Politik Menjadi Mesin Industri dalam Demokrasi, Buah Penerapan Sistem Kapitalisme


TintaSiyasi.com-- Kontestasi pemilihan orang nomer Wahid melalui pesta demokrasi, yaitu pemilu 2024 masih lama, sekitar dua tahunan. Tapi euforia penyambutannya  sudah sedemikian marak. Para elit politik sudah menyusun langkah dan strategi untuk mencari simpati dan mengantongi suara sebanyak-banyaknya. Para elit politik sudah mulai tebar pesona membuat pencitraan di tengah-tengah masyarakat, juga ada parpol yang mengambil langkah berkoalisi dengan parpol pemenang di pemilu sebelumnya, untuk mengamankan posisi mereka untuk maju di pemilu 2024. Lebih tragisnya lagi di tengah pandemi yang tak kunjung berakhir, dan kondisi rakyat yang serba sulit ini muncul perbincangan dana pemilu 2024 yang fantastis.

Dilansir oleh  berita satu.com (Minggu,19 September 2021), kata Sultan Najamudin, wakil ketua DPD, "penting bagi kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi prinsip musyawarah mufakat untuk meninjau kembali sistem pemilu yang boros dan cenderung menyebabkan kerentanan sosial seperti ini. Pemilu langsung sudah seperti industri dalam demokrasi kita". Diketahui, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengusulkan anggaran sebesar Rp 86 triliun untuk membiayai penyelenggaraan Pemilu 2024. Untuk pilkada, anggaran yang diusulkan mencapai Rp 26,2 triliun. Pemilu langsung, menurut Sultan, hanya menjadi ajang adu kuat modal politik yang sumbernya berasal dari cukong dan oligarki. Secara ekonomi, kata Sultan, akan ada banyak uang yang beredar di tengah-tengah masyarakat.

Demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat adalah bohong besar, karena demokrasi  ide yang cacat  yang lahir dari rahim kapitalisme-sekularisme yang menjadikan materi adalah segala-galanya, dalam demokrasi tidak ada kawan-lawan sejati, yang ada kepentingan abadi, kawan bisa jadi lawan dan sebaliknya lawan bisa jadi kawan. Kapitalisme -sekularisme menjadikan  politik demokrasi ini identik juga dengan politik berbiaya mahal.

Wajar muncullah  simbiosis mutualisme antara para elite politik dan pengusaha, karena mereka butuh modal besar untuk meraih kekuasaan, sementara para pengusaha bisa mengintervensi penguasa untuk kepentingan bisnisnya atau mereka sendiri para elite politik yang berprofesi sebagai pengusaha besar yang terjun ke dunia politik, dan menjadikan politik sebagai mesin industri untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya untuk memperkaya diri, keluarga dan para pendukungnya, sementara rakyat layaknya pembeli, maka wajar kebijakan yang dihasilkan tidak akan pernah berpihak kepada rakyat dan tidak akan pernah menyelesaikan problem yang dihadapi rakyat.

Masihkah kita berharap pada demokrasi? Sampai kapan pun, demokrasi tidak akan pernah berpihak kepada rakyat. Karena pemikiran, peraturan, dan implementasinya berasal dari demokrasi yang merupakan sistem yang rusak dan merusak. Sebab lahir dari akal hawa nafsu  manusia yang lemah dan terbatas, tidak dituntun oleh wahyu Allah SWT yang Mahamengetahui segala sesuatu. Saatnya, kita mencampakkan demokrasi, kita kembali kepada sistem yang berasal dari Sang Pencipta, yaitu sistem Islam. 

Islam adalah satu-satunya jalan menyelesaikan semua masalah yang muncul dari sistem demokrasi. Islam sebagai ideologi merupakan sebuah pandangan hidup yang kompatibel dan kredibel menghadirkan tatanan kehidupan, termasuk sistem politiknya. Rasulullah SAW telah memberikan teladan bagi kita bagaimana cara berpolitik yang bersih, shahih, bebas dari kepentingan pragmatis yang disetir oleh para pemuja syahwat dunia. Tidak ada pembiayaan yang fantastis dalam pemilihan pemimpin. 

Terbukti, selama 14 abad Rasulullah SAW dan para khalifah penggantinya telah berhasil mengukir peradaban dunia dengan cemerlang. Realitas tersebut semestinya menjadi pendorong bagi Muslim untuk merujuk kembali pada metode politik Rasulullah SAW. Dengan demikian, umat akan terbebas dari harapan semu, bebas dari  intrik politik oportunis dan pragmatis. Hanya Islam yang memberi harapan pasti, karena menjalankan Islam sebagai metode politik adalah bukti ketakwaan pada Allah SWT. []


Oleh: Luluk Afiva, ST.
(Praktisi Pendidikan)

Posting Komentar

0 Komentar