Menjadi Al-Khansa Akhir Zaman

TintaSiyasi.com-- Pernah dengar kata-kata bijak, "Di balik laki-laki yang hebat, terdapat ibu yang hebat pula". Ini bisa jadi amunisi bagi para wanita untuk mendorong dirinya agar mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang benar dan baik sesuai syariat Islam. Setiap ibu pasti bangga jika anaknya menjadi orang yang hebat dan berakhlak baik. Ibu adalah wanita yang selalu menginginkan kebaikan untuk anak-anaknya, ibu akan melakukan apapun demi buah hati tercinta.

Pada masa kejayaan Islam dari zaman Rasulullah hingga Turki Utsmani, selain Ummul Mukminin, yaitu para istri Rasulullah, ternyata banyak tokoh ibu yang berada di balik kisah para pejuang Islam. Mereka adalah para ibu yang memiliki jiwa besar dalam mendidik anak-anak mereka, salah satunya adalah Al-Khansa Tumadhar binti Amr bin al-Harits, Ibu Para Mujahid. Al-Khansa adalah sosok shahabiyah yang mempersembahkan keempat putranya sebagai para syuhada, sehingga ia digelari "ibu para syuhada". Al-Khansa mendidik anak-anaknya untuk berani maju ke medan perang untuk melawan musuh-musuh Islam demi mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.

Suatu ketika keempat putra Al-Khansa berdebat karena saling tunjuk siapa yang akan menjaga ibunya di rumah agar yang lain dapat berangkat ke medan perang melawan tentara Persia. Tanpa sadar, ternyata Al-Khansa mendengar keributan itu dan berkata kepada keempat putranya.

"Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan dan berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya, kalian adalah putra-putra dari seorang lelaki dan dari seorang perempuan yang sama. Jika kalian melihat perang di jalan-Nya, singsingkanlah lengan baju kalian dan berangkatlah. Majulah hingga barisan depan, niscaya engkau akan mendapatkan pahala di akhirat, tepatnya di negeri keabadian. Berangkatlah kalian dan bertempurlah hingga syahid menjemput kalian".

Al-Khansa meridhai keempat anaknya untuk pergi ke medan perang untuk membela agama Allah, melawan musuh-musuh Islam. Keempat anaknya berangkat menuju medan perang dan banyak mengalahkan tentara Persia. Tak lama kemudian, Al-Khansa mendengar kabar bahwa keempat putranya telah syahid. Namun bukan air mata deras yang keluar, melainkan ucap syukur kepada Allah karena telah memberikan kemuliaan kepada keempat anaknya yakni gugur dalam keadaan syahid. Al-Khansa berdoa kepada Allah agar secepatnya dipertemukan kembali dengan anak-anaknya di dalam surga firdaus yang begitu luas.

Begitu indah cara Al-Khansa mendidik keempat anaknya. Beliau menekankan kepada keempat anaknya bahwa kehidupan akhirat lebih baik dari pada kehidupan di dunia, sehingga mati syahid adalah jalan terbaik untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.

Berbeda dengan hari ini, ketika banyak wanita atau para ibu yang lebih memilih untuk berkarir dari pada mengurus anak. Bahkan belakangan ini kelompok feminis kembali mengeluarkan istilah "childfree". Childfree adalah pilihan yang diambil oleh pasangan suami istri untuk tidak memiliki anak dan lebih memilih untuk berkarir. Pilihan ini dilakukan dengan kesadaran penuh. 

Alasan mereka yang memilih childfree pun begitu logis secara akal manusiawi, salah satunya  alasan takut salah mendidik anak, yang nantinya akan menimbulkan masalah baru. Padahal dalam Islam, mendidik anak bukan hanya sekadar mendidik, tetapi juga berdasarkan kecintaan ibu kepada Allah yang telah memberikan amanah berupa anak. Maka ibu akan menjaga dan mendidik anak dalam ketaatan kepada Allah. Tentu jika semua dilakukan karena Allah, tidak ada orang tua yang menganggap anak adalah beban dan sumber permasalahan.

Dalam Islam, seorang ibu adalah pendidik pertama untuk anak-anaknya. Bahkan Allah telah menetapkan fitrah wanita adalah melahirkan dan menyusui. Allah juga menunjukkan kebesaran dan kasih sayangNya kepada manusia yang tergambar dari rahim seorang ibu ketika mengandung anaknya. Maka seharusnya karir terbesar seorang wanita adalah mendidik anak-anaknya menjadi generasi Qur'ani yang kelak akan menjadi generasi yang siap membela agama Allah.  Maka jelas bahwa childfree adalah pemikiran yang salah, pemikiran yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Karena pemikiran semacam ini lahir dari sistem yang rusak dan akan melahirkan generasi yang rusak pula.

Sebagaimana Al-Khansa dalam mendidik keempat putranya, seorang ibu juga harus mengambil peran dalam mencetak generasi yang tunduk kepada perintah Allah. Maka para ibu, jadilah sosok Al-Khansa di akhir zaman yang mengajak anak-anak kita untuk patuh kepada Allah dan RasulNya, serta mengajarkan kepada anak bahwa kehidupan akhirat lebih baik dari pada kesenangan dunia yang menipu, juga mendidik anak-anak kita dengan tuntunan yang telah Allah sediakan dan dengan meneladani Rasulullah SAW dalam mendidik anak. Tidak hanya itu, hari ini kita hidup di dalam sistem yang menjauhkan anak-anak dari pemikiran Islam, kita juga harus ikut andil untuk mengembalikan pemikiran-pemikiran Islam di tengah-tengah umat. 

Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (TQS. Muhammad: 7).

Ibu juga harus ikut serta dalam mendakwahkan pemikiran-pemikiran Islam, menolong agama Allah dengan menyelamatkan generasi Islam dari pemikiran dan gaya hidup kapitalisme sekuler liberal. Dengan begitu semoga Allah juga membalas dengan memberikan pertolonganNya berupa kemudahan dalam mendidik anak-anak kita. Sehingga tercetak generasi Qur'ani yang siap membela agama Allah, generasi Islam yang siap melanjutkan estafet dakwah Rasulullah demi tegaknya kembali Islam secara kaffah. Allahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Annisa  Alawiyah
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar