Penghinaan terhadap Rasulullah SAW Terus Berulang, Islam Butuh Junnah

TintaSiyasi.com-- Dilansir dari Republika.co.id, Pakar Hukum Pidana, Suparji Ahmad, mengatakan, ucapan YouTuber Muhammad Kece (MK) yang menyinggung Nabi Muhammad SAW menjurus pada penistaan agama. Menurutnya, tindakan MK telah memenuhi unsure 156a KUHP. “Jadi kalimat (MK yang mengatakan) ‘ siapa yang pembunuh, siapa yang perang badar, itu Muhammad. Muhammad bin Abdullah adalah pemimpin perang badar dan uhud, membunuh dan membinasakan. Jelas ya pembunuh adalah iblis’ sudah memenuhi unsure penodaannya, “Kata Suparji melalui keterangan tertulis kepada Republika, Ahad (22/08/2021).

Rasulullah bukan sembarang makhluk. Beliau memiliki kepribadian agung yang memiliki banyak keistimimewaan. Rasulullah adalah sosok manusia yang dikenal sebagai khairun naas. Pembawa risalah untuk seluruh alam. Sungguh Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk nabi. Ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (TQS Al-Ahzab[33] : 56).


Penghinaan terhadap Rasulullah Terus Berulang

Penghinaan terhadap Rasulullah bukan pertama kali terjadi, terus berulang. Jauh sebelum itu, demonisasi (setanisasi) terhadap Islam secara sistematis dikembangkan dalam studi orientalisme pada abad pertengahan yang berkembang di Barat. Kajian ini dilakukan oleh para cendekiawan Barat dengan gereja sebagai penggerak utamanya. Nyata, pemerannya  bukan orang-orang dungu. Kebencian terhadap Islam tampak dari julukan mereka menyebut Rasulullah SAW dengan sebutan “Mamed, Mawmet, Mahoun, Mahun, Mahomet, Mahon, Machmet” yang semua kata itu memiliki makna satu, yakini setan (devil). Salah satu tujuan orientalisme adalah menghancurkan kekhilafahan Islam  lewat perang pemikiran dan budaya. Setelah mereka gagal dalam perang fisik. 


Berjuang Mewujudkan Tameng

Berulangnya penghinaan ini tentu disebabkan tidak adanya hukuman yang tegas. Mengenai penghinaan terhadap Rasulullah, Ajengan YRT Khadim Ma’had Khadimu Sunnah Bandung dalam Channel Ngaji Subuh menjelaskan, ‘Imam al-Qadhi ‘Iyadh dalam kitabnya, al-syifa, menyatakan ijmak bahwa orang yang melecehkan Nabi Muhammad hukumnya haram dan orang yang melakukannya wajib di hukum mati. Hukum dan hukuman ini diambil dari ayat-ayat Al-Qur'an maupun ijmak para sahabat Nabi. Al-Qadhi ‘Iyadh juga menuturkan bahwa disamping berdasarkan ijmak, hukuman atas orang yang menghina Nabi Muhammad juga berdasarkan qiyas. Karena perbuatan menyakiti hati Rasulullah atau mengurangi derajatnya menunjukkan bahwa pelakunya merupakan orang yang sakit hatinya dan sekaligus termasuk bukti keburukan niat dan kekafirannya.

Tanpa tameng (junnah), penghinaan terhadap Islam, Al-Qur’an dan terhadap Rasulullah SAW akan terus berulang. Tentu junnah yang dimaksud adalah khalifah dalam sitem Islam yaitu khilafah. khilafahlah  secara nyata akan menghentikan semua penghinaan itu, serta melindungi kehormatan Islam dan umatnya. Hal ini sebagaimana pernah ditunjukkan oleh Khalifah Abdul Hamid II terhadap Prancis dan Inggris yang hendak mementaskan drama karya Voltaire. Sebuah drama  penghinaan terhadap  Nabi Muhammad SAW. Dengan penuh ketegasan sang khalifah  akan mengobarkan jihad melawan Inggris dan Prancis kala itu. Hasilnya, mampu menghentikan rencana jahat itu. Dan kehormatan Rasulullah SAW tetap terjaga. Hal ini sesuai dengan yang disabdakan oleh baginda Rasulullah SAW:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu  junnah perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan lain-lain).

Sistem khilafah ala minhajin nubuwwah, sistem yang mengikuti metode kenabian. Sistem ini akan kembali dengan izin Allah, tanpa melihat apakah kita ikut atau tidak memperjuangkannya. Namun suatu kerugian besar bila kita tidak ikut serta memperjuangkannya. Karena kita akan kehilangan kesempatan mendapatkan pahala berjuang di jalan Allah SWT. Bahkan terancam mati jahiliyah sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851). Wallahu a'lam. []


Oleh: Trisnawaty Amatullah
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar