Penghinaan Agama Berulang, Negara Gagal Menjaga Agama

TintaSiyasi.com-- Akhir-akhir ini dunia sosmed dihebohkan oleh seorang youtuber yang mengaku bernama Muhamad Kece berasal dari Jawa Barat. Dia sudah terlalu berani menghina Nabi Muhammad SAW dengan kata-kata kotor sehingga membuat umat meradang dengan kata-kata penghinaan kepada manusia suci yang malaikat bershalawat padanya bahkan Sang Pencipta Allah SWT pun bershalawat atasnya sebelum menciptakan alam semesta ini.

Seperti dikutip diberbagia media social seperti Republika edisi 14 Muharam 1443/26 Agustus 2021, yang tidak perlu penulis paparkan secara rinci bagaimana bunyi penghinaan seorang Kece, karena menyebarkan ucapan kebencian yang disampaikan seseorang terhadap Nabi Muhammad SAW hukumnya haram, Intinya bahwa dia membenci Nabi serta ajarannya. Namun beginilah negara demokrasi hanya akan ditangkap dan dijatuhi hukum pidana penjara selama 5 tahun, yang disampaikan oleh Pakar Hukum Pidana, Suparji Ahmad karena termasuk pelanggaran menurutnya, tindakan MK telah memenuhi unsur 156a KUHP.

Peristiwa seperti ini terus berulang baik di dalam mau pun di luar negeri dengan bentuk yang berbeda namun inti yang mereka sampaikan sama, yakni menghina ajaran agama Islam bahkan sampai berani menistakan manusia suci sebagai penghulu para nabi dengan lisannya, yakni Nabi Agung Muhammad SAW. Beberapa waktu yang lalu ada peristiwa pembakaran bendera tauhid yang tidak ada hukuman apapun terhadap pelakunya, karikatur tentang Nabi Muhammad di Perancis majalah Charlie Hebdo, 30 Oktober 2020 yang lalu juga tidak ada hukum yang menjerat pelakunya. Peristiwa seperti ini pasti terus berlangsung yang akan menimbulkan kegaduhan dan perpecahan karena semakin banyak youtube yang akan dibuat oleh orang-orang semacam MK. Karena ternyata sudah banyak dia membuat pernyataan-pernyataan kotor seperti itu. 

Didukung dengan undang-undang kebebasan melakukan pendapat dalam undang-undang demokrasi adalah pintu bagi siapapun untuk menjadi pribadi ganda yang akan menyuburkan praktek seperti yang dilakukan oleh MK, karena secara data tidak bisa langsung dilacak. Selain mengaku murtadin  seorang MK ternyata mempunyai bukti memeluk dua agama, dari penelusuran redaksi Hops.id, dari berbagai sumber Muhammad Kece diketahui memiliki dua agama. Ini juga salah satu sumber permasalahan juga akan berulangnya kasus penistaan agama dan yang paling menjadi sumber utama adalah negara tidak bisa menjaga aqidah umat, kasus MK adalah wakil dari ratusan kasus yang terjadi.

Kenapa penistaan ini terus berulang mulai dari ucapan, simbul dan panji Rasulullah dipermainkan oleh segelintir manusia tidak waras yang berteriak lantang dan negara sangat lamban meresponnya.  Ini adalah bukti kegagalan sistem negara kapitalisme untuk menjaga kehormatan agama karena masyarakat dan sistem yang diemban mengadopsi hukum demokrasi liberalisme, Undang Undang yang diterapkan  tidak bisa mencegah berulangnya kasus seperti itu, karena dalam hukum liberalisme demokrasi tidak menimbulkan efek jera kepada pelaku kejahatan, serta hukum hanya tajam ke bawah tumpul ke atas. 

Sampai kapanpun negara atau pemerintah tidak akan bisa mencegah berulangnya penistaan terhadap ajaran agama jika sistem Islam tidak ditempatkan sebagai ideologi sumber konstitusi dan perundangan. Inilah bukti kerendahan sistem demokrasi yang tidak memberi peran dan solusi terhadap umat.

Sangat berbeda dengan sistem Islam, bagaimana penerapan sistemnya sangat tegas, bijaksana dan pasti bersolusi membahagiakan jiwa. Tidak akan ada yang berani melakukan penistaan terhadap Nabi sebagai pembawa kebenaran dari Allah SWT, bahkan agama karena hukumannya sangat tegas. Akidah umat senantiasa dijaga, di setiap pundak kaum Muslimin ada kewajiban untuk senantiasa talabil ilmi sehingga umat jadi cerdas dan  apa yang dilakukan harus sesuai dengan syariat, serta senantiasa memelihara dan mengokohkan akidah. Islam mengemban hukum syara’  yang mempunyai konsekuensi tegas dan solusi cemerlang, yang berasal dari Al-Qur'an dan As-sunnah sehingga hal penistaan agama seperti saat ini tidak akan ada. 

Islam senantiasa menjaga keimanan terhadap keyakinan mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul, sehingga berprasangka buruk saja hukumnya haram.  Imam Al Qodhi ‘Iyad dalam kitabnya Al Syifa mengatakan ijma bahwa orang yang melecehkan Nabi Muhammad SAW hukumnya haram dan orang yang melakukannya wajib dihukum mati, selain ijma hukum atas orang penghina Rasulullah juga berdasarkan Qiyas. Sehingga orang seperti MK sudah melakukan penghinaan secara nyata sehingga harus dihukum mati. Hukum Islam bertindak tegas sehingga menimbulkan  efek jera serta menyelamatkan bagi pelakunya. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Marsitin Rusdi
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar