwa agama dan aturan-aturannya tidaklah boleh dibawa dalam urusan sehari-hari. Hal ini sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Islam. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan dari bagun tidur sampai tidur lagi. Semuanya ada aturannya dalam Islam.

Karena itu, kubu kiri radikalisme ini seharusnya adalah orang-orang yang justru mengambil pemahaman Barat. Bukankah kita ketahui bersama bahwa radikalisme, pluralisme, sekularisme adalah ide dan faham yang berasal dari barat. Bukan dari Islam, bukan pula dari Timur. Tentunya seorang Muslim harus menjauhkan diri dari ide-ide rusak dan merusak kehidupan serta berpedoman hidup hanya pada Al-Qur'an dan As-sunnah.

Sedangkan, kubu kanan atau radikalisme kanan juga memiliki konsep yang berbahaya. Aksi teror, kekerasan, mengancam nyawa manusia, dan sejenisnya adalah perbuatan yang keliru jika dikaitkan degan jihad. Aksi teror sendiri bukanlah jihad. Jihad adalah berperang di jalan Allah dalam memerangi musuh-musuh Islam yakni orang kafir yang memusuhi Islam atau menyerang Islam dan kaum Muslimin.

Namun, apakah betul bahwa radikalisme hanya dikaitkan dengan hal-hal di atas? Tidaklah cocok jika kita mencukupi bahwa radikalisme hanya dikait-kaitkan dengan kondisi di atas. Karena faktanya masih ada pengkaitan istilah radikalisme kepada orang-orang yang mengkaji Islam atau mendakwahkan Islam di jalan yang lurus. Serta menyebarkan ajaran Islam yang benar yang terdapat di dalam Al-Qur'an dan Al-hadis. Bahkan menggandengkan istilah radikalisme dengan Islam. Misalnya Islam radikal. Padahal ini tidak pernah ada dalam Islam. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Hanya mereka yang benci pada Islam lah yang selalu terus menerus mencari celah memfitnah Islam dan kaum Muslimin. Mereka inilah sepanjang sejarah selalu membuat makar untuk menghancurkan Islam. Menyerang zislam dari berbagai arah. Tetapi Allah menjaga Islam dan melindungi kaum Muslimin. Sesungguhnya Islam adalah agama yang datang dari Allah. Ajaran-ajarannya mulia tidak ada yang tercela. 

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran [3]: 85).

Maka kita perlu mewaspadai narasi-narasi radikalisme yang ditujukan kepada Islam dan para pengikutnya. Mendiskreditkan ajaran Islam yang mulia sehingga memunculkan ketakutan bagi kaum Muslimin mengamalkan atau mempelajarinya. Sejatinya membagi-bagi kaum Muslim dalam istilah penganut Islam radikal, Islam moderat, Islam fundamentalis, dan lain-lain adalah strategi Barat yakni Amerika Serikat dengan Rand corporation. Mereka memetakan umat Islam yang sejatinya juga bisa mereka jadikan kaki tangan hingga yang menjadi ancaman bagi Barat.

Kaum Muslim harus selalu berpegang teguh pada Islam. Hanya dengan Islamlah Allah akan mengangkat ke derajat yang tinggi. Memberikan barakah dalam kehidupan serta keselamatan dan kesejahteraan dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah. Serta melindungi kaum Muslimin dari fitnah-fitnah keji para musuh Allah. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Nurul Aryani
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar