Politisi Demokrasi Pencari Simpati Tanpa Empati

TintaSiyasi.com-- Pandemi Covid-19 yang tak kunjung menuai ujung, menuaikan rasa kecewa rakyat terhadap penanganan pandemi oleh pemerintah yang justru membuat rakyat semakin sulit dan serba dipersulit. Aktivitas rakyat dibatasi tapi tak ada jaminan pemenuhan kebutuhan rakyat dipenuhi. Rakyat semakin kebingungan untuk bertahan hidup di masa pandemi.

Ironi, di saat rakyat berjuang mempertahankan hidupnya dari bulan ke bulan di masa pandemi, para politisi demokrasi justru sibuk mencari simpati dan dukungan rakyat untuk Pemilihan Presiden 2024 lewat baliho. Padahal, tenggang waktu pemilihan masih jauh tapi tebarannya mulai terasa. Tebar pesona para kandidat lewat baliho yang dianggap efektif untuk mencari simpati justru menuai kritik dan protes dari rakyat. Karena para politisi yang menawarkan diri menjadi seorang pemimpin adalah sosok yang kurang memiliki kepekaan serta empati tehadap kondisi rakyat, bahkan hanya bertarung demi mendapatkan kursi kekuasaan. 

Analis Tata Kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna menyampaikan pada suara.com (6/8/2021), “Pemasangannya seperti kurang berempati dengan suasana kebatinan masyarakat. Kehidupan sosial ekonomi masyarakat sedang butuh bantuan dan pertolongan, sementara pemasangan baliho kurang melihat atau memperhatikan kondisi yang seperti ini”. Seharusnya para kandidat lebih menahan diri dan lebih bersikap bijak dengan kondisi rakyat saat ini, karena selain mendapatkan kecaman dari rakyat, mereka juga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk ajang promosi itu. Sedikit menyayangkan, kenapa alokasi dana tidak disalurkan pada rakyat sebagai bantuan pandemi?

Para kandidat pemimpin dalam demokrasi adalah para pencari simpati rakyat tapi tak berempati pada rakyat, bermanis di awal hanya untuk mendapatkan kursi kekuasaan. Mungkin setelah menjadi penguasa lupa dengan janji-janjinya pada rakyat seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya. Inilah, gambaran betapa bobroknya sistem kapitalisme mendidik para kandidat penguasanya, dibangun dengan modal besar yang akan berakhir untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan, maka tak heran jika para koruptor hidup subur di sistem ini. Bahkan kebijakan-kebijakan yang dihasilkannya pun akan kembali menguntungkan para kapitalis bukan untuk rakyat.

Hal tersebut sangat berbeda dalam Islam, karena kepemimpinan dalam Islam akan memangku tanggung jawab yang sangat besar sehingga harus diserahkan pada orang-orang yang amanah dan bertanggung jawab. Rasulullah SAW bersabda, “Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat”. Dia (Abu Hurairah) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?’ Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu!” [HR. al Bukhari]. 

Apa yang di sampaikan oleh Rasulullah SAW hendaklah menjadi renungan buat kita semua, bahwa Islam mengatur semua aspek kehidupan termasuk dalam memilih seorang pemimpin. Karena sejatinya seorang pemimpin dalam Islam adalah untuk menerapkan aturan-aturan yang Allah SWT turunkan dan Rasulullah SAW contohkan, bukan hanya sebagai penguasa saja. Wallahu a’lam. []


Oleh: Siti Jubaedah, S.Pd.
(Pegiat Opini)

Posting Komentar

0 Komentar