Penangkapan Sepuluh Mahasiswa UNS Saat Bentangkan Poster Kritik, Prof. Suteki: Gawat Bingiiitz!



TintaSiyasi.com-- Merespons penangkapan sepuluh mahasiswa UNS yang membentangkan poster bernada kritik saat menyambut kunjungan Presiden Jokowi di Universitas Negeri Surakarta (UNS), Solo, Senin (13/9/2021), Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum. menilai tindakan tersebut sebagai sesuatu yang gawat bingiiitz (banget). 

"Gawat! Gawat bingiiitz! Ungkapan yang pas untuk menggambarkan karakter represifnya aparat terhadap rakyatnya sendiri, dalam hal ini mahasiswa," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Selasa (14/9/2021). 

Pakar Hukum dan Masyarakat ini mengungkapkan, tak ada kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa yang membentangkan poster tersebut. 

"Tidak ada, kecuali dianggap salah oleh rezim yang sangat takut dengan aspirasi berupa kritik, baik dalam bentuk lisan dan tulisan, seperti spanduk, mural, dan lain-lain," ujarnya. 

Prof. Suteki menyampaikan, poster hanyalah media. Terlebih poster tersebut tidak berisi ujaran kebencian, hoaks atau kalimat jahat lainnya. 

"Lalu salahnya di mana? Semua dijamin oleh konstitusi sebagai hak asasi manusia. Boleh dibatasi tetapi tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang," bebernya. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, mahasiswa itu dikenal sebagai the agent of change, bahkan the leader of change. Menurutnya, jika mereka mau, pasti rakyat berada di belakangnya karena mereka boleh dikatakan miskin pamrih, sepi ing pamrih tapi rame ing gawe. 

"Kita masih berharap, mereka menjadi corong perlawanan atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan rezim penguasa. Jangan disumbat! Jangan dibungkam karena mereka akan mencari jalannya sendiri," imbuhnya.  

Ia memaparkan bahwa revolusi dan reformasi dapat dimulai dari kampus yang dimotori oleh mahasiswa. Menurutnya, kampus dapat bangkit sebagai pilar civil society yang mendambakan pencarian kebenaran, keadilan dan kesetaraan, tentu saja dengan keadaban sekaligus menerjang barisan pecundang demokrasi. 

Selain itu, ia menyebut bahwa mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan, pemegang estafet tanggung jawab negeri yang mengaku demokrasi. Di mana pembungkaman kebebasan akademik hanya akan berakhir menambah deret angka terbunuhnya demokrasi. 

"Wahai Mahasiswa,  saya yakin Anda tidak begitu. Anda mesti punya prinsip hidup, live oppressed or rise up against! Menciduk mereka hanya akan berakhir pada penguatan perlawanannya, perlawanan melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan rezim penguasa," tandasnya. [] Puspita Satyawati

Posting Komentar

0 Komentar