Perubahan Setengah Hati, Tidak Bersolusi


TintaSiyasi.com-- Gelombang hijrah dan kesadaran umat pada penerapan syariah Islam secara kaffah semakin menggelora  dari waktu ke waktu. Syariat Islam sudah menjadi kenikmatan lahir dan batin pada diri umat saat ini. Demikian pula dengan khilafah yang telah menjadi perbincangan hangat yang jamak dipercaya akan dapat membawa kepada harapan baru Islam.

Fakta lain juga memperlihatkan bahwa kesadaran politik umat terus menguat. Hal ini ditunjukkan dari fenomena Aksi Bela Islam 212 yang menghadirkan tidak kurang dari tujuh juta kaum Muslim. Umat sangat rindu persatuan hakiki untuk kebangkitan dan perubahan bagi negeri ini. Belum lagi banyaknya gelombang hijrah dari para pengusaha, artis, ilmuwan bahkan non-Muslim pun berlomba-lomba menjadi muallaf dan merindukan penerapan Islam.

Sungguh hal ini semakin menampakkan bahwa Islam satu-satunya yang mampu menyelamatkan manusia dari kesempitan dunia dan kesempitan hidup, serta selalu dirindukan kepemimpinannya. Maka, sudah saatnya umat ini memiliki agenda sendiri yang tidak boleh berkompromi dengan sistem apapun yang berasal dari ideologi Barat penjajah, yang penuh dengan kepura-puraan dan jauh dari harapan memberikan kebaikan dan keselamatan di negeri ini dan di berbagai belahan dunia Islam.

Maka, melihat keadaan saat ini, umat harus bersegera bangkit dari keterpurukan yaitu dengan  menyongsong kebangkitan agar dapat menjalankan kehidupan Islam. Untuk bangkit tidak ada jalan lain kecuali dengan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan generasi awal kaum Muslimin. Bukan dengan mengikuti aturan yang disodorkan pihak asing. Komunisme telah gagal, kapitalisme telah menghancurkan negeri ini dan dunia. Tidak ada pilihan lain kecuali kembali kepada Islam secara kaffah.

Mayoritas umat sepakat bahwa kondisi umat saat ini dalam keadaan tidak baik. Kondisi buruk masih menyelimuti umat yang membawa kepada malapetaka yang terus mendera. Terlebih di masa pandemi saat ini, banyaknya korban meninggal, keterpurukan ekonomi sehingga menyebabkan tingginya kemiskinan, kriminalitas, dan kelaparan akibat ketidakbecusan penguasa mengurusi rakyat. 

Sudah banyak pihak yang tidak percaya rezim sekarang akan bisa mengubah keadaan negeri ini menjadi baik. Utang luar negeri yang kian bertambah, korupsi tidak berkurang, dan pesimis untuk diselesaikan. Biaya layanan publik terus mahal, ketidakadilan hukum makin tampak, bahkan hukum dikendalikan penguasa. Siapa yang ditangkap, siapa yang dibiarkan, tergantung kepentingan penguasa. Ulama dan aktivis yang lantang mengkritik kebijakan penguasa, cepat ditangkap. Penguasa menebar ketakutan bagi siapa saja yang kritis. Kondisi buruk ini, sudah saatnya untuk tinggalkan. Saatnya untuk meninggalkan aturan yang telah menimbulkan malapetaka itu.

Sumber masalahnya bukan saja pada sosok penguasa, melainkan pada sistem politik pemerintahannya. Demokrasi bukanlah sistem politik ideal, meskipun diyakini akan berpihak kepada kepentingan rakyat, karena dideklarasikan sebagai sistem hukum yang berasal dari kehendak rakyat, dan dijalankan untuk kepentingan rakyat, yang penguasanya dipilih rakyat. Nyatanya sejak sistem ini dilahirkan, kehidupan dunia tidak pernah aman dan sejahtera.

Tidak ada satu pun negara yang menggunakan demokrasi —termasuk adidaya— yang menorehkan tinta emas sebagai pembentuk peradaban dunia yang beradab dan berkeadilan. Kesengsaraan rakyat dan kegagalan negara demokrasi adalah bukti kepentingan manusia tidak diatur dengan hukum yang benar. Demokrasi, sistem politik buatan manusia terbukti secara nyata menyengsarakan kehidupan rakyat.

Menyelesaikan masalah ini harus dimulai dari akarnya. Jika suatu pohon sudah terlihat mau roboh dan akarnya sudah rapuh, maka yang dilakukan adalah merobohkan dan mengganti dengan pohon baru. Sama halnya dengan saat ini, dengan kerusakan yang terjadi dalam segala aspek. Maka, kita perlu mencari sistem arah pandang hidup yang benar. Islam adalah sebuah ideologi. Dalam Islam memandang dunia ini dengan alam sebelum dan setelah dunia ada keterikatan. Allah bertindak sebagai Al-Khaliq dan Al-Mudabbir.

Oleh karena itu, dalam membuat sistem aturan di negeri, wajib atas dasar bagaimana Allah memandang.  Islam memiliki sistem pemerintahan sendiri yakni khilafah. Sistem pemerintahan ini berdasarkan keimanan kepada Allah, dan aturan yang dibuat sumbernya berdasar kepada Al-Qur'an dan as-Sunnah. Seorang pemimpin dalam Islam akan senantiasa memutuskan masalah dengan menjadikan Islam sebagai acuan. Sedangkan akal manusia dipakai untuk memahami masalah dan memikirkan penyelesaian yang sesuai dengan Islam.

Perubahan yang hakiki tidak akan terjadi, manakala kita terdiam membisu. Perubahan itu hanya akan terwujud jika kita mengambil pandangan hidup yang benar, serta aturan yang benar. Dengan demikian, hanya Islam yang bisa kita ambil untuk meraih hidup yang hakiki. Dengan dasar Islam kita menjadikan negeri ini beriman dan bertakwa kepada Allah. Aturan Islam dilaksanakan dengan sempurna, dalam setiap aspek kehidupan.


Tak Perlu Ragu Menyuarakan Kebenaran

Memang tidak mudah meyakinkan umat Islam untuk kembali pada Islam. Pasalnya, racun kapitalisme telah masuk merasuki pemikiran umat saat ini. Sehingga diperlukan mengerahkan segenap daya dan upaya untuk memperjuangkannya. Tidak  perlu ragu menyuarakan perubahan hingga ke dasar, karena perubahan hakiki hanya diperoleh dengan perubahan yang benar. Dan itu adalah Islam.

Patut dipahami di sini, bahwa perubahan itu terjadi tidak cukup dengan mengganti pemimpin, atau  hanya mengganti konstitusi dengan syariat Islam, tanpa mengubah tatanan atau konstelasi global. Dua hal utama yang harus ada pada negara Islam adalah yang pertama, pemerintahannya hanya menerapkan syariat Islam, tidak yang lain.  Dan yang kedua, keamanannya berasal dari tentara Muslim, sandaran kekuatannya berasal dari dalam negeri, dari dukungan umat dan militer. Jika tidak demikian, negeri Muslim meskipun dalam negerinya bisa menerapkan syariat Islam,  namun hubungan luar negerinya tidak  independen, tetap berhubungan dengan negara adidaya maka tidak mungkin arah perubahan hakiki bisa terwujud.

Jadi, negara Islam Khilafah itu adalah negara adidaya baru yang berhasil melemahkan adidaya lama sekuler yang menjadi sebab kesengsaraan umat dan dunia. Dengan penerapan syariat Islamnya dan dengan kekuatan yang independen.

Walhasil, mendakwahkan perubahan hakiki yakni mewujudkan tegaknya khilafah sebagai negara adidaya baru yang mengatur peradaban dunia dengan syariat Islam adalah satu-satunya bentuk komitmen serius dari umat untuk mengubah kezaliman menjadi kesejahteraan dan kemuliaan. []


Oleh: Ani Susilowati, S.Pd.
(Aliansi Penulis Rindu Islam)

Posting Komentar

0 Komentar