Pemuda Pejuang SDGs atau Islam?

TintaSiyasi.com-- Apa itu SDGs? SDGs yang berisi 17 Tujuan dan 169 Target yang merupakan rencana aksi global dari PBB untuk 15 tahun ke depan (berlaku sejak 2016 hingga 2030), guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDGs berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa kecuali memiliki kewajiban moral untuk mencapai Tujuan dan Target SDGs. SDGs dirancang dengan melibatkan seluruh aktor pembangunan, baik itu Pemerintah, Civil Society Organization (CSO), sektor swasta, akademisi, dan sebagainya. Serta warga di seluruh dunia juga diajak untuk berkontribusi terhadap Tujuan dan Target SDGs. Dengan prinsip tidak meninggalkan satu orangpun (No One Leave Behind) maka program ini memperhatikan dua hal yaitu; Keadilan Prosedural yaitu sejauh mana seluruh pihak terutama yang selama ini tertinggal dapat terlibat dalam keseluruhan proses pembangunan dan Keadilan Subtansial yaitu sejauh mana kebijakan dan program pembangunan dapat atau mampu menjawab persoalan-persoalan warga terutama kelompok tertinggal (www.sdg2030indonesia.org).

Indonesia sebagai negara yang juga turut mengesahkan program tersebut bertanggung jawab untuk melaksanakan semua tujuan SDGs di setiap wilayahnya dan dalam setiap kebijakan yang diambil. Bahkan program tersebut selaras dengan RPJM pemerintah sebagai bagian dari tujuan pembangunan nasional. Sehingga akan mudah bagi kita menemukan perpanjangan program ini hingga ke level desa.


Pemuda dan SDGs 

Dengan prinsip no one leave behind, program ini memberdayakan seluruh potensi demi mewujudkan  tujuannya, termasuk diantaranya adalah pemuda. Hubungan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs) dengan pemuda sangat erat. Pemuda adalah penguasa ruang publik maya, sosok yang memiliki energi besar untuk menjadi penggerak, sosok yang punya pengaruh besar dalam perubahan kebijakan, penguasa digital dan teknologi, mereka yang punya idealisme kuat untuk diarahkan, sosok dengan wawasan lebih luas dan akses pendidikan tak terbatas, yang memiliki kekuatan menciptakan tren dan gaya hidup baru serta menjadi penggerak ekonomi Indonesia.

Harapan bertambah dengan munculnya peluang demografi. Lebih dari 70 persen penduduk Indonesia akan didominasi oleh usia produktif (15 – 64 tahun) dengan puncak pada tahun 2030. Peran itu bisa memiliki banyak bentuk, mulai dari membangun komunitas, mendirikan start-up, berprestasi di kancah internasional, membuat sebuah inovasi di bidang sains dan teknologi, dan lainnya (Kompas.com, 07/06/2021).


Relasi antara SDGs, Pemuda, dan Kalimantan Selatan

Indonesia dengan segala potensi geografisnya, Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia yang melimpah. tak heran menjadi incaran berbagai pihak. Setiap wilayahnya pun memiliki potensi yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Kalimantan Selatan adalah salah satunya. Wilayah dengan latar historis sebagai salah satu kerajaan Islam terbesar yaitu kerajaan Banjar memiliki jumlah penduduk sekitar  4 juta lebih. Potensi alam yang dimiliki oleh kalsel juga luar biasa, bahan galian seperti batubara dan bijih besi merupakan komoditi unggulan yang menjadikan sektor pertambangan menjadi salah satu leading sector dalam menopang perekonomian Kalimantan Selatan. Selain batubara dan bijih besi, Kalimantan Selatan juga dikenal sebagai produsen intan terbesar di Indonesia. Pendulangan dan penggosokan intan dapat dijumpai di Kota Martapura, Kabupaten Banjar. Ditambah dengan posisi Kalsel sebagai gerbang ibukota baru, maka daerah ini tak luput menjadi sasaran program SDGs. 

Dari 4 juta lebih penduduk kalsel lebih dari separuhnya adalah penduduk usia produktif. Kurang lebih 2 juta penduduknya berusia antara 15 hingga 59 tahun. Artinya lebih dari separuh penduduk Kalsel adalah pemuda. Maka pemberdayaan atas mereka adalah hal yang memungkinkan untuk dapat melaksanakan proyek ini. 

Peran yang diletakkan kepada pemuda adalah sebagai mitra sekaligus pekerja demi tercapainya agenda ini. Pemuda diposisikan bukan sebagai rakyat yang diurusi tetapi mereka dituntut untuk mengurus dirinya sendiri dengan membangun potensi dan iklim dunia kerja secara mandiri. Dua tujuan SDGs yang menjadi fokus adalah terkait pendidikan dan pekerjaan.

Tujuan 4 SDGs menyerukan pendidikan berkualitas yang inklusif dan adil menuju transisi angkatan kerja dan pekerjaan yang layak. Pendidikan dasar dan menengah harus dilengkapi dengan pendidikan teknis, kejuruan, dan tersier yang menyediakan keterampilan bagi pemuda agar siap bekerja dan wirausaha.

Tujuan 8 SDGs mengontekstualisasikan promosi pekerjaan yang layak bagi pemuda dalam meraih pertumbuhan ekonomi yang stabil. Secara khusus, kaum muda harus memperoleh pendidikan dan keterampilan yang dibutuhkan agar mampu berkontribusi dalam ekonomi produktif. Mereka membutuhkan akses ke pasar kerja yang dapat menyerap mereka ke dalam angkatan kerja. Dalam bingkai SDGs, pemuda hendak dioptimalkan kemampuannya untuk mengubah dunia menjadi lebih baik (www.un.org).

Semakin tampak pada kebijakan yang muncul seperti bantuan kewirausahaan seperti UMKM dan akses pengembangan ke pasar digital. Pengembangan LSM dalam rangka pemberdayaan perempuan. Dan beragam program pelatihan-pelatihan demi mendorong usaha-usaha mandiri para pemuda. Dan saat ini sekolah-sekolah kejuruan menjadi salah satu favorit, karena diharapkan ketika lulus sekolah mereka siap terjun ke lapangan pekerjaan. Sungguh miris ketika para pemuda ini dibentuk hanya sebagai pekerja semata sementara SDA di wilayah ini berlimpah ruah.


Distorsi Peran Pemuda dalam Perubahan Dunia

Sangat disayangkan jika potensi luar biasa pemuda sebagai agen perubahan hanya diarahkan pada sektor perekonomian semata. Dalam kacamata kapitalis, seseorang selalu diukur dengan nilai ekonomi yang mampu dihasilkannya. Dan SDM adalah salah satu modal dalam menggerakkan ekonomi. Mereka diekploitasi dalam rangka untuk menjadi pekerja dengan upah murah dan sebagai konsumen untuk bisnis para kapital. 

Tujuan untuk meraih kesejahteraan, pengentasan kemiskinan dan pendidikan yang merata ala SDGs sejatinya hanyalah topeng semata. Program ini dijalankan agar kontrol kapital dunia atas kebijakan negara-negara pengekor terus sejalan dengan tujuan mereka. Khususnya negeri-negeri Muslim, yang potensi alam dan manusianya berlimpah tetapi pemikirannya telah dijajah oleh kapitalisme. Program ini dibuat dalam rangka menutupi semua kebusukan dan kerusakan yang telah mereka buat. Sejatinya kapitalisme telah menghadapi kehancurannya ketika persoalan yang mereka ciptakan diselesaikan dengan persoalan lainnya.

Peran pemuda telah terdistorsi. Orientasi hidup mereka saat ini diarahkan pada kehidupan yang materialistis, sekuler dan liberal. Mereka berlomba-lomba untuk mengejar kebahagian materi tanpa mengindahkan aturan agama. Sehingga muncullah para pemuda labil, yang tidak memiliki standar jelas dalam pengambilan keputusan. Kasus penyertanya pun bermunculan, dari meningkatnya kasus bunuh diri, penggunaan narkoba, seks bebas dan beragam tindak kriminal lainnya sebagi dampak dari pemikiran yang telah rusak.


Peran Pemuda dalam Islam

Dalam Islam pemuda adalah pemain utama dalam kebangkitan Islam. Mereka dididik dengan semangat dakwah dan jihad. Dibentuk untuk menjadi pemimpin yang akan menyebarkan Islam keseluruh dunia. Bukan sebagai tenaga kerja tetapi sebagai panglima-panglima perang yang akan ditakuti oleh seluruh musuh-musuh Islam. 

Di sisi lain, kebangkitan ideologi Islam adalah keniscayaan masa depan. Dalam The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996), Samuel Huntington memprediksi benturan peradaban yang paling keras akan terjadi antara kebudayaan Kristen Barat dan kebudayaan Islam. Bangkitnya umat Islam yang bersatu dalam naungan Khilafah Islam merupakan lonceng kematian bagi Barat. Wajar jika Barat berusaha mencegah kebangkitan umat Islam dengan membajak peran pemudanya.

Untuk menuju perubahan, butuh hadirnya partai politik Islam ideologis. Perubahan yang digagas secara individual tidak kompatibel dengan kerusakan yang bersifat mendasar dan sistemis. Rasulullah SAW memulai perubahan dengan mengorganisir para pemuda yang beriman secara sistematis dari rumah Arqam bin Abu al-Arqam. 

Model kelompok berbasis pemikiran yang diyakini oleh anggotanya, serta berupaya mewujudkan di tengah kehidupan, sesuai dengan definisi partai politik. Maka, keterlibatan pemuda dalam partai politik Islam ideologis ini adalah satu keniscayaan untuk melahirkan perubahan hakiki dengan meninggalkan sistem kapitalisme yang telah gagal menyejahterakan umat manusia (www.muslimahnews.com). []


Oleh: Ummu Nafaya
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar